Jauh sebelum seismograf modern memetakan pola patahan bumi, para leluhur di Sulawesi telah membaca ancaman alam melalui rancangan hunian mereka.

KOSONGSATU.ID – Di atas umpak batu, rumah-rumah panggung seperti Banua mBaso di Palu hingga rumah adat Bugis berdiri angkuh menantang guncangan demi guncangan.

Namun, di balik kejeniusan arsitektur masa silam ini, sains modern perlahan menemukan sebuah kerentanan yang tersembunyi.

​Membaca Alam Lewat Kayu dan Pasak

Nenek moyang masyarakat Sulawesi menyadari sepenuhnya bahwa mereka hidup di atas daratan yang rentan berguncang. Alih-alih melawan energi alam, mereka membangun ruang hidup yang berdialog dengan letak geografisnya.

Dosen Teknik Arsitektur Universitas Tadulako, Rifai Mardin, memandang bahwa kearifan ini adalah wujud adaptasi sejati masyarakat masa lampau. “Intinya semua bangunan tradisional atau bangunan vernakular di zamannya tentu sudah memperhitungkan permasalahan sekitar,” tuturnya.

​Fleksibilitas Menari Bersama Gempa

Rahasia ketangguhan arsitektur vernakular ini terletak pada pemilihan material dan teknik sambungannya. Para pendahulu membuang paku besi dari daftar material, menggantinya dengan kelenturan kayu pilihan serta sistem pasak dan ikatan tali. Tiang-tiang penyangga tidak ditanam mati ke dalam tanah, melainkan diletakkan bebas di atas fondasi batu.

Saat gelombang seismik datang, bangunan ini akan “menari” dan bergeser secara dinamis tanpa menghancurkan kerangka utamanya. Desain panggung ini juga terbukti tangguh menghalau binatang buas, bahkan sanggup bertahan dari terjangan tsunami selama gelombangnya tidak membawa puing berukuran masif.

​Ujian dari Simulasi Komputer

Ilustrasi uji stabilitas dinamis struktur rumah adat Bugis. – AI Generate

Meski demikian, apakah kearifan masa lalu tanpa cela di mata sains masa kini? Sebuah riset akademis pada Mei 2022 mencoba menjawab hal tersebut dengan menguji stabilitas dinamis rumah adat Bugis.

Melalui pemodelan skala penuh menggunakan perangkat lunak SAP2000, akademisi Surya Dewi Puspitasari beserta timnya menguji material kayu bitti dan ipi—bahan penyusun utama rumah Bugis—terhadap standar beban dan analisis spektrum respons gempa.

​Celah di Balik Takikan Tiang Utama

Hasil simulasi tersebut membawa temuan yang mengejutkan. Secara umum, sebagian besar elemen struktur aman menahan gaya internal, dengan catatan atap seng menjadi pilihan paling ideal karena bobotnya yang ringan. Namun, analisis tersebut menyingkap bahwa bagian takikan pada kolom atau tiang utama memiliki kerentanan.

Saat terjadi gempa berkekuatan dahsyat, beban kombinasi yang menekan area takikan tersebut berisiko memicu patahan. Hal ini membuktikan bahwa meski dikonsep dengan luar biasa cerdas, komponen rumah adat Bugis tidak sepenuhnya kebal dari risiko struktural tingkat tinggi.

Temuan celah dari simulasi modern ini bukanlah vonis yang meruntuhkan kehebatan arsitektur masa lampau, melainkan sebuah jembatan penghubung antara kearifan leluhur dan teknologi masa kini. Mengetahui titik lemah dari rumah adat Bugis justru memberikan ruang bagi rekayasa sipil modern untuk menyempurnakan warisan tersebut tanpa menghilangkan identitas aslinya.

Kearifan lokal ini telah mengantarkan nenek moyang kita bertahan melintasi zaman, dan dengan sedikit sentuhan mitigasi kekinian, jejak kearifan itu akan tetap kokoh mewariskan cerita keselamatan bagi generasi mendatang.***

Daftar Pustaka:

  • Puspitasari, S. D., Siswosukarto, S., Harahap, S., & Astuti, P. (2022). Analisa Perilaku dan Ketahanan Rumah Adat Bugis terhadap Beban Gempa. Jurnal Teknik Sipil, 16(4), 280-288.
  • Mardin, R. (2018). Rumah Tradisional Sulawesi Tahan Gempa dan Tsunami. Kompas.com. Diakses dari Properti Kompas.