Presiden Putin mengingatkan Prabowo di Vladivostok untuk melindungi umat Islam Indonesia. Alarm geopolitik ini menyiratkan adanya proksi asing yang perlahan menyayat nadi umat lewat perang wacana. Imperialisme berevolusi, mengincar jantung NKRI.
KOSONGSATU.ID–Dunia membaca Indonesia lewat wajah keislamannya. Saat ikatan umat rapuh di dalam negeri, retaknya ikut terbaca dari luar.
Sebuah alarm berbunyi tak terduga dari Rusia. Di kota pelabuhan Vladivostok, Presiden Vladimir Putin secara khusus menyampaikan pesan kepada Presiden RI Prabowo Subianto.
Pesannya tajam dan lugas: lindungi umat Islam di negerimu.
Peringatan dari pemimpin negara adidaya ini bukan basa-basi diplomatik. Ia menjadi sinyal kuat adanya operasi geopolitik yang tengah membidik jantung persatuan Indonesia.
Pesan Geopolitik Sang Beruang Merah
Fakta bahwa Vladimir Putin merasa perlu mengingatkan Prabowo tentang nasib mayoritas rakyatnya semestinya menjadi bahan renungan serius.
Konflik internal umat Islam Indonesia, mulai dari pembusukan karakter pesantren hingga benturan antarkelompok, bukanlah dinamika sosial biasa. Ada indikasi kuat campur tangan proksi asing yang beroperasi layaknya musuh dalam selimut.
Pemerintah dituntut jeli membaca arah angin ini. Serangan sporadis terhadap basis-basis Islam tradisional seperti pesantren dan Nahdlatul Ulama memperlihatkan desain operasi yang terstruktur.
Tujuannya terang: memisahkan akar rumput dari elite agamanya dan memunculkan ketidakpercayaan massal.
Pada akhirnya, operasi itu menggerus kekuatan sosial terbesar yang selama ini menjadi sabuk pengaman keutuhan NKRI.
Prabowo tidak menjawab pesan Putin lewat mimbar konferensi pers. Ia justru memberikan jawaban tersirat dari sebuah panggung yang sarat makna: Pesantren Lirboyo, Kediri.
Di hadapan ribuan santri dan kiai, Presiden Prabowo menegaskan posisi Indonesia yang membela kemerdekaan Palestina.
Sikap membela Palestina itu mengingatkan pada akar sejarah yang sama: bangsa ini pernah diisap penjajah selama berabad-abad. Sebuah penegasan bahwa Indonesia menolak segala bentuk imperialisme.
Transformasi Imperialisme Epistemik
Sejarah punya cara yang ganjil untuk berulang. Ia kerap hanya berganti jubah.
Pada akhir abad ke-19, pemerintah kolonial Belanda mengirim Snouck Hurgronje untuk memisahkan umat Islam dari kekuatan politiknya lewat kendali birokrasi. Hari ini, Indonesia menghadapi infiltrasi yang jauh lebih halus, tetapi mematikan.
Para analis menyebutnya imperialisme epistemik. Jika Snouck bekerja lewat administrasi teritorial, agen-agen masa kini beroperasi di lanskap global-liberal.
Mereka merasuk lewat struktur pengetahuan, lembaga donor, dan pembingkaian media. Mereka tidak lagi melarang umat beribadah, tetapi mendefinisikan ulang makna “Islam” agar sesuai dengan selera sekularisme Barat.
Taktik ini menempatkan pesantren dan lembaga pendidikan Islam tradisional di kursi pesakitan. Lembaga-lembaga itu dipaksa tunduk pada standar “modernitas” asing.
Sementara itu, orisinalitas pendidikan Nusantara, yang menyeimbangkan ilmu akal dan kecerdasan kalbu, direndahkan sebagai sesuatu yang kolot dan berbahaya.
Penjajahan gaya baru ini tidak lagi membunuh secara fisik. Yang terjadi adalah penaklukan makna.
Ketegasan Sikap di Lirboyo
Era ini menghadirkan apa yang disebut gazwul fikri atau perang pemikiran. Ketika kontrol sosial melemah di ruang digital, proksi asing menyusup lewat wacana yang memecah belah.
Pesantren Lirboyo dan figur kiai sepuh beberapa kali menjadi sasaran delegitimasi di media sosial. Skenarionya jelas: meruntuhkan otoritas tradisional agar umat kehilangan panutannya.
Karena itu, jawaban dari bumi Nusantara perlu setegas pidato di Lirboyo. Pesantren dituntut melakukan transformasi kultural dan intelektual, membangun narasi tanding (kontra-hegemoni) tanpa menanggalkan tradisi.
Peringatan dari Vladivostok adalah lonceng yang membangunkan. Nadi persatuan bangsa sedang disayat perlahan oleh penjajah gaya baru yang bermain di balik layar gawai.
Pilihan yang tersedia hanya dua: membiarkan rumah peradaban runtuh termakan ilusi wacana asing, atau merapatkan barisan dan berdiri tegak membela warisan para muassis bangsa.***




Tinggalkan Balasan