Tesis Arysio Santos menempatkan Atlantis di Nusantara. Namun, bukti Sundaland dan penelitian Gunung Padang belum mengonfirmasi gagasan tersebut, setidaknya berdasarkan temuan arkeologis hingga saat ini.
KOSONGSATU.ID — Apakah Atlantis berada di Indonesia?
Gagasan ini mendapat tempat dalam perdebatan tentang Gunung Padang di Cianjur, Jawa Barat, dan daratan purba Sundaland. Salah satu pendukungnya, penulis asal Brasil Arysio Santos, berpendapat bahwa Nusantara merupakan lokasi peradaban yang dikisahkan Plato.
Namun, keberadaan daratan yang dahulu terendam laut dan situs megalitik tidak dengan sendirinya membuktikan Atlantis pernah berdiri di Indonesia.
Penelusuran sumber ilmiah hingga Kamis, 22 Oktober 2026, juga menunjukkan bahwa makalah yang mendukung klaim Gunung Padang sebagai piramida berusia puluhan ribu tahun telah dicabut pada Maret 2024.
Para penulisnya menolak keputusan tersebut.
Tesis Arysio Santos: Atlantis di Nusantara
Dalam buku Atlantis: The Lost Continent Finally Found, yang pertama kali diterbitkan pada 2005, Arysio Santos mengajukan Indonesia dan kawasan sekitarnya sebagai lokasi Atlantis.
Ia menghubungkan kisah Plato dengan bentang alam Asia Tenggara sebelum kenaikan permukaan laut menenggelamkan sebagian daratan Paparan Sunda. Dalam pembacaannya, perubahan geografis pada akhir zaman es menjadi latar bagi cerita kehancuran dan hilangnya sebuah peradaban.
Tesis tersebut menawarkan penjelasan mengapa jejak Atlantis, jika pernah ada di kawasan ini, mungkin berada di bawah laut. Namun, penjelasan mengenai kemungkinan lokasi belum sama dengan penemuan bukti peradabannya.
Keberadaan Sundaland dapat diuji melalui sedimen, rekonstruksi muka laut, dan pemetaan dasar laut. Adapun kesimpulan bahwa wilayah itu merupakan Atlantis memerlukan bukti arkeologis tersendiri.
Tesis Santos belum menjembatani kedua hal tersebut secara meyakinkan.
Sundaland Nyata, Apa yang Sudah Diketahui?
Ketika permukaan laut lebih rendah pada zaman es, Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Semenanjung Malaya terhubung oleh daratan yang lebih luas. Sebagian kawasan tersebut kemudian terendam seiring kenaikan muka laut.
Penelitian dalam Communications Biology pada 2023 memadukan rekonstruksi geografis dan data genom. Hasilnya menunjukkan kenaikan muka laut mengurangi luas daratan Sundaland sekitar separuh sejak puncak zaman es hingga pertengahan Holosen.
Penelitian itu mengidentifikasi dua periode kenaikan laut cepat, sekitar 14.500–14.000 dan 11.500–11.000 tahun lalu, yang memengaruhi pemisahan serta perpindahan populasi manusia.
Temuan tersebut memberikan dasar ilmiah bagi sejarah daratan yang terendam dan masyarakat yang berpindah. Penelitian itu tidak mengidentifikasi masyarakat tersebut sebagai penduduk Atlantis.
Mengapa Makalah Gunung Padang Dicabut?
Gunung Padang dikenal sebagai situs megalitik berupa punden berundak. Perdebatan muncul ketika penelitian bawah permukaan ditafsirkan sebagai bukti konstruksi yang jauh lebih tua daripada susunan batu di permukaannya.
Makalah Danny Hilman Natawidjaja dan rekan-rekannya, yang terbit daring dalam Archaeological Prospection pada Oktober 2023, mengusulkan beberapa tahap pembangunan. Lapisan yang dianggap paling tua ditempatkan pada sekitar 25.000–14.000 sebelum Masehi.
Namun, pada 18 Maret 2024, penerbit Wiley dan pemimpin redaksi jurnal mencabut makalah tersebut. Mereka menyatakan sampel tanah yang diuji dengan radiokarbon tidak berasosiasi dengan artefak atau struktur yang dapat dipastikan sebagai hasil kegiatan manusia.
Persoalannya mendasar: umur bahan organik dalam tanah tidak otomatis menunjukkan kapan manusia membangun struktur di sekitarnya.
Dalam tanggapan tertulis pada 21 Maret 2024, Danny dan timnya menolak pencabutan tersebut. Mereka mempertahankan penafsiran bahwa lapisan yang diteliti merupakan konstruksi manusia. Keberatan itu belum menyelesaikan perselisihan mengenai hubungan antara sampel penanggalan dan kegiatan pembangunan.
Apa yang Sebenarnya Diceritakan Plato?
Dalam Critias, Plato menuturkan perang antara Athena purba dan Atlantis yang disebut berlangsung 9.000 tahun sebelumnya. Atlantis ditempatkan di luar Pilar Herakles dan dikisahkan tenggelam akibat gempa.
Angka dalam cerita tersebut bukan hasil penanggalan arkeologis. Menjadikannya sebagai patokan usia situs memerlukan pembuktian tambahan.
Demikian pula, kemiripan bentang alam, kekayaan mineral, atau warna batu belum cukup untuk mengidentifikasi suatu lokasi sebagai Atlantis. Kesamaan itu harus diuji bersama kronologi, konteks penggalian, dan bukti kebudayaan yang saling mendukung.
Di Mana Batas Bukti dan Spekulasi?
Tesis Santos membantu menjelaskan asal gagasan Atlantis di Nusantara. Akan tetapi, keberadaan Sundaland, usia Gunung Padang, dan identitas Atlantis merupakan tiga persoalan berbeda yang masing-masing memerlukan pembuktian.
Bukti yang tersedia mendukung keberadaan situs megalitik Gunung Padang dan perubahan besar bentang alam Sundaland. Hubungan keduanya dengan Atlantis masih berupa spekulasi.
Nilai sejarah Gunung Padang tetap penting tanpa harus ditetapkan sebagai peninggalan Atlantis. Penelitian lanjutan perlu memastikan bagian yang terbentuk secara alami, bagian yang disusun manusia, serta waktu kegiatan tersebut berlangsung.***




Tinggalkan Balasan