Di tengah hiruk-pikuk Muktamar ke-35 NU, sejarah kembali bernapas. Palestina Fonds yang digagas KH Abdul Wahab Chasbullah pada 1938 dihidupkan ulang. Sebuah pesan lintas zaman bahwa dukungan untuk Palestina tak pernah lekang oleh waktu.

KOSONGSATU.ID – Jauh sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia bergema, sekelompok kiai bersarung di Nusantara telah memikirkan nasib sebuah bangsa di ujung Timur Tengah.

Pada Muktamar NU ke-13 di Menes, Banten, tahun 1938, KH Abdul Wahab Chasbullah menggebrak dengan sebuah gagasan visioner: menggalang Palestina Fonds. Kini, delapan puluh delapan tahun kemudian, roh solidaritas itu diembuskan kembali di tanah kelahirannya, Jombang.

​Menggali Akar Solidaritas di Menes

Para pendiri Nahdlatul Ulama tidak pernah menutup mata dari krisis global. Wakil Sekretaris Jenderal PBNU Ginanjar Sya’ban mengingatkan bahwa tonggak penting kepedulian ini lahir dari rahim kepekaan para ulama.

Di tengah keterbatasan era kolonial Hindia Belanda, Mbah Wahab menginisiasi Palestina Fonds atas restu Hadratus Syekh KH M. Hasyim Asy’ari. Langkah ini menjadi wujud dukungan moral dan materiil yang nyata bagi rakyat Palestina yang saat itu mulai menghadapi himpitan pergolakan geopolitik.

​Titik Temu Jombang dan Warisan Mbah Wahab

Muktamar ke-35 NU di Jombang pada Agustus 2026 tidak sekadar menjadi ajang pergantian kepemimpinan atau adu gagasan. Di tanah tempat para muassis (pendiri) NU membumikan ajarannya, sejarah kembali berulang dan menemukan konteksnya.

“Gerakan ini seperti mengulang kembali semangat yang pernah dibangun para pendiri NU dalam memberikan dukungan kepada Palestina. Kita seolah dejavu, karena lokasinya berada di Jombang,” ujar Ginanjar.

Momentum ini menjadi jembatan penghubung yang kokoh antara warisan sejarah masa lalu dan krisis kemanusiaan yang mendera Palestina hari ini.

​Palestina Fonds 2.0: Saluran Kemanusiaan Modern

Dukungan masa kini tentu tak lagi hanya bertumpu pada sumbangan konvensional. Melalui NU Care-LAZISNU, Palestina Fonds 2.0 resmi diluncurkan melalui pembacaan deklarasi dalam Silaturahim Nasional (Silatnas) LAZISNU Sedunia di Aula Pondok Pesantren Darul Ulum, Peterongan. Pendekatannya kini jauh lebih terstruktur dan modern.

Ketua LAZISNU PBNU Habib Ali Hasan Al Bahar menegaskan bahwa jaringan mitra yang luas memungkinkan penyaluran bantuan yang aman dan tepat sasaran.

“Kami bersyukur LAZISNU memiliki akses untuk menyalurkan bantuan kepada Palestina itu melalui Mesir, Turki, Yordania, bahkan melalui mitra di dalam Palestina itu sendiri,” jelas Habib Ali.

​Pesan Kemanusiaan yang Melampaui Angka

Langkah kebangkitan gerakan ini bukan sekadar urusan nominal donasi, melainkan penegasan sikap kemanusiaan bangsa Indonesia. Habib Ali menggarisbawahi bahwa bantuan dari Tanah Air memikul nilai pesan moral yang masif bagi mereka yang tertindas.

“Sedikit yang kita berikan tentu tidak sedikit bagi saudara-saudara kita di Palestina. Itu akan besar dan dianggap suatu dukungan moral dan materi. Mudah-mudahan menjadi keberkahan buat kita,” tuturnya.

​Sejarah tidak selalu berwujud masa lalu yang tertinggal bisu di halaman berdebu. Peluncuran Palestina Fonds 2.0 membuktikan bahwa ingatan kolektif sebuah organisasi mampu dikonversi menjadi energi penggerak untuk merespons krisis masa kini.

Selama penderitaan di tanah Palestina belum berakhir, jejak perjuangan para kiai pendiri NU akan terus dihidupkan—membentang melintasi zaman, dari ketukan palu di Menes 1938 hingga ke masa depan yang berkeadilan.***