Bo’ Sangaji Kai dan Kidung Bhuwana Wināśa memperoleh pengakuan regional UNESCO. Keduanya menyimpan sejarah perdagangan, bencana, dan perlawanan terhadap kolonialisme.
KOSONGSATU.ID — Sejarah Nusantara tersimpan dalam beragam suara: catatan pemerintahan, kesaksian bencana, hingga puisi tentang perang. Dua di antaranya kini mendapat pengakuan UNESCO.
Bo’ Sangaji Kai dari Bima dan Kidung Bhuwana Wināśa dari Bali ditetapkan dalam Register Ingatan Dunia kawasan Asia-Pasifik pada Kamis, 5 November 2026, di Jakarta.
Penetapan berlangsung dalam Pertemuan Umum ke-11 Memory of the World Committee for Asia and the Pacific atau MoWCAP. Perpusnas mengajukan keduanya bersama lembaga pelestari dan pemerintah daerah.
Kepala Perpusnas E. Aminudin Aziz mengatakan pengakuan tersebut perlu diikuti pengkajian dan pemanfaatan isi naskah.
“Naskah ini perlu dimanfaatkan dan bisa menjadi sumber rujukan untuk pendidikan karakter bagi bangsa kita,” katanya, seperti dilaporkan Antara, Jumat, 6 November.
Dari Perdagangan Bima hingga Letusan Tambora
Bo’ Sangaji Kai merekam sejarah dan kebudayaan Kesultanan Bima sejak abad ke-17 hingga abad ke-19. Isinya menjangkau kehidupan pemerintahan, hubungan antarkerajaan, perdagangan, dan tradisi masyarakat.
Catatan itu menunjukkan hubungan Bima dengan kawasan di sekitarnya. Melalui naskah tersebut, peneliti dapat menelusuri bagaimana pemerintahan dan masyarakat setempat berhubungan dengan dunia luar.
Di antara halaman sejarahnya terdapat kesaksian letusan Gunung Tambora pada 1815. Naskah ini juga menyimpan informasi mengenai penguasa perempuan dan perlindungan hukum bagi perempuan.
Gubernur Nusa Tenggara Barat Lalu Muhamad Iqbal mendorong agar kandungan Bo’ Sangaji Kai diterjemahkan dan diolah menjadi bahan pembelajaran, terutama bagi generasi muda di wilayah budaya Mbojo.
Menurut keterangan Pemprov NTB, bagian yang relevan dapat dikembangkan menjadi materi sejarah daerah dan muatan lokal dengan melibatkan ahli naskah, sejarawan, serta pendidik.
Puputan Bali dalam Suara Pujangga Lokal
Jika Bo’ Sangaji Kai menyimpan catatan panjang sebuah kesultanan, Kidung Bhuwana Wināśa membawa pembaca pada pengalaman masyarakat Bali dan Lombok menghadapi kolonialisme Belanda.
Ida Pedanda Ngurah menulisnya pada 1918. Naskah tersebut terdiri atas 55 lempir daun lontar dengan 383 bait dalam empat pupuh.
Di dalamnya terdapat kisah diplomasi, konflik, dan perlawanan, termasuk keterlibatan perempuan dalam Puputan Badung pada 1906 serta Puputan Klungkung pada 1908.
Karya itu merupakan autograf, yakni naskah yang ditulis langsung oleh pengarangnya. Nilainya terletak pada bentuk sastra sekaligus sudut pandang lokal yang dibawanya ketika merekam pengalaman kolonialisme.
Kedua naskah tersebut menjadi bagian dari tiga warisan dokumenter Indonesia yang ditetapkan dalam sidang MoWCAP tahun ini. Satu lainnya ialah koleksi jejaring sastra Asia Tenggara dari Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin.
Bagi Perpusnas, pengakuan itu membuka pekerjaan berikutnya: menghadirkan isi manuskrip dalam bacaan yang dapat dijangkau generasi masa kini. Catatan lama dapat terus digunakan untuk memahami sejarah yang direkam para penulisnya. ***




Tinggalkan Balasan