Teknologi isolasi dasar dan filosofi perahu darat membuat rumah adat Omo Hada tegak berdiri meski dihantam gempa dahsyat.

Guru Besar Universitas Indonesia Prof Dr Ir Yuskar Lase, DEA, menegaskan bahwa rumah tradisional Omo Hada merupakan mahakarya konstruksi tahan gempa berbasis kearifan lokal. Desain warisan leluhur Nias ini melampaui rekayasa modern.

Tim peneliti Universitas Sumatera Utara, Isnen Fitri dan Basaria Talarosha, menemukan fakta serupa pascalindu Nias 2005. Rumah kayu ini terbukti utuh saat gempa bermagnitudo 8,7 mengguncang wilayah tersebut.

“Gempa bumi adalah keniscayaan yang tidak dapat dihindari, tetapi dampaknya terhadap bangunan buatan manusia adalah pilihan,” tegas Yuskar.

Sistem Isolasi Dasar

Kajian pascalindu mencatat rumah Omo Hada hanya bergeser sekitar 10 sentimeter tanpa kerusakan berarti. Fakta ini membuktikan keunggulan teknologi tumpuan batu pada bangunan tersebut dalam meredam gelombang seismik.

Tiang-tiang kayu tidak ditanam ke dalam tanah, melainkan hanya diletakkan bebas di atas batu datar yang lebar. Sistem ini memutus rambatan getaran maut bumi ke kerangka utama bangunan.

“Alih-alih melawan gempa, kita harus belajar berinteraksi dengannya. Sliding base adalah cara pandang baru yang membuat bangunan tidak hanya bertahan, tetapi beradaptasi bahkan menari bersama gempa,” ujar Yuskar.

Pertahanan Lateral Bersilang

Kekuatan Omo Hada juga ditopang oleh susunan pilar diagonal yang saling bersilangan. Struktur bawah bangunan memberikan kekakuan lateral luar biasa untuk menahan gaya geser horizontal dari pergerakan tanah.

Peneliti Universitas Nias, Waraslin Zebua, Charsa Alim Lase, Elrica Fajariang Mendrofa, dan Dermawan Zebua turut menganalisis struktur hunian ini. Mereka menyoroti pentingnya sambungan kayu semi-kaku pada arsitektur vernakular Nias.

Dirakit secara presisi tanpa paku logam, sambungan kayu tersebut mampu berdeformasi dan bergeser secara mikro. Konstruksi ini bertindak layaknya sendi plastis dalam rekayasa struktur modern.

Energi gempa secara efektif diserap melalui gesekan internal antar elemen. Hal ini memastikan komponen kayu terhindar dari risiko patah atau hancur berkeping-keping.

Mengubah Paradigma Modern

Desain bangunan ini berakar kuat dari kondisi geografis kepulauan Nias. Nenek moyang menjuluki daerahnya sebagai pulau yang bergoyang, sehingga hunian dirancang bisa berayun layaknya perahu di darat.

Prinsip fleksibilitas pada Omo Hada kini berkembang menjadi teknologi modern. Salah satunya adalah sistem Double Concave Friction Pendulum (DCFP) yang memungkinkan bangunan bergerak relatif terhadap tanah.

Sebelumnya, Yuskar menyoroti masih dominannya pendekatan fondasi kaku (fixed base) pada konstruksi Indonesia. Konsep tersebut membuat bangunan dirancang untuk menahan energi secara kaku, bukan meredamnya.

“Paradoks pembangunan kita adalah membangun hutan beton di atas patahan aktif. Itulah sebabnya kita harus berani mengubah paradigma konstruksi,” pungkas Yuskar.***

Daftar Pustaka:

  • Fitri, Isnen & Talarosha, Basaria. (2006). Rumah Tradisional Nias Pasca Gempa Bumi 2005 Studi Kasus: Desa Bawomataluo, Nias Selatan. HEDS Seminar on Science and Technology (HEDS-SST), Jakarta: Universitas Sumatera Utara.
  • Lase, Yuskar. Struktur Resilien: Transformasi Teknologi Sliding Base dalam Menyongsong Masa Depan Konstruksi Bangunan Nusantara (Pidato Pengukuhan Guru Besar). Universitas Indonesia.
  • Zebua, Waraslin, dkk. Analisis Jenis Struktur Rumah Tinggal di Nias. Gunungsitoli: Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Nias.