Dua pesantren besar di Jombang sama-sama memakai nama laut dan menggemakan cinta tanah air. Temukan jalinan sejarah antara Bahrul Ulum Tambakberas dan Majma’al Bahrain Shiddiqiyyah yang diikat oleh hubungan keilmuan di masa silam.

KOSONGSATU.ID- Mimpi meminum air laut yang dialami Nyai Lathifah saat mengandung K.H. Wahab Chasbullah kelak menjelma menjadi institusi peneduh bernama “Bahrul Ulum” atau lautan ilmu.

Siapa sangka, gelombang samudera ini tak berhenti di Tambakberas, melainkan mengalir dan bermuara pada Majma’al Bahrain (pertemuan dua lautan) di Ploso, melalui perjalanan intelektual dan spiritual salah satu murid kesayangan keluarga besar Chasbullah.

​Berlabuh Singkat di Tambakberas

Masa muda Kiai Muchammad Muchtar Mu’thi (Kiai Tar) membawanya merantau ke Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas. Meski hanya singgah selama kurang lebih delapan hingga sembilan bulan, waktu yang singkat di usia remajanya itu menorehkan pondasi keilmuan yang pekat.

Di bawah asuhan Kiai Abdul Hamid Chasbullah—adik kandung K.H. Wahab Chasbullah—Kiai Tar muda tak sekadar mengaji, namun diakui sebagai murid kesayangan.

​Di bilik-bilik pesantren Tambakberas, hari-hari Kiai Tar dihabiskan untuk membedah Tafsir Jalalain serta ilmu alat (Nahwu dan Sharaf) bersama Kiai Hamid. Semesta keilmuannya semakin luas kala ia menimba hadis Shahih Bukhari di bawah asuhan Kiai Fattah, dan mendalami kitab fikih Fathul Mu’in bersama Kiai Masduqi.

Rihlah intelektual ini kelak menjadi batu pijakan penting sebelum ia mendirikan pusat ajarannya sendiri.

​Pertemuan Dua Samudera Makna

Jejak pendidikan Kiai Tar di Tambakberas rupanya meninggalkan resonansi filosofis yang kuat saat ia mendirikan Tarekat atau Thoriqoh Shiddiqiyyah di Desa Losari, Ploso. Jika Bahrul Ulum menggunakan terminologi Arab Bahr (laut) untuk menyimbolkan samudra ilmu yang tak pernah habis, Kiai Tar—usai menerima ilham ruhi pada 4 April 1972—menamai pesantrennya Majma’al Bahrain.

​Secara harfiah, nama yang terinspirasi dari perjalanan spiritualnya itu bermakna ‘tempat pertemuan dua lautan’. Seperti halnya air yang mengalir mencari muara, nama ini melambangkan bertemunya dua dimensi besar: jasmani dan rohani, iman dan kemanusiaan. Penggunaan metafora samudera ini seolah menjadi benang merah tak kasat mata antara Tambakberas dan Ploso.

​Menggemakan Nasionalisme dari Bilik Pesantren

Selain berbagi filosofi samudera, kedua pesantren raksasa di Jombang ini mewariskan DNA kebangsaan yang identik.

Di Bahrul Ulum, semangat patriotisme berkobar secara historis lewat lirik Ya Lal Wathon gubahan K.H. Wahab Chasbullah. Semangat membela negara itu pula yang mengkristal di Pesantren Majma’al Bahrain.

​Kiai Tar secara terang-terangan menyematkan kalimat Hubbul Wathon minal Iman (Cinta Tanah Air adalah bagian dari Iman) ke dalam nama resmi pesantrennya. Ia percaya bahwa para kiai di Jombang berfungsi sebagai “filter spiritual” bagi kemerdekaan Indonesia.

Lebih jauh, ia mewajibkan cinta tanah air sebagai satu dari delapan kesanggupan jemaah Shiddiqiyyah, dan dengan penuh rasa hormat menjuluki para pendiri bangsa di Panitia Sembilan sebagai “Walisongo Republik Indonesia”.

Sejarah keterikatan Bahrul Ulum dan Majma’al Bahrain membuktikan bahwa sanad pendidikan di nusantara bukanlah sekadar transfer teks klasik antar generasi, melainkan pewarisan ruh dan visi.

Dari Tambakberas menuju Ploso, dua samudera ini terus bergelombang; mengingatkan kita hari ini bahwa spiritualitas agama dan nasionalisme adalah dua sisi mata uang yang saling menjaga dan menguatkan.***

Daftar Rujukan

  • ​Catatan Sejarah Pendidikan K.H. Muchammad Muchtar Mu’thi di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas.
  • Sejarah Penamaan dan Filosofi Pondok Pesantren Bahrul Ulum (Tambakberas) dan Majma’al Bahrain (Ploso).
  • Arsip Ajaran Nasionalisme dan Doktrin Hubbul Wathon minal Iman dalam Tarekat Shiddiqiyyah.
  • Biografi K.H. Abdul Hamid Chasbullah dan K.H. Wahab Chasbullah dalam konteks pergerakan pesantren Jombang.