Seorang peneliti independen mengklaim bahwa relief Candi Borobudur memuat prediksi eskatologis tentang dinamika politik modern Indonesia, termasuk akhir karier politik figur tertentu dan potensi pergeseran kekuatan nasional.
KOSONGSATU.ID — Seorang peneliti independen bernama Werdha Candratrilaksita memaparkan pandangannya dalam siniar Madilog di saluran YouTube Forum Keadilan TV yang dipublikasikan pada Minggu (18/10).
Menurutnya, candi tersebut tidak hanya merekam sejarah masa lalu, tetapi juga berfungsi sebagai medium yang menggambarkan perjalanan bangsa di masa mendatang.
“Saya menemukan bahwa Borobudur itu bercerita mengenai sejarah masa lalu, juga punya makna eskatologi untuk masa depan,” ujar Werdha dalam wawancara yang dipandu sejarawan Indra J. Piliang.
Ia menyatakan telah mempelajari relief Borobudur selama sekitar 12 tahun dan menggunakan pendekatan yang menggabungkan ikonografi, analisis fisiognomi, serta intuisi spiritual.
Interpretasi Politik Kontemporer
Werdha menyoroti panel 64 dan 65 yang menurutnya menyimbolkan era Joko Widodo, transisi ke Prabowo Subianto, dan dinamika elite politik saat ini. Salah satu klaim yang menonjol adalah mengenai Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
“Kalau tafsiran saya Borobudur, saya coba hubungkan dengan relief berikutnya, tidak ditemukan lagi sosok Gibran… Gibran tentunya walaupun tidak jadi pejabat publik lagi, dia tetap ada di barisan Pak Jokowi,” klaim Werdha.
Ia juga menafsirkan simbol gada sebagai pertarungan politik yang terus berlangsung di antara faksi dalam koalisi pemerintahan, meski secara makro berada dalam “satu bingkai” kepentingan. Selain itu, ia memprediksi munculnya tokoh-tokoh alternatif seperti Kaesang Pangarep pada fase selanjutnya.
Mendobrak Arus Utama Sejarah
Tafsir Werdha menantang konsensus historiografi arus utama, khususnya pandangan J.G. de Casparis yang menempatkan pembangunan Borobudur pada abad ke-8 dan ke-9 Masehi oleh Dinasti Syailendra. Werdha berargumen bahwa prasasti yang menjadi rujukan mungkin hanya mencatat pemugaran, bukan pembangunan awal.
“Seharusnya kan yang namanya ilmu pengetahuan itu harus ada ruang kritik, ruang untuk ada koreksi… Kalau temuan Casparis itu yang paling benar, berarti dia bukan ilmu pengetahuan,” kata Werdha.
Pada akhir wawancara, ia berharap elite politik merenungkan narasi besar peradaban Nusantara ini agar tidak terjadi perpecahan. Menurutnya, melalui pembacaan eskatologis Borobudur, Indonesia diproyeksikan akan bangkit menjadi negara yang disegani di tingkat global.
Hingga Senin (19/10), belum ada tanggapan resmi dari arkeolog, pengelola candi, atau tokoh politik yang disebut dalam diskusi tersebut.***




Tinggalkan Balasan