Arkeolog berdebat 2.100 atau 8.000 tahun. Padi budidaya tertua di Indonesia baru 3.500 tahun. Lalu apa santapan para pendiri teras batu itu?
KOSONGSATU.ID – Di Dusun Gunung Padang, Cianjur, jam pemetikan teh dicatat dari pukul 07.00 sampai 12.00 WIB (Universitas Gunadarma, 2023).
Tak jauh dari kebun itu, para arkeolog berdebat soal umur batu: sekitar 2.100 tahun, atau sekitar 8.000 tahun, atau lebih.
Jam kerja pemetik teh barangkali satu-satunya angka di sana yang tidak digugat siapa pun.
Ada pertanyaan yang jarang diajukan. Teras-teras andesit itu dibangun manusia, dan manusia membutuhkan santapan. Dengan apa mereka dikenyangkan selama beberapa generasi?
Tulisan ini tidak berusaha menentukan umur Gunung Padang. Ia menimbang tiap klaim usia dengan satu ukuran lain: sistem pangan apa yang masuk akal pada masa itu.
Jawabannya berubah drastis menurut tahun yang dipilih. Dan redaksi belum menemukan analisis serbuk sari, fitolit (butir silika sisa tumbuhan), atau pati dari bukit ini.
Pesta Besar Tanpa Tulang Hewan
Tim penggali di Gunung Padang menemukan gerabah dan batu penggiling, tanda pengolahan makanan. Tulang hewan yang menandakan pesta tidak ditemukan (Archaeology, Juli/Agustus 2024).
Padahal pemimpin klan di dataran tinggi Jawa digambarkan mengerahkan pengikut dalam pesta berhari-hari. Tulang memang bisa melapuk, jadi ketiadaannya bukan bukti ketiadaan pesta.
Arkeolog Harry Truman Simanjuntak menjelaskan bahwa roh leluhur diyakini memberi berkah berupa “kemakmuran, kesuburan, dan keberuntungan” (terjemahan redaksi, Archaeology, Juli/Agustus 2024).
Istilah kesuburan itu tidak dirinci: bisa berarti manusia, ternak, atau tanaman. Menurut penulis, doa semacam itu lazim berasal dari masyarakat yang nasibnya ditentukan musim tanam.
Yondri, peneliti BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional), menyimpulkan teras-teras itu tidak dibangun satu generasi. Bangunan lintas generasi membutuhkan pasokan pangan yang stabil.
Kalimat terakhir itu penalaran penulis, bukan temuan lapangan.
Bukit Tua, Padi Muda
Bukti budidaya padi tertua di Indonesia ditemukan di Minanga Sipakko, Sulawesi Barat, berumur sekitar 3.500 tahun.
Tim Truman Simanjuntak menyebutnya “bukti budidaya padi tertua dan paling pasti penanggalannya di Indonesia” (terjemahan redaksi, Scientific Reports, 2020).
Rujukan regionalnya: pertanian tercatat di Taiwan sekitar 4.800 tahun lalu, dan di Sulawesi sekitar 3.500 tahun lalu (Deng dkk., Frontiers in Plant Science, 2022).
Jalur padi sendiri masih diperdebatkan. Analisis genom padi (Molecular Biology and Evolution, 2021) menyebut padi Filipina utara mungkin berasal dari selatan, bukan dari Taiwan.
Tetapi redaksi belum menemukan padi budidaya yang lebih tua di kepulauan ini. Sekarang klaim usia Gunung Padang ditumpangkan pada garis waktu itu.
Arang temuan Yondri berumur sekitar 2.100 tahun. Padi budidaya sudah dikenal sekitar 1.400 tahun di kepulauan. Tidak janggal.
Lapisan permukaan versi tim Kementerian Kebudayaan, sekitar 500 SM, juga aman. Zaman logam sudah dimulai dan padi sudah lama dikenal.
Persoalan bermula di angka 6.000 SM, atau sekitar 8.000 tahun lalu. Itu 4.500 tahun sebelum padi budidaya tertua yang terdokumentasi, selisih sepanjang usia piramida Giza.
Lapisan 11.000 sampai 14.000 SM lebih jauh lagi, di ujung Zaman Es: menurut catatan arkeologi yang ada, era berburu dan meramu, bukan era lumbung.

Ladang Dulu, Sawah Belakangan
Seandainya Yondri benar dan pendirinya bermukim sekitar dua milenium lalu, sistem pangannya tidak otomatis sawah berair seperti lanskap Cianjur hari ini.
Orang Sunda secara tradisional menanam padi di ladang kering atau huma yang bergantung pada hujan (detikJabar, 14 Mei 2025).
