BMKG memperingatkan kemarau dan El Niño meningkatkan risiko karhutla. Polri mencatat 7.872 titik api aktif hingga 22 Agustus 2026.

KOSONGSATU.ID – El Niño berkategori sangat kuat dan musim kemarau yang semakin meluas meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan di Indonesia pada akhir Agustus 2026.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mencatat 559 Zona Musim atau 79,9 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau pada Dasarian II Agustus. Sebagian besar wilayah juga mengalami curah hujan rendah dan sifat hujan di bawah normal.

“Pengaruh El Niño kategori sangat kuat dan Indian Ocean Dipole positif masih menjadi faktor utama yang mendukung kondisi kering di sebagian besar wilayah Indonesia,” demikian keterangan BMKG pada Senin, 24 Agustus 2026.

Berkurangnya curah hujan membuat vegetasi dan permukaan tanah semakin kering. Kondisi tersebut meningkatkan kerentanan terhadap kekeringan dan karhutla, terutama di Sumatera dan Kalimantan.

Ribuan Titik Api Masih Aktif

Risiko itu telah terlihat dari skala kebakaran di lapangan. Data Kepolisian Negara Republik Indonesia hingga Sabtu, 22 Agustus 2026, menunjukkan luas lahan yang terbakar secara nasional mencapai 64.341 hektare.

Sekitar 39.999 hektare atau 62 persen dari luas tersebut telah dipadamkan dan dikendalikan. Namun, ribuan titik api masih ditemukan di sejumlah wilayah.

Kepala Biro Pembinaan Operasi Staf Utama Operasi Polri Brigadir Jenderal Auliansyah Lubis mengatakan 48.656 titik panas terdeteksi secara nasional. Verifikasi lapangan mengonfirmasi 7.872 titik di antaranya sebagai titik api aktif.

“Data ini kami ambil 22 Agustus 2026, mungkin tidak bisa menjadi pedoman karena ini selalu bertambah, bahkan jam per jam,” kata Auliansyah pada Minggu, 23 Agustus 2026.

Kalimantan Barat mencatat jumlah titik api terbanyak, yakni sekitar 2.849 titik. Setelah itu terdapat Riau dengan 1.201 titik, Sumatera Selatan 1.105 titik, Kalimantan Selatan 738 titik, dan Kalimantan Tengah 674 titik.

Polri menyiagakan 71.714 personel untuk menangani karhutla bersama Tentara Nasional Indonesia, Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Manggala Agni, pemerintah daerah, dan masyarakat.

Gambut Semakin Rentan Terbakar

El Niño tidak secara langsung memicu api. Fenomena tersebut mengurangi pasokan uap air dan curah hujan, sehingga musim kemarau menjadi lebih kering.

Ketika tanah, vegetasi, dan gambut kehilangan kelembapan, sumber api dari pembakaran lahan atau aktivitas manusia lainnya lebih mudah berkembang menjadi kebakaran luas.

Kebakaran gambut juga lebih sulit ditangani karena api dapat menjalar di bawah permukaan tanah. Api semacam ini mampu bertahan lama sekaligus menghasilkan asap dalam jumlah besar.

Karena itu, pencegahan tidak hanya bergantung pada pemadaman. Pembasahan gambut, penyediaan embung dan sumur bor, pembangunan sekat kanal, serta patroli di kawasan rawan diperlukan sebelum api muncul.

BMKG mendeteksi titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi pada 23 Agustus 2026 sebanyak 299 titik di Sumatera, 383 titik di Kalimantan, serta 186 titik di Papua dan Maluku.

Sebaran asap juga terpantau di sejumlah wilayah Sumatera, Kalimantan, Maluku, dan Papua. Sebagian asap terbawa angin ke daerah di sekitarnya.

Kondisi kering diperkirakan masih berlangsung hingga September. Meski hujan lokal tetap berpotensi turun, BMKG meminta masyarakat tidak membakar sampah ataupun membuka lahan dengan api, terutama di kawasan gambut, semak belukar, dan hutan.

“Segera melaporkan jika menemukan indikasi titik api,” demikian imbauan BMKG.***