Pernyataan ini menyoroti pasokan senjata dari Washington kepada militer Israel yang dinilai memperparah krisis kemanusiaan di Palestina.

KOSONGSATU.ID – Wali Kota New York Zohran Mamdani secara terbuka menyoroti keterlibatan Amerika Serikat dalam dugaan genosida di Jalur Gaza. Pernyataan ini disampaikan bertepatan dengan peringatan tiga tahun agresi militer Israel ke wilayah Palestina pada Rabu, 7 Oktober 2026.

“Penderitaan terus berlanjut melalui genosida yang menghancurkan dan masih berlangsung di Gaza yang dilakukan oleh pemerintah Israel,” kata Mamdani.

Tragedi Berkelanjutan di Gaza

Ihwal eskalasi konflik, Mamdani tidak menampik bahwa ketegangan memuncak usai serangan milisi Hamas ke wilayah Israel pada 7 Oktober 2023. Insiden awal tersebut mengakibatkan lebih dari 1.000 warga Israel tewas dan berujung pada penculikan 251 orang lainnya.

Namun, ia mengingatkan publik internasional untuk melihat penderitaan rakyat Palestina secara utuh. Dampak gempuran balasan tanpa henti dari militer Israel dilaporkan telah menewaskan lebih dari 74.000 warga Palestina, di mana lebih dari 21.000 di antaranya adalah anak-anak.

“Kami berduka bersama begitu banyak teman dan tetangga kami yang masih menanggung kehilangan yang tak terbayangkan itu. Namun, penderitaan tersebut tidak dimulai maupun berakhir pada hari itu,” ujar Mamdani seperti dikutip dari Middle East Monitor.

Pasokan Senjata Washington

Selain itu, kecaman juga ditujukan secara spesifik kepada pemerintahan Amerika Serikat di Gedung Putih. Mamdani menyoroti derasnya aliran bantuan senjata yang difasilitasi oleh Washington sepanjang konflik berlangsung.

Menurutnya, peran serta Amerika Serikat telah memperpanjang krisis kemanusiaan di wilayah tersebut. Langkah Washington yang memfasilitasi aksi militer lewat pengiriman amunisi secara berkala dinilai makin menyengsarakan rakyat Gaza.

Menolak Sistem Apartheid

Mamdani lantas mengajak masyarakat global untuk mengambil sikap berani dalam merespons tragedi ini. Ia mendesak penolakan tegas terhadap praktik pendudukan dan sistem apartheid yang dinilainya terus dipelihara di tanah Palestina.

Ia menegaskan bahwa satu-satunya cara bermartabat untuk menghormati jiwa-jiwa yang gugur adalah dengan menghentikan kekerasan.

“Untuk menghormati mereka yang telah meninggal, kita harus memperjuangkan dunia di mana setiap orang dapat hidup dalam kebebasan, keamanan, dan martabat,” tutur Mamdani.***