Kisah KH Abdul Hamid Chasbullah, adik pendiri NU yang memilih jalan sunyi. Hidup bersahaja, zuhud, dan wafat saat mengajar memegang kitab. Warisan sejatinya bukan jabatan, melainkan akhlak yang abadi.
KOSONGSATU.ID – Angin Ramadhan bertiup pelan melintasi bilik-bilik Pesantren Tambakberas, Jombang. Hari itu, bertepatan dengan tanggal 8 Ramadhan tahun 1956, suasana tak jauh berbeda dari hari-hari biasa.
Di hadapan para santri yang duduk bersila menundukkan kepala, KH. Abdul Hamid Chasbullah masih setia membacakan makna kitab wetonan. Suaranya mungkin tak selantang para orator di mimbar politik, namun bagi para santri, itu adalah sumber mata air keteduhan.
Di tengah pengajian, sang kiai bangkit sejenak untuk mengambil air wudu. Setelahnya, ia kembali duduk, melanjutkan deretan makna demi makna. Namun, beberapa saat kemudian, kepala beliau tertunduk. Matanya terpejam layaknya orang yang sedang terlelap, sementara tangannya masih mendekap erat kitab di pangkuannya.
Di hari yang suci itu, napas sang ulama bersahaja ini berhenti. Diam-diam, tanpa keriuhan, Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.
Memilih Sejarah di Pinggiran
Begitulah jalan hidup—dan jalan pulang—seorang Kiai Abdul Hamid Chasbullah. Dalam lanskap sejarah Nahdlatul Ulama (NU) yang kerap didominasi oleh tokoh-tokoh panggung yang gegap gempita, nama beliau mungkin tak menempati etalase utama.
Jika kakaknya kandungnya, KH. Abdul Wahab Chasbullah, adalah “singa podium” yang menggerakkan roda politik nasional dan membesarkan jamiyah NU dari luar, maka Abdul Hamid adalah jangkar penyeimbangnya. Ia memilih sejarah di pinggiran.
Lahir sebagai putra kedua dari delapan bersaudara buah hati KH. Hasbullah Said dan Nyai Lathifah, Mbah Hamid—begitu ia akrab disapa—tumbuh dalam silsilah keluarga penggerak Islam Nusantara. Jaringan keluarganya teramat luas.
Adiknya, Nyai Khodijah, dipersunting KH. Bisri Syansuri, salah satu tokoh sentral berdirinya NU. Sementara adiknya yang lain, KH. Abdurrohim, menikahi keponakan KH. Ahmad Dahlan, sang pendiri Muhammadiyah.
Pengembaraan Intelektual hingga Makkah
Namun, privilese nasab tak lantas membuat hidupnya bermewah-mewah. Alih-alih mengejar kekuasaan, masa muda Abdul Hamid dihabiskan untuk melakoni pengembaraan intelektual yang panjang. Dari bilik Pesantren Bangkalan di bawah asuhan Syaikhona Kholil, ia beringsut ke Langitan, Tuban, lalu mereguk ilmu dari Hadratussyekh KH. Hasyim Asyari di Tebuireng.
Dahaga spiritualnya menuntunnya ke Pesantren Krapyak, Yogyakarta. Di bawah bimbingan KH. Munawwir, ia tercatat sebagai lulusan terbaik ilmu Al-Qur’an, sebelum akhirnya menyempurnakan rute pencariannya ke Makkah al-Mukarromah.
Menjaga Jantung Pesantren Tambakberas
Ironi kehidupan kerap tersembunyi di balik bilik-bilik kesederhanaan. Dengan bekal keilmuan yang melimpah ruah, Mbah Hamid sesungguhnya memiliki segala prasyarat untuk menjadi tokoh sentral di ibu kota. Namun, ketika tiba waktunya membesarkan Tambakberas, sebuah kolaborasi tak tertulis membagi peran para pewaris.
Sang kakak, Kiai Wahab, didaulat mengurus urusan eksternal. Kiai Abdurrohim mengelola administrasi madrasah. Dan Kiai Hamid? Ia memilih ngopeni jantung pesantren itu sendiri: mengasuh pengajian pondok, menjaga shalat lima waktu, dan memimpin rutinan istigasah bersama para kiai kampung di Kalijaring setiap larut malam.
Laku Zuhud di Tengah Keterbatasan
Jalan sunyi ini bukan tanpa ujian. Sejarah mencatat betapa Kiai Hamid sangat masyhur dengan laku zuhud, kebiasaan daimul wudlu (menjaga kesucian sepanjang waktu), dan kesederhanaannya.
Kondisi ekonomi keluarganya kerap kali tertatih-tatih. Untuk sekadar membiayai kebutuhan dapur, periuk nasi keluarganya tak jarang kesulitan. Namun, keterbatasan materi itu tak pernah sedikit pun mengebiri keikhlasannya dalam mengayomi ratusan santri.
Mushaf Tulisan Tangan dan Warisan Akhlak
Bila kebesaran diukur dari mahakarya, maka warisan paling monumental dari Kiai Hamid bukanlah menara kekuasaan. Ia mewariskan sebuah mushaf Al-Qur’an 30 juz yang ia selesaikan secara utuh menggunakan tulisan tangannya sendiri.
Seperti yang diabadikan dalam buku Sendang Winotan: Kisah Teladan dan Amalan KH Abdul Hamid Chasbullah, kita diajak membaca ulang makna sebuah peninggalan. Buku yang digagas dari kesaksian sejarah lisan santri dan keluarga ini mengingatkan kita pada satu hal fundamental: warisan sejati seorang ulama tidak terletak pada deretan gelar atau manuver di pusaran muktamar. Warisan itu mengalir layaknya sendang (mata air), menghidupi jiwa-jiwa lewat laku akhlak yang diturunkan dari dada ke dada.
Penjaga Nyala Api yang Sesungguhnya
Di tengah hiruk-pikuk zaman yang terus mendewakan pencapaian struktural, jejak hening Kiai Abdul Hamid Chasbullah seakan menampar kesadaran kita. Beliau membuktikan bahwa sejarah tidak hanya digerakkan oleh mereka yang berdiri di bawah sorot lampu, melainkan juga oleh mereka yang memilih duduk di atas tikar kusam, memegang kitab, dan menyerahkan napas terakhirnya dalam pelukan ilmu.
Di Tambakberas, nama sang kakak mungkin abadi di buku-buku sejarah politik bangsa, namun napas spiritual pesantren itu tak bisa dilepaskan dari detak jantung Mbah Hamid. Dialah penjaga nyala api yang sesungguhnya.***
Rujukan:
Fathurrohman, Ahsani & Panatapraja, Fathul H. (Penyusun). Sendang Winotan: Kisah Teladan dan Amalan KH Abdul Hamid Chasbullah. Tulisan oleh KH Ainur Rofiq Al-Amin dan KH Muhammad Syifa’ Malik, dengan sambutan dari KH Abdurrozaq Sholeh.





Tinggalkan Balasan