Brent turun menjadi USD114,81 per barel pada 27 Oktober 2026. Harapan diplomasi menekan harga, tetapi pemulihan pasokan masih dibayangi serangan.
Harga minyak dunia melemah pada Selasa, 27 Oktober 2026, ketika upaya diplomasi di Timur Tengah membuka harapan meredanya konflik.
Menurut laporan terbaru, Brent turun 0,86 persen menjadi USD114,81 per barel. WTI juga melemah 0,86 persen menjadi USD100,88 pada pukul 11.18 WIB.
Arab Saudi, Turki, dan Pakistan bertemu dengan pejabat Iran di Teheran sehari sebelumnya. Keempat negara sepakat melanjutkan pembicaraan mengenai perdamaian dan keamanan.
Namun, serangan baru Houthi terhadap Arab Saudi membayangi harapan tersebut. Brent masih berada dekat level tertingginya dalam enam bulan.
Harga Turun, Pasokan Belum Pulih Sepenuhnya
Pergerakan harga mencerminkan perubahan perkiraan pasar. Harapan tercapainya kesepakatan dapat menekan harga sebelum pemulihan pengiriman minyak benar-benar berlangsung.
Karena itu, penurunan harga harian perlu dibaca bersama perkembangan produksi, ekspor, dan kelancaran pelayaran.
Badan Energi Internasional atau IEA mencatat pasokan minyak global naik 2,5 juta barel per hari secara bulanan menjadi 102,3 juta barel per hari pada September 2026.
Kenaikan terutama berasal dari produsen Teluk. Namun, dalam laporan tertanggal 14 Oktober, IEA menilai serangan baru di kawasan tersebut membuat pemulihan tetap rapuh.
Pemulihan minyak mentah juga belum diikuti produk olahan dengan kecepatan yang sama. Pengiriman produk olahan dan gas minyak cair dari Timur Tengah masih di bawah separuh tingkat sebelum perang.
Pasar diesel menghadapi tekanan tersendiri. Ekspor global pada September turun sekitar 700.000 barel per hari dibandingkan setahun sebelumnya, dipengaruhi penurunan dari Rusia dan Timur Tengah.
Perbedaan ini penting karena tambahan minyak mentah belum otomatis menyediakan bahan bakar siap pakai. Kapasitas pengolahan dan distribusi turut menentukan ketersediaannya.
Permintaan Melemah, Tekanan Energi Bertahan
IEA memperkirakan permintaan minyak dunia turun rata-rata 2,6 juta barel per hari sepanjang 2026. Diesel diperkirakan menyumbang seperempat penurunan tersebut.
Lembaga itu mengaitkannya dengan keterbatasan produk, tingginya harga bahan bakar, dan memburuknya prospek ekonomi.
Meski permintaan melemah, IEA memperkirakan pasar minyak tetap mengalami defisit hingga akhir tahun. Keterbatasan pasokan diesel dan produk sejenis berpotensi berlanjut ke 2027.
Artinya, pelemahan konsumsi belum cukup menghapus tekanan pasokan. Harga dapat terkoreksi, sementara biaya pengiriman dan ketersediaan bahan bakar tetap menjadi persoalan.
Perundingan di Teheran memberi ruang bagi perbaikan. Hasilnya perlu terlihat pada berkurangnya serangan, kelancaran pelayaran, serta pemulihan pengiriman energi.
Bagi pasar, perkembangan diplomasi mengubah ekspektasi. Keamanan jalur distribusi dan tambahan pasokan nyata akan menentukan apakah penurunan harga dapat bertahan. ***




Tinggalkan Balasan