Bale Balaq di Lombok membuktikan ketangguhannya saat gempa 2018 berkat teknologi sambungan elastis dan fondasi batu tanpa pasak besi yang meredam guncangan secara optimal.

KOSONGSATU.ID – Peneliti arsitektur tradisional Sasak, Lalu Gunawan, menegaskan Bale Balaq tetap tegak saat gempa bermagnitudo 7 mengguncang Lombok pada 2018. Bangunan ini terbukti memiliki mitigasi seismik yang sangat tangguh. Kunci utamanya ada pada desain sambungan elastis tiang.

“Koneksi antara tiang atau teken dengan sendi batu sungai sama sekali tidak menggunakan pasak besi,” kata Gunawan. Struktur atas hanya diletakkan bebas di atas tumpuan batu datar. Hal ini membuat gaya gesek hanya memengaruhi bagian atas saat gempa.

Sebelumnya, banyak pihak meragukan kekuatan rumah berbahan alami tersebut. Selain itu, ketiadaan paku logam sering dianggap sebagai kelemahan struktural. Faktanya, sistem tanpa paku ini justru menjadi keunggulan utama Bale Balaq meredam getaran.

Sistem Isolasi Dasar Alami

Bagian struktur bangunan Bale Balaq. – AI Generate

Dalam bahasa Sasak, tiang disebut tekan karena menekan alas tumpuan secara presisi. Berat bangunan itu sendiri yang mengunci posisi tiang agar tidak goyah. Sistem ini bekerja sebagai isolasi dasar alami yang memutus rambatan guncangan dari tanah.

Sambungan antar kayu murni menggunakan sistem pasak atau pen yang fleksibel. Saat bumi berguncang, energi gempa diserap melalui gesekan mekanis komponen kayu. Guncangan diubah menjadi perpindahan terkendali sehingga material kayu tetap utuh.

Ruang kosong di bawah rumah panggung juga berfungsi sangat krusial. Area kolong ini menjadi zona disipasi energi yang membebaskan struktur untuk bergerak dinamis. Bangunan merespons gaya seismik tanpa hambatan langsung dari pergeseran tanah.

Kapasitas Simpangan Tingkat Tinggi

Penggunaan bambu dan atap ilalang meminimalkan beban bangunan secara drastis. Gaya gempa yang merusak selalu berbanding lurus dengan berat total struktur. Massa yang ringan otomatis menekan gaya inersia yang diterima kerangka bangunan secara keseluruhan.

“Kapasitas rasio simpangan struktur tradisional Sasak ini sangat tinggi, melampaui batas minimum 3,5 persen bangunan modern,” ujar Gunawan.

Lumbung pangan atau Geleng di Desa Sembalun bahkan mencatat rasio simpangan hingga mencapai angka 72 persen.

Tingginya rasio simpangan menciptakan area kurva histeretik yang begitu besar. Bangunan menjadi sangat fleksibel mengayun mengikuti gelombang seismik yang datang. Semakin lentur sebuah bangunan, semakin banyak energi gempa yang berhasil diredam sempurna.

Filosofi Kehidupan Suku Sasak

Atap depan dibuat lebih rendah agar setiap tamu menunduk sebagai wujud penghormatan. Pengunci kayu bernama tombol melambangkan keseimbangan hidup dengan sesama manusia. Desain pintu kembar kuri turut mencerminkan keselarasan manusia dan alam semesta.

Ujung atap bersilang disiapkan khusus untuk ayam bertengger agar suaranya membangunkan warga. Bangunan berugak di depan rumah dikhususkan untuk tamu dan tempat istirahat anak laki-laki. Hal ini dirancang khusus demi menjaga privasi seluruh penghuni di rumah utama.

Jumlah tiang penyangga menunjukkan status sosial, mulai dari enam tiang untuk warga biasa. Fondasi batu alam berpesan agar manusia selalu bekerja teguh sesuai dengan kemampuannya. “Jika manusia menjaga alam, maka alam akan melindungi manusia,” kata Gunawan.***

Daftar Pustaka:

  • Kajian Mitigasi Seismik dan Elastisitas Bangunan Bale Balaq Suku Sasak, Lombok.
  • Analisis Rasio Simpangan (Drift Ratio) pada Lumbung Padi Tradisional (Geleng) Desa Sembalun dan Senaru.
  • Rekayasa Sambungan Pasak Kayu dan Isolasi Dasar pada Arsitektur Vernakular Nusantara.
  • Nilai Filosofis dan Ekologis dalam Konstruksi Rumah Tradisional Suku Sasak.