Dibangun berdasarkan intuisi tukang tradisional, struktur kayu panggung Rumoh Aceh terbukti secara ilmiah mampu meredam guncangan gempa tektonik berkat sistem pondasi umpak dan pasak elastis.

KOSONGSATU.ID – Peneliti Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala, Erna Meutia, menyatakan arsitektur tradisional Rumoh Aceh sangat adaptif merespons gempa. Hunian warisan leluhur ini tetap kokoh menahan guncangan tektonik yang kerap melanda Aceh.

“Rumah Tradisional Aceh tidak pernah direncanakan sebagai bangunan tahan gempa, melainkan dihasilkan dari tangan-tangan terampil seorang tukang atau utoeh untuk memberikan naungan yang aman,” kata Erna.

Aceh merupakan salah satu zona seismik paling rawan di dunia. Merespons kerentanan ini, masyarakat Aceh kuno merancang rumah kayu yang sepenuhnya beradaptasi dengan karakter alam. Kunci utama ketahanan tersebut bermula dari dasar bangunan, yakni pondasi batu umpak.

Tiang-tiang penyangga sama sekali tidak ditanam secara kaku ke dalam tanah, melainkan hanya diletakkan di atas batu datar yang lebar (batu plinth/umpak). Desain ini memutus hantaran energi merusak langsung dari tanah ke badan bangunan.

“Sistem Pendulum” Tradisional

Elemen Pembentuk Rumah Tradisional Aceh . – Jurnal Arsitektur dan Perkotaan “KORIDOR” vol. 08 no. 01 JANUARI 2017

Secara rekayasa sipil modern, sistem pondasi bebas pada Rumoh Aceh ini bekerja layaknya Friction Pendulum System (FPS) atau sistem isolasi dasar. Pondasi meminimalkan transfer gaya inersia menuju kerangka utama secara drastis.

Berdasarkan pengujian laboratorium menggunakan program SAP 2000, struktur Rumoh Aceh hanya menerima gaya geser dasar sebesar 110 kilonewton saat gempa. Beban ini sangat kecil jika dibandingkan bangunan beton bertulang pada kondisi serupa yang menerima hingga 343,75 kilonewton.

Saat tanah bergetar hebat, dasar tiang-tiang kayu bebas bergeser secara mikro di atas permukaan batu. Pergerakan relatif inilah yang mendisipasikan atau melepaskan energi guncangan seketika, mengubah impuls seismik mematikan menjadi sekadar gerakan berayun.

Berayun Menyelamatkan Nyawa

Kehebatan pondasi ini disempurnakan oleh sistem sambungan kayu mortise-tenon (lubang dan pen) menggunakan pasak dan bajoe. Tanpa paku atau pengait logam, balok dan tiang yang saling menembus membentuk tumpuan sendi (pin joint) yang elastis.

Fleksibilitas sambungan pasak ini memungkinkan seluruh kerangka kayu berayun selaras dengan arah gelombang gempa. Sifat elastis material kayu unggulan, seperti kayu seumantok, mencegah tiang patah meski ditekan gaya transversal maupun longitudinal yang besar.

“Keelastisan ini menyebabkan struktur bangunan tidak mudah patah, namun hanya terombang-ambing ke kanan kiri yang kemudian kembali tegak. Jika bangunan bergeser pun hanya beberapa sentimeter saja dan dalam keadaan utuh,” tulis Widosari dalam jurnal ilmiah “Mempertahankan Kearifan Lokal Rumoh Aceh dalam Dinamika Kehidupan Masyarakat Pasca Gempa dan Tsunami”.

Selain gempa, arsitektur Rumoh Aceh juga dirancang responsif terhadap banjir berkat ruang terbuka pada kolong panggung. Sementara untuk sirkulasi, arah bangunan yang tegak lurus dengan angin menciptakan aliran ventilasi silang (cross ventilation) yang sangat baik bagi kesehatan penghuni.

Sayangnya, kearifan lokal berharga ini perlahan ditinggalkan karena material kayu berkualitas semakin langka dan masyarakat lebih memilih membangun rumah beton konvensional. Padahal, arsitektur leluhur ini menyimpan cetak biru mitigasi bencana yang sangat relevan untuk masa depan.

“Secara keseluruhan masing-masing elemen struktural pembentuk rumah Aceh mampu merespon gempa dalam arah memanjang dan melintang yang ditentukan oleh hubungan konstruksi pada kaki, badan, dan kepala,” kata Erna.***

Daftar Pustaka:

  • Meutia, Erna. (2017). Pemetaan Sistem Struktur Konstruksi Rumah Tradisional Aceh dalam Merespon Gempa. Jurnal Arsitektur dan Perkotaan “KORIDOR”, 8(1), 62-69.
  • Widosari. Mempertahankan Kearifan Lokal Rumoh Aceh dalam Dinamika Kehidupan Masyarakat Pasca Gempa dan Tsunami. Local Wisdom: Jurnal Ilmiah Online.