Publikasi ilmiah Gunung Padang ditarik tanpa bantahan saintifik yang jelas. Rupanya, wacana peradaban tertua dunia lahir di Nusantara sukses mengganggu ego akademis Barat.
KOSONGSATU.ID — Bayangkan Anda sedang mempresentasikan hasil temuan purbakala di sebuah forum bergengsi. Data sudah diuji, sampel sudah masuk laboratorium, dan hasilnya menunjukkan bahwa kakek buyut Anda ternyata lebih kaya dan lebih beradab daripada kakek buyut tetangga Anda yang selama ini selalu pamer kekayaan. Alih-alih diajak berdebat secara sehat, tetangga Anda itu tiba-tiba merobek kertas laporan Anda dan berkata, “Pokoknya saya nggak setuju.”
Kira-kira sekonyol itulah drama yang sedang menimpa situs megalitik Gunung Padang. Wacana ini kembali memanas usai ahli geologi Prof. Danny Hilman membeberkan unek-uneknya di Amanya Podcast yang dipandu Gianluigich. Profesor yang biasanya bergelut dengan patahan gempa ini mendadak harus berhadapan dengan patahan ego para ilmuwan internasional.
Jurnal penelitian yang menyimpulkan bahwa Gunung Padang adalah struktur bangunan buatan manusia yang usianya jauh melampaui Piramida Mesir, tiba-tiba ditarik (di-retract) oleh pihak jurnal.
Menariknya, penarikan ini bukan karena Prof. Danny ketahuan memanipulasi data atau salah menghitung rumus. Alasannya jauh lebih emosional: ada kelompok ilmuwan yang sekadar “tidak setuju” dengan interpretasinya.
Piramida Tertua di Halaman Belakang Kita
Mari kita luruskan dulu fakta di lapangannya. Gunung Padang, yang secara administratif masuk wilayah Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, bukanlah sekadar bukit yang kebetulan batunya berserakan secara estetik.
Berdasarkan pemindaian geofisika dan uji carbon dating, bukit itu adalah struktur berlapis yang dibangun manusia secara bertahap. Lapisan atas usianya sekitar 3.000 hingga 4.000 tahun. Turun sedikit, ada lapisan berusia 8.000 tahun.
Dan yang bikin heboh, lapisan paling bawah alias fondasinya diperkirakan berumur lebih dari 16.000 tahun. Lha, ini jelas bikin sejarah peradaban manusia yang diajarkan di buku-buku sekolah seketika berantakan.
Selama ini, kita didoktrin bahwa peradaban modern baru dimulai sekitar 11.000 tahun lalu di Mesopotamia. Kalau ternyata 16.000 tahun lalu nenek moyang orang Nusantara sudah bisa memotong, menyusun, dan membangun punden berundak raksasa dengan rongga rahasia di dalamnya, berarti Borobudur dan Piramida Giza itu cuma anak kemarin sore.
Batuan columnar joint yang menyusun Gunung Padang ini terbukti memiliki bekas sayatan dan pahatan, bukan sekadar patahan alamiah. Apalagi, formasi batunya disusun melintang, padahal formasi alamiah batu jenis ini seharusnya tegak lurus. Singkatnya, ini buatan manusia, bukan buatan jin atau alien yang sedang mampir ke Cianjur.
Kena “Cancel Culture” Akademis
Di sinilah letak kejanggalannya. Dalam dunia sains, perbedaan interpretasi adalah hal yang paling lumrah. Kalau ada ilmuwan Barat yang merasa Prof. Danny salah menyimpulkan Gunung Padang sebagai struktur purba, cara membantahnya adalah dengan menulis jurnal tandingan. Silakan serang argumennya dengan data yang lebih kuat, lalu perdebatkan secara terbuka di forum ilmiah.
Namun, yang terjadi justru sensor sepihak. Jurnalnya ditarik dari peredaran. “Ini seolah-olah mereka takut kalau didiskusikan secara terbuka, itu akan menggoyahkan established knowledge yang ada,” ujar Prof. Danny.
