Di hari pertama sebagai Ketum, Gus Kikin meneken kontrak integritas, menyerahkan KTA seumur hidup kepada Presiden, dan menempatkan Qanun Asasi sebagai peta jalan NU.

KOSONGSATU.ID – KH Abdul Hakim Mahfudz memulai masa khidmah 2026–2031 dengan tiga langkah berurutan: meneken Kontrak Jam’iyyah, berpidato di hadapan Presiden Prabowo Subianto, lalu menyerahkan Kartu Tanda Anggota NU.

Penetapan AHWA dibacakan Senin, 31 Agustus 2026, pukul 07.20 WIB di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas. “Secara mufakat memutuskan untuk memilih KH Abdul Hakim atau sehari-hari disebut Gus Kikin,” kata anggota AHWA KH Anwar Iskandar.

Sembilan kiai bermusyawarah tertutup sejak pukul 06.20 WIB. Nama Gus Kikin unggul dalam penjaringan muktamirin dengan 472 suara dari 2.397 suara.

Empat nama lain di lima besar adalah KH Zulfa Mustofa (262), KH Abdussalam Sochib (261), petahana KH Yahya Cholil Staquf (258), dan KH Abdul Ghofar Rozin (155). Rais Aam terpilih KH Miftachul Akhyar memberi izin tertulis sebelum AHWA memutuskan.

Kontrak Jam’iyyah Berisi Delapan Komitmen

Gus Kikin langsung membacakan kontrak itu di sidang pleno. “Pagi ini saya telah menandatangani Kontrak Jam’iyyah. Dan untuk lebih jelasnya akan saya bacakan supaya jelas isinya,” ujarnya, 31 Agustus.

Delapan poin itu mencakup rekam jejak kepengurusan sekurang-kurangnya satu masa khidmah, kelulusan kaderisasi PMKNU, dan larangan jabatan politik sesuai Anggaran Rumah Tangga Pasal 52 ayat 5.

Ia menyatakan tidak menjadi pengurus partai dalam satu tahun terakhir serta tidak pernah kena sanksi pembekuan kepengurusan. Pasal 65 ayat 2 dan Pasal 72 mewajibkan menjaga keutuhan jam’iyyah dan menyampaikan laporan tertulis.

Dua poin penutup mengikatnya pada keputusan Muktamar ke-35 dan kebijakan Rais Aam. “Apabila saya melanggar, saya bersedia dikenakan sanksi,” kata Gus Kikin.

KTA Seumur Hidup Diserahkan saat Penutupan

Prabowo tiba sekitar pukul 10.08 WIB dan disambut Gus Kikin bersama Rais Aam. Sebelum naik panggung, Presiden menerima KTA NU didampingi Miftachul Akhyar, Gus Kikin, Menteri Sosial Saifullah Yusuf, dan Yahya Cholil Staquf.

Insyaallah kita berikan nanti,” kata Gus Kikin sebelumnya kepada wartawan. Ia memastikan kartu itu sudah siap dan, jika terbit pagi itu, tanda tangannya yang sah.

Permintaan KTA disampaikan Prabowo saat membuka muktamar 27 Agustus. Penutupan resmi diucapkan Presiden pada Senin, 31 Agustus 2026.

Pidato Perdana Menyinggung Angka Delapan

Di hadapan Prabowo, Ketum baru membuka pidato dengan kemiripan angka. Tanggal lahirnya 17—jumlahnya delapan—bulan Agustus, tahun 1958, serta status pengasuh Tebuireng generasi kedelapan.

“Sehingga bagi saya Alhamdulillah menjadi yang sangat luar biasa dalam Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35 kali ini,” ujar Gus Kikin, 31 Agustus.

Ia menempatkan naskah Qanun Asasi karya KH Hasyim Asy’ari sebagai peta jalan. Naskah itu mulai ditulis 1926. “Dulu awal NU berdiri menjadi satu organisasi yang sangat baik, sangat cepat perkembangannya karena ada Qanun Asasi,” katanya.

Dukungan kepada Pemerintah Disebut Kewajiban

Ditanya jarak NU dengan istana, jawabannya tegas. “Itu kewajiban. Kita ini umat Islam itu wajib untuk pemerintahan,” katanya di arena muktamar.

Hubungan ke depan, menurutnya, “beriringan betul”. Kekhawatiran NU ditarik ke politik praktis dijawab dengan rujukan manhaj. “Kita itu punya track, kita itu punya kompas. Kita itu punya manhaj,” ujarnya.

Pesan ke muktamirin lebih ke dalam. “Warga Nahdlatul Ulama, kita harus bersatu, kita harus bersama-sama, ini Nahdlatul Ulama milik bersama,” katanya.

Prabowo menutup muktamar dengan selamat kepada pimpinan terpilih dan seruan darma bakti. “Kita terima perbedaan, kita terima kompetisi yang sehat,” ujar Presiden, 31 Agustus.

Gus Kikin, lahir 17 Agustus 1958, adalah cicit KH Hasyim Asy’ari, pengasuh Tebuireng, dan Ketua PWNU Jawa Timur 2024–2029. Miftachul Akhyar menjabat Rais Aam untuk periode kedua.***