Di Dusun Keboan, sebuah rumah sedang dibangun untuk keluarga Ratno melalui gotong royong warga Shiddiqiyyah. Letaknya dekat sekolah, masjid, dan makam memberi ruang untuk merenungkan hubungan antara belajar, beribadah, dan membantu sesama.

KOSONGSATU.ID – Ratno biasanya memperoleh penghasilan dengan menjual degan atau kelapa muda. Namun, belakangan ia berhenti berjualan karena pasokan dagangannya belum tersedia.

Di tengah terhentinya pekerjaan tersebut, keluarganya mendapat bantuan pembangunan Rumah Syukur di Dusun Keboan, Desa Sekaran, Kecamatan Sekaran, Kabupaten Lamongan.

Menurut keterangan Firman dari OPSHID Lamongan dan Alsara dari OPSHID Media Lamongan dalam bahan laporan ini, Ratno tinggal bersama istri dan anak bungsunya yang berusia lima tahun. Anak pertamanya bekerja di luar kota, sementara anak keduanya baru menikah dan tinggal bersama suaminya.

Rumah yang sedang dibangun itu diharapkan menjadi tempat tinggal yang lebih layak bagi keluarga Ratno.

Gotong royong membangun tempat tinggal

Rumah Syukur merupakan program pembangunan rumah gratis bagi masyarakat yang membutuhkan. Dalam pemaknaan Shiddiqiyyah, kegiatan tersebut menjadi bentuk syukur kepada Alloh sekaligus pengamalan kepedulian terhadap sesama.

Bahan laporan dari Lamongan menyebut tenaga dan pembiayaan pembangunan dihimpun melalui partisipasi warga Shiddiqiyyah. Pembangunan dilakukan dengan iuran dan gotong royong, tanpa pengajuan proposal kepada pemerintah maupun lembaga swasta.

Bagi penyelenggara, menyediakan rumah juga berkaitan dengan upaya membangun kehidupan keluarga. Hunian menjadi tempat berlindung, membesarkan anak, dan menjalani kegiatan sehari-hari.

Harapan itu memiliki arti bagi Ratno, yang sumber penghasilannya sedang terhenti. Bantuan rumah menjawab kebutuhan tempat tinggal, meskipun persoalan pekerjaan dan pendapatan tetap menjadi bagian dari kehidupan yang harus dihadapinya.

Anak-anak menyaksikan relawan bekerja

Lokasi Rumah Syukur Ratno berada tidak jauh dari madrasah ibtidaiyah, masjid, dan pemakaman umum dusun.

Kedekatan dengan sekolah membuat anak-anak dapat menyaksikan proses pembangunan. Mereka melihat relawan bekerja dan bangunan yang perlahan terbentuk.

Pemandangan tersebut memberi kesempatan untuk mengenalkan gotong royong melalui pengalaman di lingkungan mereka. Kepedulian terlihat dalam pekerjaan yang dilakukan bersama serta tenaga dan waktu yang diberikan untuk membantu sebuah keluarga.

Ketika azan berkumandang, warga menuju masjid untuk salat. Rumah yang sedang dikerjakan menjadi bagian dari pemandangan yang mereka temui dalam aktivitas sehari-hari.

Sementara itu, pemakaman di lingkungan yang sama menghadirkan pengingat tentang batas kehidupan. Kedekatan tempat-tempat tersebut menjadi dasar refleksi dalam laporan ini: manusia belajar, beribadah, membantu sesama, dan pada akhirnya meninggalkan kehidupan.

Apa yang dimaksud dengan amal yang lestari?

Bahan laporan menghubungkan Rumah Syukur dengan gagasan amal yang lestari dalam pitutur Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah, Syekh Moch. Mukhtarullohil Mujtabaa Mu’thi.

Dalam pemaknaan tersebut, kebaikan diharapkan terus memberikan manfaat setelah suatu kegiatan selesai. Rumah menjadi contohnya karena dapat digunakan penghuni selama bertahun-tahun, bahkan oleh generasi berikutnya.

Rasa syukur atas kemerdekaan kemudian diwujudkan melalui pekerjaan yang manfaatnya berlangsung melampaui peresmian: menyediakan tempat tinggal bagi keluarga yang membutuhkan.

Bagi Ratno dan keluarganya, manfaat yang paling dekat adalah tersedianya hunian layak. Bagi warga yang terlibat, pembangunan menjadi kesempatan untuk mengamalkan kepedulian melalui tindakan.

Di antara sekolah, masjid, dan makam Dusun Keboan, rumah itu sedang dibangun untuk menjalankan fungsi tersebut—menjadi tempat sebuah keluarga melanjutkan kehidupan.***

Meta description:

Sumber keterangan lokal: Firman, OPSHID Lamongan, dan Alsara, OPSHID Media Lamongan.