Mahda Dzikara, Dosen Institut Ilmu Al-Qur’an Jakarta, menilai peluncuran buku Islam Ala Prabowo memicu beragam tafsir karena isinya tidak memuat perkataan langsung dari Presiden Prabowo Subianto.

KOSONGSATU.ID – Pernyataan tersebut mengemuka di tengah polemik buku setebal 346 halaman yang kembali memicu perbincangan di media sosial setelah sebuah unggahan viral menyoroti judul karya tersebut.

Unggahan akun Instagram @trenggaleknow pada Jumat, 4 September 2026, memantik kembali diskusi publik dan meraup 15,8 ribu suka, 12 ribu komentar, serta dibagikan hingga 21,1 ribu kali dalam waktu kurang dari 24 jam. Warganet ramai-ramai mempertanyakan penggunaan istilah agama yang disandingkan dengan nama kepala negara.

“Hah aliran apa lagi ini? Islam ‘ala’ Pak Prabowo? Ini ulama-ulama pada kenapa ya?” kata pengguna Instagram @chikifawzi di kolom komentar.

Konten di Luar Ekspektasi

Ihwal rekam jejak karya ini, peluncurannya dilakukan oleh Badan Amil Zakat Nasional atau Baznas pada 26 Agustus 2025. Proyek literasi tersebut diinisiasi oleh Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Ahmad Muzani dan Ketua Majelis Ulama Indonesia Anwar Iskandar.

Melalui epilognya, Guru Besar Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya Asep Saifuddin menyamakan semangat kepemimpinan Prabowo dengan cita-cita kemerdekaan. Ia bahkan menyinggung gaya kepemimpinan tokoh sejarah Islam, Umar bin Abdul Aziz, sebagai teladan kesejahteraan.

Namun, isi buku terbitan Atmosphere Publishing House itu dinilai berbeda dari judulnya. Penulis ulasan di situs catatanridwan.id, M. Ridwan, menyebut karya tersebut mayoritas berisi tulisan pendukung Prabowo.

“Secara keseluruhan, pembaca jangan kecewa jika yang dimaksudkan Islam ala Prabowo itu tidak sesuai dengan prediksi dan asumsi pembaca,” kata Ridwan dalam ulasannya pada 2 September 2025.

Selain itu, Mahda Dzikara berpendapat bahwa halaman-halaman buku itu tidak menawarkan jawaban langsung dari perkataan Prabowo. Di dalam buku, narasi hanya memotret dari testimoni pihak lain.

“Tidak ada catatan tentang wudhu yang khusyuk di subuh hari, zikir lirih di antara rapat kabinet, atau buku fikih apa saja yang Prabowo baca. Tidak. Buku ini bicara dengan suara orang lain—tokoh politik, ulama, akademisi, dan mantan jenderal—yang masing-masing menafsirkan Prabowo melalui lensa pengalaman mereka,” kata Mahda melalui tulisannya di Kompasiana.

Ia menambahkan, buku ini tidak hadir sebagai hagiografi yang menghapus segala kekurangan, melainkan sebagai mosaik penafsiran yang memperlihatkan bahwa dalam politik, persepsi kerap kali lebih menentukan daripada realitas itu sendiri.***