Ruang pameran di lantai dasar Mal Ciputra, yang terletak di jalan Simpang Lima, Kota Semarang, seolah disulap menjadi kanvas raksasa yang memancarkan keagungan ayat-ayat suci. Pada perhelatan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI Tahun 2026, cabang seni kaligrafi tidak hanya menjadi ajang unjuk kebolehan para seniman khat, tetapi juga menjadi sebuah perayaan budaya yang menembus batas-batas negara dan agama.
KOSONGSATU.ID – Tahun ini, penyelenggaraan lomba kaligrafi membawa angin segar dengan hadirnya kategori inovatif: golongan digital.
Direktur Lembaga Kaligrafi Al-Qur’an (Lemka), KH Didin Sirojuddin AR, menuturkan bahwa seni ini terus beradaptasi dengan kemajuan zaman. Jika biasanya para seniman berkutat dengan pena, cat, dan kanvas, peserta di golongan digital meracik keindahan kaligrafi menggunakan perangkat komputer.
“Meski menggunakan teknologi, ketepatan kaidah dan keindahan tulisan tetap menjadi unsur utama. Penilaian aspek huruf bahkan mendapat porsi 60 persen,” jelas Didin. Menariknya, untuk menjaga orisinalitas, sekitar 380 peserta dari seluruh provinsi diwajibkan menyelesaikan karyanya secara langsung di lokasi, sebuah tradisi yang membedakannya dengan kompetisi internasional pada umumnya.
Pertemuan Mahakarya Lintas Negara
Tidak sekadar kompetisi, MTQ XXXI juga disemarakkan oleh Pameran Kaligrafi Internasional 2026 yang berkolaborasi dengan Jakarta Islamic Centre (JIC). Ada sekitar 250 karya dari 50 negara yang dipamerkan.
Eksplorasi medianya pun sangat di luar dugaan; seniman tidak hanya menggunakan akrilik atau tinta hitam, tetapi juga memanfaatkan bahan tak lazim seperti emas foil, kain perca, kopi, rotan sintetis, hingga tulang daun kupu-kupu.
Pameran yang dibuka secara resmi oleh Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, ini menjadi ruang perjumpaan bagi para maestro dunia.
Seminar Kaligrafi Internasional yang turut digelar mempertemukan tokoh-tokoh besar seperti Gori Yusuf Husen (India), Ust. Sahryansah Sirajuddin (Indonesia), hingga Master Fatma Ulosoy (Turki).
Kekaguman terhadap mahakarya di acara ini juga disuarakan oleh para pegiat seni dalam negeri. Irfan Ali Nasrudin, kaligrafer nasional asal Karanganyar sekaligus pendiri dan owner Hilyatul Qalam Calligraphy, mengungkapkan rasa takjubnya terhadap perhelatan ini.
“Pameran kaligrafi internasional kali ini sangat luar biasa, spirit keindahan secara visual penuh syiar. Melukis kaligrafi itu serasa menghidupkan huruf dan memberinya ruh, agar huruf itu dapat menghidupi pemahaman pembaca, meneranginya dengan tetesan ilmu dan makna,” ungkap Irfan memaknai kedalaman karya-karya yang dipamerkan.
Napak Tilas 1979 dan Pesan Rahmatan Lil Alamin
Bagi Kota Semarang, pameran kaligrafi berskala masif ini layaknya mesin waktu. KH Didin Sirojuddin mengenang kembali peristiwa bersejarah pada MTQ XI tahun 1979 di Semarang, di mana pameran seni lukis Islami pertama kali diperkenalkan dan mendapat dukungan penuh dari Joop Ave, tokoh pariwisata nonmuslim masa itu.
Kini, 47 tahun berlalu, resonansi semangat tersebut kembali terasa. Keindahan kaligrafi yang dipamerkan nyatanya dinikmati oleh semua kalangan, tanpa sekat keyakinan. “Rupanya karya-karya lukis Islami itu disukai oleh siapa pun, dan memang tidak ada batas-batas,” ungkap Didin terharu.
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, melihat fenomena ini sebagai manifestasi nyata dari Islam yang rahmatan lil alamin. Keterlibatan masyarakat nonmuslim dalam mengapresiasi dan mendukung pameran membuktikan bahwa seni mampu menjadi medium perekat kebangsaan.
“Musabaqah Tilawatil Qur’an milik semua masyarakat. Toleransi beragama sangat dijunjung sekali, semuanya bersatu,” tegas Luthfi. Lewat goresan tinta dan piksel digital di Semarang, MTQ Nasional XXXI sukses mengirimkan pesan perdamaian dan harmoni ke seluruh penjuru dunia.***





Tinggalkan Balasan