Data tujuh daerah menunjukkan ribuan orang mengalami gangguan kesehatan pada 1–3 September. Sebagian besar hasil laboratorium belum diumumkan.

KOSONGSATU.ID — Sedikitnya 2.426 orang mengalami gangguan kesehatan dalam rangkaian dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis di tujuh kabupaten pada 1–3 September 2026.

Angka tersebut merupakan penjumlahan pembaruan terakhir dari pemerintah daerah, dinas kesehatan, sekolah, dan fasilitas kesehatan hingga Sabtu pagi, 5 September 2026.

Jumlah itu belum dapat disebut sebagai rekap nasional final. Data setiap daerah diperbarui pada waktu berbeda dan sebagian besar penyebab kasus masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.

Kepala Badan Gizi Nasional Sudaryono mengatakan lebih dari 80 persen kasus yang telah ditelaah lembaganya berkaitan dengan pelanggaran standar operasional prosedur.

“Yang paling banyak adalah SOP konsumsi waktu,” kata Sudaryono dalam rapat bersama Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat, Kamis, 3 September 2026.

Pernyataan itu merupakan penilaian BGN terhadap kasus-kasus yang telah diperiksa, bukan kesimpulan laboratorium atas seluruh kejadian terbaru.

Sidoarjo dan Rembang Catat Kasus Terbanyak

Sidoarjo mencatat 746 orang mengalami keluhan setelah menerima makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi Kalitengah, Tanggulangin. Sebanyak 23 orang masih dirawat dalam pembaruan terakhir.

Jumlah warga terdampak di daerah itu terus berubah, dari 566 orang pada 2 September menjadi 730 orang, lalu 746 orang.

BGN menghentikan operasional SPPG Kalitengah selama 30 hari dan mencopot kepala dapurnya. Sampel makanan, air, serta bahan biologis pasien masih diperiksa.

Di Rembang, SMAN 1 Lasem mendata 752 siswa dan 25 guru atau tenaga kependidikan mengalami keluhan. Jumlah 777 orang itu setara sekitar 61 persen warga sekolah.

Sebanyak 209 siswa masih tidak masuk sekolah pada Jumat, sedangkan sembilan orang menjalani perawatan. Operasional SPPG Soditan dihentikan sementara mulai Sabtu.

Data Rembang berasal dari pendataan sekolah. Karena itu, angka tersebut menunjukkan jumlah warga sekolah yang melaporkan gejala, bukan seluruhnya pasien yang telah memperoleh diagnosis individual.

Data Berbeda Waktu Pembaruan

Dinas Kesehatan Kabupaten Agam mencatat 344 orang terdampak, termasuk 251 pelajar. Delapan pasien masih dirawat di dua rumah sakit di Bukittinggi pada Jumat.

Korban di Agam tidak hanya berasal dari kalangan pelajar. Data pemerintah daerah juga mencakup balita, guru, dan warga berusia lebih dari 19 tahun.

Di Jombang, sebanyak 256 siswa dan guru SMPN 1 Kabuh mengalami gangguan kesehatan. Tujuh siswa masih dirawat, sementara sampel makanan dan air dikirim untuk diuji di laboratorium.

Tana Toraja mencatat 161 siswa SMPN 1 dan SMPN 2 Makale telah memperoleh penanganan hingga Jumat pukul 08.30 WITA. Sebanyak 48 siswa dirawat inap, 106 menjalani rawat jalan, dan tujuh diobservasi.

Jumlah warga sekolah yang mengalami gejala di Nganjuk bertambah dari 49 menjadi 127 orang. Sebanyak 18 orang masih dirawat pada Jumat malam.

Adapun 15 siswa SDN Bukit Mulie di Bener Meriah telah dipulangkan. Pemeriksaan mencakup menu MBG dan makanan kantin sehingga sumber gangguan kesehatan belum dapat dipastikan.

Perhitungan 2.426 orang tidak memasukkan 363 siswa dan guru SMAN 6 Solo. Makanan dalam kasus itu dikonsumsi pada 21 Agustus, sedangkan keluhan muncul pada 22–23 Agustus.

Komnas HAM Minta Polisi Menyelidiki

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia meminta kepolisian menyelidiki rangkaian kasus tersebut. Komnas HAM juga mendesak penghentian sementara dapur yang diduga berkaitan dengan kejadian keracunan.

Hingga Sabtu pagi, BGN belum memublikasikan rekap nasional dengan satu waktu pembaruan yang memuat jumlah orang bergejala, pasien dirawat, nama SPPG, dan hasil laboratorium setiap klaster.

Ketiadaan rekap seragam membuat perubahan data sulit dibedakan antara korban baru, perluasan pendataan, dan laporan keluhan yang baru tercatat.

“Hak atas pangan, khususnya pangan yang aman dikonsumsi, adalah hak asasi manusia,” demikian pernyataan Komnas HAM.***