Jauh sebelum rumah sakit berdiri, masyarakat lereng Gunung Gede telah memiliki sistem medis mumpuni. Kearifan herbal ini terekam secara sistematis dalam sebuah naskah kuno yang kini tersimpan di Leiden, saksi bisu kehebatan leluhur Sunda.

KOSONGSATU.ID – Jauh sebelum fondasi rumah sakit pertama dibangun di tatar Cianjur pada tahun 1925, masyarakat yang bermukim di kaki Gunung Gede rupanya tak pernah menyerah pada penyakit. Mereka telah membangun ketahanan dan sistem kesehatan yang mapan, mengandalkan kekayaan alam yang terhampar di pekarangan.

Kepingan sejarah luhur ini tak sekadar menguap sebagai tutur lisan, melainkan terdokumentasi dengan apik dalam sebuah manuskrip langka yang kini terawat ribuan kilometer dari tanah asalnya, tepatnya di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda.

Manuskrip berusia 134 tahun dengan kode cod.od.7892 tersebut bertajuk “Ngaran Ubar-ubaran Urang Gunung” (Nama Obat-obatan Orang Pegunungan). Di antara ratusan koleksi naskah Nusantara di negeri kincir angin, dokumen ini berdiri sebagai saksi bisu betapa masyarakat Pasundan masa lampau telah memiliki kesadaran literasi medis yang melampaui zamannya.

Harta Karun dari Catatan Sang Penghulu

Keistimewaan manuskrip ini terletak pada kelangkaannya. Filolog dari Universitas Indonesia yang juga Ketua Manassa Pusat, Munawar Holil (akrab disapa Kang Mumu), menyebutkan bahwa dari total 789 manuskrip Sunda di Leiden, Ngaran Ubar-ubaran Urang Gunung adalah satu-satunya naskah yang secara spesifik membedah dunia pengobatan tradisional.

Kelahiran naskah ini tak lepas dari jejak peneliti Belanda, Snouck Hurgronje, yang berkunjung ke Cianjur pada 1892. Takjub melihat cara warga lokal menyembuhkan diri, Snouck lantas meminta bantuan Penghulu Besar Cianjur saat itu.

Pada masa tersebut, seorang penghulu tidak hanya mengurus pernikahan, tetapi juga diposisikan sebagai tokoh berpengetahuan luas, termasuk dalam hal pengobatan tradisional.

Sang penghulu pun menyusun daftar penyakit yang kerap mendera warga sekaligus merumuskan ramuan penyembuhnya.

Menariknya, manuskrip ini tidak ditulis dalam aksara Sunda kuno (seperti naskah pra-Islam) maupun huruf Latin, melainkan menggunakan aksara Arab Pegon Sunda. Hal ini merefleksikan kuatnya tradisi pendidikan pondok pesantren di Cianjur kala itu.

Meski berwujud huruf Arab, sistem penulisan ini telah disesuaikan dengan pelafalan lokal sehingga dibaca dalam bahasa Sunda.

Sistematisasi Medis yang Melampaui Zaman

Hal yang paling mengagumkan dari warisan karuhun ini adalah detail dan modernitas tata letaknya. Berbeda dengan naskah kuno pada umumnya yang ditulis dalam bentuk narasi panjang atau bait puisi, penulis naskah ini menyusun informasi ke dalam tiga kolom yang sangat rapi dan fungsional.

Kolom pertama mencatat nama penyakit, kolom kedua menjabarkan nama obatnya, dan kolom ketiga merinci cara pengaplikasiannya—mulai dari yang diminum, dimakan, hingga dioleskan.

Naskah ini merangkum sekitar 40 jenis penyakit umum di masa itu, seperti sakit kepala hingga penyakit kulit. Lebih menakjubkan lagi, satu jenis penyakit bisa memiliki hingga 14 alternatif penyembuhan.

Sebanyak 90 persen bahan baku yang dicatat mengandalkan kekuatan herbal dan rempah yang tumbuh subur di Tanah Sunda. Kekayaan informasi ini menegaskan bahwa masyarakat yang kerap dijuluki urang gunung ini sejatinya memiliki kecerdasan medis berbasis empiris.

Keberadaan naskah ini membuktikan proses panjang observasi dan praktik peracikan obat tradisional yang dilakukan secara turun-temurun, jauh sebelum layanan medis kolonial merambah desa-desa mereka.

Relevansi Herbal Kuno untuk Masa Depan

Sebagian isi manuskrip Ngaran Ubar-ubaran Urang Gunung. (FB Munawar Holil)

Nilai naskah ini tidak berhenti sebagai benda pameran museum. Relevansinya justru semakin kuat di era modern. Dosen Fakultas Ilmu Budaya Unpad, Elis Suryani Nani Sumarlina, memandang bahwa rempah dan obat tradisional yang terekam dalam naskah Sunda memiliki peran krusial, bahkan dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan imunitas tubuh dalam menghadapi berbagai krisis kesehatan kontemporer.

Setidaknya, 36 jenis tanaman obat di dalam naskah tersebut dapat dikonsumsi sesuai jenis penyakitnya, asalkan melalui penelitian dosis dan cara pengolahan yang tepat oleh para ahli.

Lebih jauh, analisis terhadap naskah obat-obatan Sunda juga mengungkap jejak perniagaan rempah masa lalu. Dosen FIB Unpad Rahmat Sopian mencatat bahwa dari ragam daun, kulit batang, akar rimpang, hingga biji-bijian yang disebutkan dalam berbagai naskah lokal, terlihat indikasi hubungan perdagangan antara masyarakat Jawa Barat dengan wilayah timur Nusantara seperti Papua dan Maluku.

Pemerintah Kabupaten Cianjur pun tak tinggal diam merespons temuan berharga ini. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur, Made Setiawan, menegaskan komitmennya untuk membedah lebih dalam kearifan lokal tersebut.

Langkah penerjemahan teks dari aksara Pegon ke huruf Latin akan segera diupayakan, sejalan dengan fokus pemerintah daerah yang tengah menggalakkan kembali pengobatan herbal untuk kesejahteraan masyarakat luas.

Karya leluhur yang sempat “terasing” di Eropa ini, pada akhirnya siap pulang menjadi panduan kesehatan bagi generasi penerusnya.***