Istimewa

Pertarungan tafsir ini menjadikan proses penetapan gelar bukan sekadar urusan administratif, tetapi juga soal pesan simbolik: bagaimana negara ingin diingat dalam kaitannya dengan masa Orde Baru dan agenda Reformasi 1998.

Tiga Kemungkinan Arah Keputusan

Hingga 6 November 2025, Dewan Gelar belum mengumumkan hasil final. Sejumlah skenario mengemuka di ruang publik:

Soeharto tetap ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.

Presiden Prabowo Subianto bisa mengikuti rekomendasi Dewan Gelar dan menandatangani keputusan tersebut. Namun langkah ini berpotensi memicu gelombang protes, terutama dari korban dan aktivis HAM yang melihatnya sebagai penyimpangan dari semangat Reformasi.

Usulan ditunda.

Pemerintah dapat memilih menunda keputusan dengan alasan rekonsiliasi sosial dan perlunya pendalaman kajian. Opsi ini bisa meredakan ketegangan jangka pendek, tetapi juga dinilai sebagian pihak sebagai “bom waktu” yang sewaktu-waktu dapat kembali meledak.

Nama Soeharto dicoret dari daftar tahun ini.

Pemerintah dapat mencoret Soeharto dari paket calon pahlawan 2025 demi menghormati korban pelanggaran HAM dan menghindari polarisasi tajam di awal pemerintahan. Namun pilihan ini berisiko mengecewakan partai pendukung dan kelompok pro-Orde Baru yang menganggap jasa Soeharto belum cukup diapresiasi.

Di tengah tarik-menarik ini, perdebatan tentang Soeharto jelas melampaui sosok itu sendiri. Isu ini menyentuh cara bangsa memandang rekonsiliasi, keadilan, dan arah Reformasi ke depan — apakah luka masa lalu akan dihadapi dengan pengakuan dan pertanggungjawaban, atau perlahan dikaburkan melalui penghormatan simbolik tanpa penyelesaian yang tuntas.***