Tiga puluh tahun lalu, Indonesia nyaris punya reaktor nuklir pertamanya di Semenanjung Muria. Studi kelayakan sudah rampung, tapak sudah dipilih, lalu krisis 1998 menghentikan semuanya. Kini wacana itu bangkit lagi, tapi di Bangka.

KOSONGSATU.ID – Dunia sedang dilanda demam nuklir lagi. Per Agustus 2026, sekitar 80 reaktor sedang dibangun di berbagai negara, dengan 120 lainnya masih direncanakan.

Mayoritas proyek ini terpusat di Asia. Total ada 440 reaktor beroperasi di 31 negara, dengan kapasitas gabungan sekitar 400 gigawatt.

Momentum kali ini didominasi reaktor modular kecil, alias Small Modular Reactor (SMR), bukan lagi reaktor raksasa konvensional seperti dulu.

Pipeline proyek SMR global sudah menembus 22 gigawatt, dengan nilai komitmen investasi mencapai 176 miliar dolar AS.

TerraPower baru mengantongi izin konstruksi komersial pertama untuk reaktor non-air ringan. Proyek Darlington BWRX-300 di Kanada sudah menuangkan beton pertamanya.

Reaktor Linglong One di Tiongkok pun sudah tersambung ke jaringan listrik. Arus global sedang bergerak cepat ke arah nuklir.

Indonesia ikut terseret arus ini. Pemerintah menargetkan energi nuklir masuk jaringan listrik nasional pada 2032.

Kapasitas awalnya 500 megawatt, dibangun di Pulau Gelasa, Bangka Belitung, memakai teknologi Thorcon Molten Salt Reactor (TMSR500). Konstruksi ditarget mulai 2027.

Sebelum euforia ini melaju terlalu jauh, ada baiknya menengok satu titik di peta yang dulu nyaris jadi lokasi reaktor nuklir pertama Indonesia: Semenanjung Muria, Jepara.

Bibit yang Ditanam Sejak Era Bung Karno

Gagasan PLTN di Indonesia jauh lebih tua dari yang dibayangkan banyak orang. Wacananya pertama muncul pada 1956, lewat seminar-seminar di kampus Bandung dan Yogyakarta.

Ide itu baru mengkristal pada 1972, saat BATAN bersama Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik membentuk Komisi Persiapan Pembangunan PLTN (KP2PLTN).

Dari 14 lokasi yang diusulkan di Jawa, Semenanjung Muria dipilih jadi kandidat terkuat pada 1975. Daratannya yang menjorok ke Laut Jawa dinilai cocok secara geologis.