Penjajah boleh pergi, tapi mentalitasnya menetap. Melalui buku terbarunya, Jan Breman membongkar wajah baru kolonialisme dan rasisme di Indonesia. Mengapa rantai penindasan ini justru kita pelihara sendiri?

​KOSONGSATU.ID – Jan Breman bukanlah tipikal akademisi menara gading yang singgah sebentar sekadar membawa pulang setumpuk teori.

Sejak dekade 1960-an, sosiolog asal Belanda ini keluar-masuk pedalaman Jawa, menetap lama, fasih berbahasa lokal, dan menyusuri lorong-lorong kampung. Ia meneliti mereka yang luput dari catatan gemilang buku sejarah resmi: buruh perkebunan, kuli panggul, tukang becak, hingga pekerja harian lepas.

Merekalah punggung yang memikul beban ekonomi negeri ini, namun suaranya nyaris tak pernah didengar.

Dari pergaulan panjang itulah Breman tidak membawa pulang romansa eksotis Hindia Belanda, melainkan sebuah kesimpulan pahit yang menampar wajah bangsanya sendiri: Belanda belum pernah benar-benar diadili atas dosa warisan di negeri jajahannya.

​Bukan Sekadar Dongeng Kemerdekaan

Tahun 2024, Yayasan Pustaka Obor Indonesia menerbitkan mahakarya Breman setebal 323 halaman dengan pengantar bernas dari sejarawan Bonnie Triyana.

Buku ini merangkum sebelas esai yang tersusun rapi bagaikan sebuah kronik panjang. Alih-alih merawat dongeng heroik kemerdekaan, Breman justru menelanjangi realitas yang terjadi sesaat setelah bendera triwarna Belanda turun dari tiangnya.

Kemerdekaan politik, dalam kacamata Breman, hanyalah babak pembuka dari sebuah drama eksploitasi yang sekadar berganti rupa.

​Tiga Serangkai Penindasan

Judul buku ini menyajikan kesimpulan utuhnya di muka: Kolonialisme, Kapitalisme, dan Rasisme. Tiga kata tersebut, menurut Breman, berjalin kelindan dan tidak boleh kita baca secara terpisah, karena ketiganya saling menguatkan hingga detik ini.

Pesan utamanya sederhana namun menusuk tajam.

Kemerdekaan secara politik tidak lantas membebaskan sebuah bangsa dari cara berpikir dan mentalitas penindas peninggalan penjajah.

Pemilihan kata “pascakolonial” oleh Breman bukanlah tanpa alasan. Kolonialisme tidak menguap begitu saja saat lagu kebangsaan berkumandang; ia sekadar bersalin rupa, menyusup ke sistem ekonomi baru, dan merasuk ke dalam cara pandang yang membuat ketidakadilan terasa begitu lumrah.

​Wajah Baru Kuli di Era Modern

Pola eksploitasi yang dahulu memeras darah kuli perkebunan tanpa ampun, hari ini menduplikasi dirinya pada nasib pekerja informal.

Mereka membanting tulang sepanjang hari tanpa secarik pun jaminan masa depan. Logika eksploitasinya tetap sama, hanya pakaian dan istilahnya yang berubah.

Sang majikan penjajah berganti wujud menjadi sistem pasar yang banal, sementara kuli kontrak bereinkarnasi menjadi pekerja harian lepas yang kelelahan. Ketimpangan ini berjalan begitu mulus karena fondasinya sudah tertanam kuat sejak era tanam paksa.

​Rasisme Halus yang Kita Pelihara Tanpa Sadar

Hal yang paling meresahkan dari temuan Breman adalah anatomi rasisme.

Rasisme tidak melulu hadir lewat makian atau penghinaan rasial secara terbuka. Sering kali, rasisme mewujud dalam bentuk yang lebih subtil dan justru jauh lebih berbahaya: tumbuhnya rasa normal bahwa ada kelompok orang yang memang pantas kelelahan, pantas hidup miskin, pantas terinjak di hierarki terbawah, dan pantas tidak pernah kita mintai pendapatnya.

Cara pandang merendahkan ini tidak dibawa pulang oleh Belanda ke Eropa. Ia sengaja ditinggalkan di sini, lalu mewaris turun-temurun lewat institusi pendidikan, budaya feodal di tempat kerja, hingga cara kita menatap tetangga sendiri.

Yang paling menyesakkan dada untuk kita akui: sering kali kita sendirilah yang merawat warisan rasisme itu tanpa sadar.

​Refleksi Sunyi di Ujung Sejarah

Keberanian Breman memijak pada titik yang paling sunyi ini. Ia tidak menulis untuk membuai atau menyenangkan pihak mana pun.

Bagi publik Belanda, buku ini adalah cermin retak yang menolak berdusta tentang kejahatan masa lalu. Sementara, bagi bangsa Indonesia, karya ini menjadi pengingat bahwa sang penjajah memang sudah lama angkat kaki, namun cara kerjanya masih nyaman bersemayam di rumah kita.

​Menyelami nasib wong cilik selama puluhan tahun membuat Breman menanggalkan segala kepura-puraan.

Terkadang, kebenaran tidak datang dari arah yang kita kehendaki. Ia bisa meluncur dari mulut orang asing yang ironisnya mengenal denyut nadi kampung kita jauh melampaui pemahaman kita sendiri.

Merasa tak nyaman saat membaca sejarah bukanlah sebuah kesalahan; ketidaknyamanan itu justru penanda bahwa ada borok lama yang harus kita obati.

Kritik jujur, dari mana pun asalnya, membuktikan bahwa kita masih memiliki harapan untuk berbenah. Sebaliknya, diamnya kita adalah bentuk penyerahan diri yang paling tragis.

​Setelah hampir delapan dekade memproklamasikan kebebasan, sebuah pertanyaan sederhana masih menggantung berat di udara: sudahkah kita berani menelisik apakah kita benar-benar merdeka, atau kita sekadar terlalu nyaman bersembunyi di balik jawaban usang yang menipu diri sendiri?

Kalau kamu ingin merasakan langsung beratnya cermin ini, bacalah Kolonialisme, Kapitalisme, dan Rasisme: Kronik Pascakolonial karya Jan Breman. Kamu tidak wajib mengamini seluruh isinya; justru amat sehat jika kamu mendebatnya dengan bacaan tandingan yang setara seriusnya.***


Daftar Rujukan:

  • ​Breman, Jan. (2024). Kolonialisme, Kapitalisme, dan Rasisme: Kronik Pascakolonial (Pengantar: Bonnie Triyana). Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
  • ​Breman, Jan. (1997). Menjinakkan Sang Kuli: Politik Kolonial pada Awal Abad ke-20. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.
  • Breman, Jan. (2014). Keuntungan Kolonial dari Kerja Paksa: Sistem Priangan dari Kompeni hingga Tanam Paksa. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.