Ekonomi triwulan III-2026 melampaui proyeksi ekonom. Konsumsi rumah tangga tumbuh tahunan, tetapi menyusut dari triwulan lalu, sementara belanja pemerintah melaju 8,95 persen.

KOSONGSATU.ID — Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Moh. Edy Mahmud menyatakan ekonomi Indonesia tumbuh 5,47 persen secara tahunan pada triwulan III-2026.

Edy menyampaikannya dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis, 5 November 2026. Angka itu naik dari 5,04 persen pada periode yang sama tahun lalu.

Menurut Edy, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,04 persen dan menjadi penopang utama. Komponen ini menyumbang 51,97 persen PDB dengan andil pertumbuhan 2,62 poin persentase.

“Pada triwulan III-2026, komponen ini tumbuh sebesar 5,04 persen yang menunjukkan masih terjaganya tingkat konsumsi masyarakat,” katanya.

Belanja restoran dan hotel naik 6,59 persen. Pengeluaran transportasi dan komunikasi meningkat 5,83 persen, sejalan dengan mobilitas serta kegiatan pertunjukan dan olahraga.

Konsumsi pemerintah tumbuh paling kencang, yakni 8,95 persen, didorong gaji aparatur sipil negara dan program Makan Bergizi Gratis. Investasi tumbuh 6,06 persen.

Capaian itu melampaui proyeksi sejumlah ekonom. Kepala Ekonom BCA David Sumual, misalnya, memperkirakan pertumbuhan triwulan III hanya 5,15 persen.

Konsumsi Menyusut dari Triwulan II

Di tengah pertumbuhan tahunan itu, konsumsi rumah tangga mengalami kontraksi 0,57 persen dibandingkan triwulan II-2026, menurut laporan beberapa media.

Artinya, konsumsi Juli–September 2026 masih lebih tinggi daripada Juli–September 2025, tetapi lebih rendah daripada April–Juni 2026. Kedua angka dapat berlaku bersamaan.

Penurunan kuartalan itu belum cukup untuk menyimpulkan daya beli seluruh masyarakat melemah. Data nasional juga belum menjelaskan kemampuan belanja tiap kelompok pendapatan.

Inflasi Merambat, Kelompok Menengah Bawah Tertekan

Sementara itu, BPS mencatat inflasi Oktober 2026 sebesar 3,23 persen secara tahunan dan 0,22 persen secara bulanan. Cabai merah memberi andil terbesar pada inflasi bulanan.

Survei Bank Indonesia menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen September 2026 di level 118,1, turun dari 118,5 pada Agustus, tetapi masih di atas batas optimistis 100.

Indeks kondisi ekonomi saat ini melemah ke 107,5 dari 109,4. Bank Indonesia juga memperkirakan penjualan eceran September terkontraksi 2,3 persen secara bulanan.

Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai tekanan harga pangan, ketidakpastian pendapatan, dan pemutusan hubungan kerja membebani kelompok menengah bawah.

Ia menyampaikannya kepada wartawan, Rabu, 4 November 2026, sehari sebelum BPS mengumumkan realisasi pertumbuhan triwulan III.

“Jadi, konsumsi secara keseluruhan masih tumbuh, tetapi daya tahannya semakin bergantung pada kelompok berpendapatan lebih tinggi,” ujarnya.***