Pesantren tak lagi sekadar tempat menimba ilmu agama. Di Kabinet Merah Putih, para alumni bilik santri melangkah hingga ke pucuk kebijakan negara, membuktikan keluwesan tradisi sarungan di panggung birokrasi pemerintahan nasional.
KOSONGSATU.ID-Pagar-pagar bambu dan bilik pesantren tak lagi membendung gerak para alumni untuk melangkah ke pusat kekuasaan.
Di Kabinet Merah Putih pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, sejumlah posisi menteri dan wakil menteri diisi oleh figur-figur yang menempa masa mudanya di lingkungan pesantren.
Mereka datang dari pelbagai latar tradisi—dari Nahdlatul Ulama hingga Muhammadiyah—membawa nilai keikhlasan, kedisiplinan, dan pemikiran kritis menuju arena pengambil kebijakan publik.
Jejak Moderasi dan Penjaga Nalar Keagamaan
Nama Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A. mengakar kuat dalam dunia pemikiran Islam moderat Indonesia. Sebelum mengemban amanat sebagai Menteri Agama, ia menorehkan rekam jejak panjang sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal dan Guru Besar Ilmu Tafsir di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Perjalanan intelektual Nasaruddin bermula dari Pondok Pesantren As’adiyah Sengkang, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. Setelah menuntaskan pendidikan guru agama di pesantren tersebut, ia menimba ilmu di IAIN Alauddin Ujung Pandang hingga meraih gelar doktor dari IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Pengalamannya di birokrasi pemerintahan telah teruji saat ia menjabat Dirjen Bimas Islam dan Wakil Menteri Agama pada era sebelumnya.
Di barisan kementerian pendidikan, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed. hadir membawa napas reformis. Tokoh intelektual Muhammadiyah yang pernah menimba ilmu di pesantren kawasan Kudus, Jawa Tengah ini kini memimpin Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Mu’ti memadukan kedalaman tradisi keislaman dengan visi modernisasi pendidikan, menekankan bahwa santri masa kini harus mampu membaca tantangan zaman tanpa kehilangan adab.
Matangnya Etos Kepemimpinan dan Kebijakan Sosial
Muhaimin Iskandar—yang akrab disapa Cak Imin—menjadi salah satu contoh dinamis transformasi santri menuju panggung politik nasional. Tumbuh dalam tradisi keilmuan Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar, Jombang, Cak Imin menempa kapasitas kepemimpinannya sejak aktif memimpin Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) pada 1994.
Kini, sebagai Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, ia mengoordinasikan strategi penguatan ekonomi berbasis komunitas dan kemandirian desa. Latar belakang pesantren memberinya landasan etos kerja yang kuat untuk menggerakkan program-program kerakyatan.
Sehaluan dengan Cak Imin, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menduduki kursi Menteri Sosial. Alumnus Pondok Pesantren Tebuireng Jombang dan Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta ini mengantongi asam garam dunia birokrasi dan politik. Di Kementerian Sosial, Gus Ipul menerapkan pendekatan empatik pesantren untuk memastikan penyaluran bantuan sosial berlangsung transparan, merangkul kelompok rentan, dan tepat sasaran.
Akar Ulama Nusantara dan Manajerial Umat
Darah perjuangan ulama besar nusantara mengalir deras dalam nadi Menteri Haji dan Umrah, K.H. Mochamad Irfan Yusuf Hasyim. Akrab disapa Gus Irfan, ia merupakan cucu pahlawan nasional sekaligus pendiri Nahdlatul Ulama (NU), Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asy’ari.
Sang ayah, K.H. Yusuf Hasyim, bersama ibunda Nyai Hj. Aisyah Baidlowi, mendidik Gus Irfan dalam lingkungan pergerakan keagamaan yang amat kental. Tumbuh besar dan mengabdi di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, ia memegang jabatan Sekretaris Umum sejak 1989 dan turun langsung sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Al Farros sejak 2006.
Kiprah Gus Irfan memadukan kematangan tradisi pesantren dan keluwesan intelektual. Menuntaskan pendidikan di SMAN 2 Jombang pada 1981, ia merengkuh gelar sarjana pada 1985 hingga magister pada 2002 di Universitas Brawijaya Malang.
Belum lama ini, ia sukses mempertahankan disertasinya dan dikukuhkan sebagai Doktor Manajemen Pendidikan Islam dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang pada 24 Februari 2025.
Kecakapannya dalam tata kelola tidak hanya terlihat di lingkungan akademik saat mengajar di AKPER Widyagama (2013–2016), tetapi juga terbukti ketika ia menjabat Komisaris Utama PT BPR Tebuireng (1996–2016) dan memutar roda pemberdayaan umat melalui posisinya sebagai Wakil Ketua Lembaga Perekonomian NU (LPNU).
Melengkapi representasi tokoh pesantren di kabinet, Hj. Arifatul Choiri Fauzi hadir memimpin Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Tumbuh di lingkungan Pondok Pesantren Asshomadiyah Bangkalan, Madura, serta mengenyam pendidikan di MTs dan MA As-Syafiiyah Jakarta dan Pesantren Sunan Pandanaran Yogyakarta, Arifah membawa nilai pengasuhan dan ketahanan keluarga berbasis komunitas ke dalam panggung kebijakan publik.
Perjumpaan Tradisi Kitab dan Birokrasi Modern
Perjalanan Dr. Raja Juli Antoni, M.A. membuktikan bahwa pendidikan pesantren membuka pintu lebar menuju kancah akademis global. Menteri Kehutanan ini menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah, Garut. Usai meraih sarjana dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, ia merengkuh gelar magister di University of Bradford Inggris dan doktor dari University of Queensland Australia. Ia kini mengawal kebijakan pelestarian ekosistem dan pengelolaan kawasan hutan nasional.
Napas pemikiran Islam modern turut mewarnai sosok Anis Matta, Wakil Menteri Luar Negeri. Menjalani masa remaja di Pesantren Darul Arqam Gombara, Makassar, lalu menuntaskan studi syariah di LIPIA Jakarta, kemampuannya meramu literasi diplomasi menjadikannya figur penting dalam mengawal kebijakan luar negeri.
Kehadiran alumni pesantren juga merambah sektor teknis. Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN, Nusron Wahid, tumbuh dalam pendidikan agama di MTs Qudsiyyah dan SMA NU Al-Ma’ruf Kudus. Di sektor industri, Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza membawa bekal pemikiran dari Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton dan STF Driyarkara.
Perjalanan para menteri dan wakil menteri berlatar pesantren ini menegaskan satu hal: tradisi keilmuan pondok tidak pernah mengunci ruang gerak alumninya. Dari tafsir kitab hingga ruang rapat kabinet, nilai integritas dan pengabdian yang ditanamkan para kiai kini menjadi fondasi kuat dalam mengarungi dinamika tata kelola pemerintahan masa depan.***




Tinggalkan Balasan