Ini bukan lagi sekadar urusan kode etik jurnal, melainkan politik sains global. Jika Gunung Padang diakui, kiblat sejarah peradaban dunia akan bergeser dari Timur Tengah dan Eropa ke Asia Tenggara, tepatnya ke Paparan Sunda (Sundaland). Hegemoni Barat yang selama ini selalu merasa menjadi pusat gravitasi kecerdasan manusia tentu akan merasa turun kasta jika harus mengakui bahwa akar peradaban mereka justru bermula dari negara yang hari ini masih sibuk mengurus bansos bocor.
Plato, Atlantis, dan Cocoklogi Pasundan
Hal yang membuat obrolan ini makin liar namun tetap memiliki pijakan rasional adalah hubungannya dengan mitos Atlantis. Selama ini, kisah Atlantis dianggap sebagai dongeng atau alegori ciptaan filsuf Yunani, Plato.
Namun, Prof. Danny menemukan bahwa rincian Plato terlalu presisi untuk sebuah karangan fiktif. Plato menyebut Atlantis hancur oleh banjir besar sekitar 11.600 tahun lalu. Dalam kacamata geologi modern, angka itu bertepatan persis dengan berakhirnya Zaman Es, saat permukaan air laut naik drastis (banjir global) dan menenggelamkan banyak daratan subur, termasuk Sundaland.
Plato juga mendeskripsikan Atlantis memiliki gajah, pohon kelapa, rawa, gunung api, dan hanya memiliki dua musim (tropis). Kalau Anda mencari ciri-ciri ini di Laut Tengah atau Samudra Atlantik, sampai botak pun tidak akan ketemu. Flora, fauna, dan iklim yang disebut Plato itu nyaris merupakan fotokopi dari lanskap Asia Tenggara.
Saking lucunya sejarah yang berbelok ini, sang pembawa acara podcast sempat berseloroh. Jangan-jangan, nama raja lautan mitologi Yunani “Poseidon” itu sebetulnya adalah salah dengar dari orang-orang Mesir dan Yunani kuno saat mendengar kata “Pasundan”. Lha wong dari lidah ke lidah, dari hieroglif Mesir diterjemahkan ke Yunani, lalu ke Inggris, wajar kalau “Pasundan” pelan-pelan bermutasi jadi “Poseidon”. Cocoklogi tingkat dewa, tapi entah kenapa terasa masuk akal di telinga kita.
PR Besar di Tengah Ruang Hampa
Kendati demikian, klaim raksasa ini jelas menyisakan pertanyaan mendasar yang belum terjawab: kapan kita berani membor langsung dan membuka pintu rongga yang ada di bawah Gunung Padang?
Pemindaian sudah membuktikan adanya ruangan besar bertingkat di dalam struktur tersebut. Tanpa pembuktian visual berupa kamera yang diturunkan ke dalam rongga itu, perdebatan sejarah ini hanya akan berputar-putar di atas kertas. Negara seharusnya sadar bahwa membiayai penelitian ini jauh lebih strategis untuk kebanggaan nasional ketimbang menghamburkan uang untuk proyek-proyek tugu yang tidak jelas fungsinya.
Eksplorasi lanjutan juga sangat mendesak. Apalagi, ada temuan anomali berupa struktur yang menyerupai pelabuhan dan jembatan besar purba di bawah laut Selat Sunda dan perairan Madura. Jika ini benar-benar struktur buatan manusia, efek dominonya terhadap sejarah peradaban akan luar biasa.
Pada akhirnya, di tengah sengitnya penolakan Barat terhadap eksistensi peradaban prasejarah Nusantara, kita pantas tersenyum getir merenungkan satu ironi. Kalau memang benar nenek moyang kita di Sundaland atau Atlantis sana sudah sanggup membangun struktur antariksa geologis berskala raksasa, mengukur tata ruang kota dengan apik, dan membuat pelabuhan yang megah, pertanyaan penutupnya sederhana saja: kenapa tata kota kita hari ini malah berantakan dan langganan banjir parah?
Mungkin peradaban kita tidak maju, tapi justru sedang berjalan mundur.***




Tinggalkan Balasan