Suasana serambi Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta pada perayaan Maulid Nabi atau Sekaten selalu bergemuruh oleh lautan manusia yang berdesakan mencari rida dan berkah istana. Namun, di balik riuhnya alunan gamelan dan tradisi peninggalan wali tersebut, seorang ulama Muhammadiyah justru mengambil langkah tak terduga.
KOSONGSATU.ID – Alih-alih membongkar tradisi secara konfrontatif, Kiai Wardan Diponingrat memilih menyusupkan napas pemurnian akidah (tajdid) ke dalam pusaran adat dengan cara yang sangat elegan: mengubah bahasa kitab sejarah Nabi yang dibaca oleh umat.
Pewaris Takhta Kultural dan Modernisme Islam
Lahir di Kampung Kauman pada 19 Mei 1911, Muhammad Wardan tumbuh di persimpangan dua dunia besar yang kerap dianggap berseberangan: birokrasi tradisional keraton dan gerakan modernisme Islam Muhammadiyah.
Sebagai putra dari K.H. Muhammad Kamaludiningrat, ia tak hanya mewarisi darah abdi dalem santri, tetapi juga ditempa oleh pendidikan lintas kultur. Ia menimba ilmu di Kweekschool Muhammadiyah hingga memperdalam agama di Pondok Pesantren Jamsaren, Surakarta di bawah asuhan Kiai Idris, sembari mengambil kursus bahasa Belanda dan Inggris.
Kedalaman ilmu agama dan keluwesan pergaulannya mengantarkan Kiai Wardan pada posisi yang amat langka. Pada tahun 1956, ia didaulat menjadi Penghulu Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Tak lama berselang, kapasitas keilmuannya juga diakui oleh Persyarikatan Muhammadiyah yang mendaulatnya sebagai Ketua Majelis Tarjih—posisi puncak yang ia pegang selama 22 tahun (1963–1985).
Transformasi Halus di Panggung Maulid Nabi

Perayaan Maulid dan Sekaten kerap memunculkan tegangan sosiologis. Di satu sisi, kerumunan massa yang masif adalah panggung dakwah potensial. Namun di sisi lain, tokoh Muhammadiyah seperti K.H. A.R. Fachruddin prihatin melihat masyarakat yang datang hanya demi ambisi duniawi—seperti berebut air cucian kereta pusaka atau sisa hasil bumi dari Gunungan yang dianggap magis.
Di tengah situasi inilah Kiai Wardan Diponingrat memainkan perannya. Ia menolak jalan radikal yang berpotensi memicu resistensi sosial dari masyarakat akar rumput. Berbekal posisinya sebagai Penghulu Keraton, Kiai Wardan menyusun Risalah Maulid Nabi Muhammad SAW.
Manuskrip berbahasa Jawa ini secara khusus ia gagas untuk dibacakan pada momen puncak perayaan Maulid, menggantikan kitab Barzanji berbahasa Arab yang sebelumnya lazim digunakan.
Dengan bahasa ibu yang mudah dipahami, narasi sejarah Nabi disajikan dengan lebih rasional, membumi, dan bersih dari unsur takhayul, tanpa perlu mengusir masyarakat dari halaman masjid.
Revolusi Waktu: Dari Aboge ke Hisab Hakiki
Manuver Kiai Wardan tidak berhenti pada literatur Maulid. Dengan keahlian falak (astronomi) yang mumpuni, ia merevolusi tata waktu istana yang selama ratusan tahun mengandalkan kalender tradisional Aboge. Sistem lama ini sering kali meleset dari fase bulan faktual di langit.
Secara perlahan, ia berhasil meyakinkan pihak keraton untuk menggeser penentuan hari-hari besar Islam menuju sistem Hisab Hakiki. Paradigma yang dikenal sebagai wujudul hilal inilah yang di kemudian hari diadopsi secara resmi dan menjadi kompas perhitungan kalender hijriah bagi Muhammadiyah hingga saat ini.
Membangun “Pabrik” Ulama di Tengah Krisis
Sebagai ilmuwan yang memijak realitas, Kiai Wardan tak pernah hidup di menara gading. Menjelang akhir 1960-an, ia mencium krisis laten di dalam rahim Muhammadiyah: defisitnya ulama yang menguasai sumber klasik (turats) dan cakap ber-istinbat hukum. Dalam artikelnya di majalah Suara Muhammadiyah (1968), ia menyayangkan ekspansi amal usaha yang pesat tidak dibarengi dengan kualitas kader penerus fatwa tarjih.
Meski awalnya rencana pembuatan sekolah khusus ulama ini kurang mendapat dukungan dari elit pusat yang ingin memaksimalkan lembaga yang sudah ada, Kiai Wardan berkeras. Melalui pendekatan yang gigih, visinya terealisasi. Dalam sebuah catatannya, ia menuliskan peristiwa bersejarah tersebut:
”Maka pada tgl. 12 Muharram 1388 H atau 10 april 1968 M dengan disaksikan oleh PP. Muhammadijah, Pendidikan Kader Ulama Tardjih… dibuka dan diresmikan berdirinja dengan nama PENDIDIKAN ULAMA TARDJIH MUHAMMADIJAH.”
Lembaga inilah yang kini memastikan nyala pemikiran hukum progresif Muhammadiyah tak pernah padam.
Ruang Refleksi
Kisah Kiai Wardan Diponingrat adalah sebuah monumen sejarah yang mengingatkan kita bahwa dakwah tak selamanya tentang konfrontasi konseptual yang kaku. Dari bilik Keraton Yogyakarta dan mimbar Tarjih Muhammadiyah, ia mengajarkan bahwa kebudayaan lokal tak harus selalu dihanguskan demi mencapai kemurnian ajaran agama.
Budaya ibarat sebuah cawan tua; ia tidak perlu dihancurkan, melainkan cukup dicuci bersih lalu diisi kembali dengan air ketauhidan yang jernih. Warisan pendekatannya yang elegan ini tetap menjadi suluh yang relevan bagi bangsa Indonesia dalam merawat harmoni keberagamaan dan kebudayaan di era modern.***




Tinggalkan Balasan