Tradisi syukur panen Seren Taun mengaitkan padi dengan Nyi Pohaci, tokoh dalam naskah Wawacan Sulanjana. Itu tradisi masa kini, bukan bukti kebiasaan 2.000 tahun lalu.
Pembanding terdekat adalah Cipari di kaki Gunung Ciremai, Kuningan, sekitar 1000 sampai 500 SM: permukiman, pemujaan, dan kubur berada dalam satu situs.
Pola itu menunjukkan megalit tidak berdiri jauh dari tempat orang bermukim. Di Gunung Padang, permukiman pendirinya sebagian besar belum diketahui (Archaeology, 2024).
Pasir Angin di Bogor lebih kabur lagi: penanggalan radiokarbonnya 4.370 tahun lalu, dengan ralat 1.190 tahun (Prijono, Berkala Arkeologi, 2016).
Ali Akbar, ketua tim Kementerian Kebudayaan, menegaskan, “Kami meyakini adanya peradaban maju di sini” (detikJabar, 2025).
Peradaban maju biasanya memiliki lumbung. Redaksi belum menemukan laporan tentang lumbung Gunung Padang, atau tentang pencariannya.
Tanah yang Belum Ditanyai
Sebelum padi, Jawa dihuni pemburu dan peramu. Di Gua Mandung, Gunung Sewu, hunian tercatat sejak sekitar 11.000 tahun lalu (Kaharudin dkk., Archaeological Research in Asia, 2023).
Penghuninya menyantap kera, landak, rusa, babi, dan ikan. Ringkasan penelitiannya tidak menyebut sisa tumbuhan sama sekali.
Di Gua Pawon, Bandung Barat, galian Yondri menghasilkan serpih batu, alat tulang, tulang hewan, dan kerang (Forum Arkeologi, 2009).
Ketiadaan sisa tumbuhan tidak berarti tumbuhan tidak ada. Daun, umbi, dan biji melapuk lebih cepat daripada batu, sebab itu peneliti memburu serbuk sari dan fitolit.
Metode itu bukan barang asing di Jawa Barat. Tim Universitas Padjadjaran memakainya di Cihideung, Bandung Barat, dan membaca rawa purba yang berubah menjadi hutan (2020).
Di Gunung Padang, sampel tanah hasil pengeboran memang ada. Tetapi dipakai untuk menentukan umur, dan makalahnya ditarik. Menunya belum diperiksa.
Arkeolog Bill Farley dari Southern Connecticut State University mengingatkan, tak ada bukti permukiman manusia di situs itu pada Zaman Es terakhir (komentar kepada Nature).
Kini Dikepung Teh dan Sawah
Teh di sekitar bukit itu ditanam di lahan Perhutani Jawa Barat yang dikelola PT Sinar Sosro lewat Hak Guna Usaha. Permintaan tehnya disebut menurun (Universitas Gunadarma, 2023).
Cianjur menargetkan tanam padi sekitar 140 ribu hektare. Dandan Hendrayana, Kepala Bidang Tanaman Pangan di dinas pertanian setempat, memaparkan data akhir Juli 2026.
Ia menegaskan, “960 hektare lahan persawahan di 13 kecamatan terancam kekeringan” (Metro TV, 6 Agustus 2026).
Itu sekitar 0,7 persen dari target, jadi bukan krisis. Tetapi ia pengingat bahwa pangan di sekitar bukit batu itu, hari ini dan menurut tradisi Sunda sejak lama, bergantung pada hujan.
Pertanyaan yang belum terjawab: adakah analisis serbuk sari, fitolit, atau pati dari tanah Gunung Padang, di lapisan mana pun?
Di mana permukiman para pendirinya? Dan jika angka 6.000 SM benar, apa yang menopang mereka 4.500 tahun sebelum padi budidaya tertua?
Batu Gunung Padang sudah dibor, dihitung umurnya, dan makalahnya ditarik. Tanah di sekitarnya belum diumumkan pernah ditanyai soal bekal para pendirinya.
Sementara itu, jam pemetikan teh di kaki bukit tetap pukul 07.00 sampai 12.00. Sejauh bahan yang diperiksa redaksi, itulah satu-satunya jadwal kerja pertanian di Gunung Padang yang tercatat lengkap.***
Daftar Rujukan:
- Arif, Johan. (2024, 26 April). Publikasi Esai Geoarkeologi dan Lingkungan. BandungBergerak.id.
- Yondri, Lutfi. (2014). Punden Berundak Gunung Padang: Refleksi Adaptasi Lingkungan dari Masyarakat Megalitik. Jurnal Sosioteknologi, 13(1).
- Ramadina, Savitri Putri. (2013). Analisis Perupaan Situs Megalitik Gunung Padang di Cianjur, Jawa Barat. ITB J. Vis. Art & Des, 4(1).




Tinggalkan Balasan