Di tengah pesatnya modernisasi teknik konstruksi dan penggunaan rangka baja ringan, tradisi adek kudo tetap dipertahankan oleh masyarakat perdesaan Jawa sebagai ritual keselamatan dan ungkapan rasa syukur sebelum menaikkan atap rumah.

KOSONGSATU.ID — Praktik kebudayaan yang berakar dari tradisi gotong royong tersebut masih lazim dijumpai di wilayah Kabupaten Gresik, Jawa Timur, khususnya ketika pembangunan fisik hunian memasuki fase pemasangan balok kuda-kuda penopang atap.

Di Desa Leran, Kecamatan Manyar, tahapan ini bukan sekadar urusan teknis pertukangan semata, melainkan momentum komunal yang mempertemukan pemilik rumah, para tukang bangunan, tetangga, serta tokoh masyarakat sekitar.

Bagi warga yang masih melestarikannya, momen berdirinya kerangka atap menjadi ruang berkumpul bersama, saling menyapa, dan mempererat silaturahmi antarkeluarga di lingkungan permukiman.

Dalam laporan lapangan pegiat literasi lokal Nur Laili Assyafitri pada Senin (12/10), prosesi ini dirangkai dengan selamatan dan doa bersama guna memohon keselamatan selama tahapan pekerjaan fisik berlangsung.

Konstruksi Kuda-Kuda dan Ragam Istilah Lokal

Dalam teknik arsitektur bangunan, rangka kuda-kuda berfungsi sebagai penopang utama atap yang menentukan kekuatan serta kestabilan struktur hunian secara menyeluruh.

Pemasangan bagian krusial ini dipandang sebagai salah satu titik balik terpenting dalam proses pembangunan karena menandai kesiapan fisik bangunan menopang atap pelindung.

Istilah adek kudo dalam penggunaan bahasa lokal merujuk secara harfiah pada kegiatan mendirikan atau menaikkan rangka penopang segitiga tersebut ke atas dinding rumah.

Di sejumlah wilayah lain di Jawa Timur, tradisi pemasangan bagian utama atap ini juga dikenal luas dengan istilah munggah molo atau munggahna kudo-kudo.

Meskipun memiliki keterkaitan erat, para pemerhati budaya mencatat bahwa penyebutan adek kudo dan munggah molo tidak selalu merujuk pada prosesi adat yang sama persis.

Perbedaan nama maupun tata cara pelaksanaan di lapangan sangat dipengaruhi oleh kebiasaan turun-temurun serta variasi adat yang berkembang di masing-masing daerah.

Makna Tiga Lapis dan Nilai Guyub Rukun

Bagi masyarakat Jawa, tradisi mendirikan rangka atap ini mengandung tiga lapis makna penting yang menyangkut kehidupan sosial dan keagamaan.

Makna pertama berwujud ungkapan rasa syukur mendalam kepada Allah SWT karena pembangunan tempat tinggal telah berhasil mencapai tahapan penting.

Makna kedua berupa ikhtiar batin memohon keselamatan kerja bagi para tukang serta perlindungan bagi seluruh pihak yang terlibat dari ancaman kecelakaan fisik.

Sementara makna ketiga mencerminkan harapan agar rumah yang selesai dibangun kelak menjadi tempat bernaung yang tenteram, nyaman, serta melimpahkan kebaikan bagi keluarga.

Kegiatan selamatan biasanya dilengkapi dengan pembagian hidangan makanan kepada tetangga dan pekerja, yang secara nyata merawat nilai kebersamaan dan keguyuban di lingkungan perdesaan.

Para tetua mengingatkan bahwa doa keselamatan ini merupakan bagian dari ikhtiar spiritual warga, bukan sebuah keyakinan mistis yang menjamin masa depan penghuni secara mutlak.

Kelenturan Tradisi dan Pergeseran Material Modern

Pelaksanaan adek kudo di perdesaan Jawa dipahami sebagai tradisi kemasyarakatan yang bersifat luwes dan tidak memberatkan kondisi finansial keluarga.

Setiap keluarga memiliki keleluasaan penuh untuk menyesuaikan bentuk selamatan, jenis hidangan, serta susunan acara berdasarkan kemampuan ekonomi masing-masing.

Pemerintah desa dan tokoh masyarakat setempat senantiasa menekankan bahwa mutu bangunan fisik dan keselamatan para pekerja harus tetap menjadi prioritas utama di atas pelaksanaan seremoni adat.

Perkembangan kawasan industri di pesisir Gresik serta maraknya penggunaan material fabrikasi modern seperti baja ringan turut mengubah lanskap pertukangan tradisional.

Riset Fridah Indah Sari (2014) mengenai ritual di Sidoarjo serta kajian antropologi Universitas Muhammadiyah Malang tahun 2024 menunjukkan bahwa warga tetap mempertahankan nilai doa selamatan kendati struktur kayu kini banyak digantikan material modern.

Pendokumentasian langsung dari keterangan warga, tokoh agama, dan pemilik rumah di Desa Leran dinilai krusial agar pencatatan tidak hanya berpatokan pada gambaran umum adat Jawa, melainkan mampu merekam ciri khas lokal dan adaptasi budaya antargenerasi. 

Melalui pencatatan yang akurat, tradisi adek kudo dapat terus dikenali sebagai kekayaan budaya masyarakat sekaligus bahan pembelajaran berharga bagi generasi berikutnya tanpa menghambat laju kemajuan teknologi konstruksi.(Nur Laili Assyafitri/Kontributor)


Daftar Rujukan