Penelitian terbaru Badan Riset dan Inovasi Nasional mengungkap Pegunungan Meratus di Kalimantan Selatan sebagai koridor penting migrasi serta hunian manusia prasejarah sejak ribuan tahun silam.
Pegunungan Meratus ternyata menyimpan jejak panjang kehidupan manusia prasejarah yang jauh lebih kompleks dari sekadar wilayah hutan tropis. Temuan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan kawasan ini menjadi titik krusial dalam peta migrasi manusia di Nusantara dengan bukti hunian dan ritual yang diperkirakan berusia 6.000 tahun.
Peneliti Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah BRIN, Bambang Sugiyanto, menyebut Pegunungan Meratus memiliki karakteristik unik dibandingkan wilayah lain di Kalimantan. Salah satu bukti otentiknya adalah temuan gambar cadas berwarna hitam di sejumlah gua yang tersebar di kawasan tersebut.
”Temuan gambar cadas berwarna hitam di Kalimantan Selatan menjadi karakteristik unik yang berbeda dengan wilayah lain di Kalimantan,” ujar Bambang dalam Webinar Forum Kebhinekaan Seri #36, belum lama ini.
Ruang Adaptasi dan Jalur Migrasi
Berdasarkan temuan di lapangan, gua-gua di kawasan Meratus tidak hanya berfungsi sebagai tempat berlindung. Masyarakat prasejarah memanfaatkan ruang tersebut untuk berbagai kebutuhan, mulai dari lokasi penguburan hingga pusat aktivitas sosial dan kepercayaan.
Artefak berupa alat batu dan gerabah yang ditemukan menunjukkan kemampuan adaptasi manusia purba dalam mengolah sumber daya alam di sekitar Pegunungan Meratus. Selain itu, temuan tersebut memperjelas bahwa kawasan ini merupakan bagian integral dari jalur migrasi yang menghubungkan berbagai wilayah di Nusantara.
Dalam skala yang lebih luas, migrasi ini turut melibatkan wilayah Sumatra. Peneliti BRIN, Ketut Wiradnyana, menjelaskan bahwa Sumatra bagian utara menjadi jejak awal persebaran manusia melalui budaya Hoabinhian sekitar 12.000 hingga 5.000 tahun lalu.
”Beberapa pola hias tembikar memiliki kemiripan dengan tembikar dari Thailand dan Sulawesi bagian barat. Ini mengindikasikan adanya kontak budaya dan jalur migrasi antarkawasan,” kata Ketut.
Ancaman Kelestarian Situs
Di balik nilai sejarahnya yang tinggi, keberadaan situs prasejarah di Kalimantan kini menghadapi tantangan serius. Bambang memperingatkan adanya potensi kerusakan di sejumlah kawasan gua akibat aktivitas perkebunan dan pengambilan tanah budaya di sekitar lokasi situs.




Tinggalkan Balasan