Di tengah permukiman dan kawasan industri yang terus tumbuh di Gresik, Desa Yosowilangun menyimpan ingatan tentang tiga kampung yang pernah berselisih karena air. Dalam cerita lokal, penyatuan mereka dikaitkan dengan Kyai Tumenggung Brotonegoro.
KOSONGSATU.ID — Jalan-jalan di Desa Yosowilangun, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, kini berada di tengah perubahan cepat. Permukiman tumbuh, kawasan industri bergerak di sekitarnya, dan bentang sawah yang dahulu mendominasi perlahan menyempit.
Namun, di balik wajah modern itu, Yosowilangun menyimpan cerita tentang masa ketika air bersih menjadi sumber sengketa antarkampung.
Dokumentasi sejarah desa dan tutur yang diwariskan warga menyebut wilayah Yosowilangun pada akhir abad ke-18 belum terbentuk sebagai satu desa. Kawasan itu terdiri atas sejumlah permukiman yang dalam narasi lokal disebut sebagai Kampung Dargo di bagian barat, Kampung Penjalinan di bagian tengah, dan Kampung Meduran di bagian timur.
Ketiga kampung itu disebut kerap berselisih karena keterbatasan akses terhadap air bersih. Perselisihan tidak hanya menyangkut kebutuhan sehari-hari, tetapi juga menyentuh batas penguasaan wilayah dan hubungan antarkelompok warga.
Dalam ingatan masyarakat setempat, ketegangan itu mulai mereda setelah datangnya Kyai Tumenggung Brotonegoro. Tokoh ini dikenal dalam silsilah lokal sebagai bagian dari keluarga elite pemerintahan Gresik pada masa itu.
Tiga Telaga dan Jalan Damai
Kyai Tumenggung Brotonegoro disebut datang ke kawasan Manyar untuk menyebarkan ajaran Islam. Pada saat yang sama, ia menghadapi masyarakat yang masih menjalankan sejumlah praktik kepercayaan lokal.
Di tengah ketegangan antarkampung, persoalan air menjadi salah satu masalah paling mendesak. Dalam cerita yang dicatat dalam dokumen desa dan diwariskan warga, Brotonegoro kemudian menyediakan tiga titik penampungan air untuk memenuhi kebutuhan penduduk.
Telaga itu dikenal sebagai Telaga Kulon, Telaga Tengah, dan Telaga Wetan.
Dalam versi tutur lokal, mata air di ketiga telaga tersebut diyakini muncul setelah Brotonegoro menancapkan tongkatnya ke tanah. Kisah itu tidak hanya dipahami sebagai asal-usul sumber air, tetapi juga menjadi simbol upaya meredakan sengketa yang sebelumnya memisahkan warga.
Kehadiran telaga disebut membantu mengurangi ketergantungan penduduk pada sumber air tertentu. Namun, penyediaan air saja tidak dianggap cukup untuk mengakhiri potensi konflik.
Brotonegoro kemudian disebut menyatukan kampung-kampung tersebut dalam satu kesatuan permukiman yang kelak dikenal sebagai Desa Yosowilangun.
Nama Yosowilangun sendiri memiliki beberapa penafsiran. Salah satu versi lokal mengaitkan nama itu dengan kata “yoso” yang dimaknai sebagai karya atau membangun. Versi lain menghubungkannya dengan Mbah Joko Untung atau Kyai Ngabehi Yosowilangun, tokoh yang dalam narasi masyarakat disebut memiliki kaitan dengan kawasan Gunung Malang dan penataan awal wilayah Gresik.
Beragam versi tersebut menunjukkan bahwa sejarah Yosowilangun tidak hanya hidup dalam catatan tertulis, tetapi juga dalam nama tempat, makam, telaga, dan cerita yang terus diwariskan antargenerasi.
Ingatan tentang Penolakan terhadap Kuasa Asing
Selain dikenang sebagai tokoh yang menyatukan kampung-kampung, Brotonegoro juga menempati posisi penting dalam cerita kepemimpinan warga Yosowilangun.




Tinggalkan Balasan