Pemerintah menyatakan harga BBM bersubsidi dapat dipertahankan sampai akhir tahun dengan bantalan APBN — justru saat harga minyak dunia melandai tajam dalam sepekan terakhir.

KOSONGSATU.ID — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memastikan harga bahan bakar minyak bersubsidi — Pertalite Rp10.000 per liter dan Solar Rp6.800 per liter — tidak berubah hingga akhir 2026. Pemerintah, menurut dia, masih dapat menahan dampak gejolak harga minyak dunia lewat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.

Airlangga menyampaikan pernyataan itu dalam ANTARA Business Forum di Jakarta, Rabu, 23 September 2026. Ia mengatakan pemerintah terus memantau perubahan harga minyak di tengah ketidakpastian akibat konflik di Selat Hormuz dan perang Rusia–Ukraina.

“Ini sampai akhir tahun kita masih bisa pertahankan, tidak ada perubahan kenaikan harga, terutama BBM bersubsidi,” kata Airlangga.

“Alhamdulillah, untuk Indonesia, transmisi ini masih bisa diredam oleh buffer APBN kita,” ujarnya, merujuk pada harga minyak yang saat ini masih di bawah USD100 per barel.

Harga Minyak Justru Melandai

Tekanan yang dikhawatirkan pemerintah belakangan justru mereda. Setelah sempat menembus USD132 per barel pertengahan September akibat gangguan di Selat Hormuz, harga minyak dunia terus turun sejak 15 September — Brent melorot 9,19 persen dan WTI anjlok 15,20 persen.

Pada 23 September, WTI berada di USD89,74 per barel dan Brent di USD98,76 per barel. Penurunan ini dipicu pemulihan pipa Saudi East-West yang sempat lumpuh akibat serangan 11 September, ditambah optimisme dari pembicaraan Amerika Serikat–Iran di New York.

Meski begitu, pemulihan pasokan disebut masih terbatas karena tiga stasiun pompa di jalur pipa itu rusak, sementara lalu lintas di Selat Hormuz belum sepenuhnya normal. Rupiah sendiri berada di kisaran Rp17.826 per USD pada 23 September, melemah 6,74 persen dalam setahun terakhir.

Ruang Fiskal di Tengah Pergantian Menteri Keuangan

Kementerian Keuangan — kini dinakhodai Suahasil Nazara, yang dilantik menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa pertengahan September — melaporkan defisit APBN hingga akhir Agustus mencapai Rp240,1 triliun, setara 0,93 persen dari produk domestik bruto. Keseimbangan primer justru mencatat surplus Rp154 triliun.

Pemerintah menyatakan belanja, termasuk subsidi dan kompensasi energi, tetap berjalan sesuai rencana. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia turut mendorong penyaluran subsidi lebih tepat sasaran, dengan meminta pemilik kendaraan mewah tidak memakai BBM bersubsidi yang diperuntukkan bagi masyarakat kurang mampu.

Rincian tambahan biaya yang harus ditanggung APBN jika harga minyak kembali melonjak, batas harga yang dapat mengubah perhitungan pemerintah, serta besaran ruang anggaran khusus untuk mempertahankan harga BBM hingga Desember, belum dijelaskan secara rinci.***