Jumlah korban bertambah 54 orang sejak pagi. Gejala baru masih muncul pada hari kedua, sementara BGN menemukan catatan pada sarana dan IPAL dapur yang telah bersertifikat higiene.

KOSONGSATU.ID — Korban dugaan keracunan Makanan Bergizi Gratis di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, bertambah menjadi 566 orang hingga Rabu, 2 September 2026, pukul 11.45 WIB.

Angka itu naik 54 orang dari pembaruan pagi sebanyak 512 korban. Sebanyak 35 di antara pasien tambahan merupakan santri Pondok Pesantren Manba’ul Hikam yang baru mengalami keluhan sehari setelah menyantap makanan tersebut.

Bupati Sidoarjo Subandi meminta seluruh korban yang baru menunjukkan gejala segera dibawa ke rumah sakit.

“Kalau kita bawa ke rumah sakit, biarkan nanti langsung ada penanganan intensif. Anak kita segera ada perawatan, pengobatan,” kata Subandi saat meninjau Pondok Pesantren Manba’ul Hikam, Rabu siang.

Para santri mengalami mual, muntah, pusing, diare, dan lemas. Mereka dievakuasi ke Rumah Sakit Pusura, Rumah Sakit Delta Surya, serta Rumah Sakit Islam Siti Hajar.

Lima guru juga dilaporkan mengalami keluhan, tetapi memilih menjalani pengobatan secara mandiri.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo Lakhsmie Herawati Yuwantina mengatakan 88 korban telah dirawat sejak Selasa malam. Dengan tambahan 35 pasien baru, sebanyak 123 orang masih berada dalam penanganan fasilitas kesehatan.

“Secara umum yang dirawat inap stabil. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan sampai membutuhkan perawatan khusus,” kata Lakhsmie.

Pemkab Membahas Status KLB

Pemerintah Kabupaten Sidoarjo mulai membahas penetapan status Kejadian Luar Biasa atau KLB menyusul kenaikan jumlah korban dan kemunculan gejala baru pada hari kedua.

Lakhsmie mengatakan keputusan mengenai status KLB akan dibicarakan bersama Sekretaris Daerah Kabupaten Sidoarjo. Hingga Rabu pukul 13.20 WIB, pemerintah daerah belum mengumumkan hasil pembahasan tersebut.

Dinas Kesehatan telah mengambil sampel muntahan pasien dan bahan makanan untuk diperiksa di Laboratorium Kesehatan Surabaya. Hasil pengujian diperkirakan keluar dalam waktu sekitar satu minggu.

Polisi turut mengambil sampel makanan sebagai bagian dari penyelidikan. Sampai Rabu siang, belum diketahui apakah kontaminasi berasal dari bahan baku, pengolahan, penyimpanan, distribusi, atau rentang waktu antara makanan tiba dan dikonsumsi.

“Dari makanan datang sampai dikonsumsi itu ada batas waktunya. Sudah betul atau tidak, itu yang perlu kita investigasi,” ujar Lakhsmie.

Ada Catatan pada Sarana dan IPAL

Badan Gizi Nasional Regional Jawa Timur dan Pemkab Sidoarjo menemukan sejumlah catatan pada sarana-prasarana serta Instalasi Pengolahan Air Limbah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi Kalitengah dalam inspeksi Rabu siang.

Wakil Koordinator BGN Regional Jawa Timur Teguh Bayu Wibowo belum menjelaskan secara terperinci kekurangan yang ditemukan.

“Memang ada catatan dari pengecekan tadi,” kata Teguh.

Operasional SPPG Kalitengah telah dihentikan sementara sambil menunggu hasil pemeriksaan laboratorium. Pelanggaran ringan dapat berujung penghentian selama dua minggu hingga satu bulan, sedangkan pelanggaran berat bisa menyebabkan dapur ditutup permanen.

Dapur tersebut memproduksi sekitar 2.800 porsi makanan per hari. Sekitar 1.000 porsi disalurkan ke lingkungan Pondok Pesantren Manba’ul Hikam.

SPPG Kalitengah sebenarnya telah mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi, sertifikasi penjamah makanan, dan sertifikasi halal. Namun, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengatakan sertifikat tidak otomatis menjamin prosedur dijalankan dengan benar setiap hari.

Di seluruh Sidoarjo terdapat 170 SPPG. Subandi menyebut 31 di antaranya belum memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi dan meminta BGN memperketat pengawasan.

“Jangan sampai terjadi hal-hal seperti ini lagi,” kata Subandi.***