Atiqah Hasiholan mempelajari rencong untuk memerankan Malahayati. Filmnya segera tayang, sementara pemutaran di Aceh masih disiapkan.
KOSONGSATU.ID — Menjelang penayangan pada 12 November 2026, film ini mempertemukan urusan tubuh pemeran, kebebasan mengolah sejarah, dan akses warga terhadap tontonan.
Rencong Tidak Mengikuti Genggaman
Atiqah menyebut latihan koreografi dan penggunaan rencong berlangsung sekitar dua bulan bersama Jonathan Ozoh. Yang harus dibiasakan terlebih dahulu adalah cara memegangnya.
“Soalnya agak kayak janggal gitu pas awal-awal ya, karena kan cara megangnya agak beda.”
Pengakuan dalam laporan Popers.id itu memperlihatkan pekerjaan di balik adegan laga. Senjata tradisional membawa tuntutan gerak yang harus dipelajari pemerannya.
Namun, keterangan tentang latihan tidak otomatis membuktikan ketepatan sejarah setiap gerakan. Naskah promosi dan penilaian ahli senjata memiliki fungsi yang berbeda.
Atiqah juga menghadapi pekerjaan yang tidak bisa diselesaikan dengan mengayunkan senjata: berbicara dengan logat Aceh tanpa kehilangan kewajaran dialog.
Dalam laporan Antara pada 30 September 2026, ia menjelaskan bahwa salah pelafalan dapat membuat aksennya terdengar menyerupai dialek daerah lain.
“Jadi kita harus hati-hati banget. Tapi kita kan juga harus natural.”
Cut Mini turut mengakui kesulitan menjaga logat meskipun sudah familier dengannya. Kedekatan dengan sebuah bunyi rupanya belum menjamin bunyi itu mudah dipertahankan sepanjang produksi.
Antara mencatat persiapan Atiqah berlangsung dua hingga tiga bulan, meliputi aksi dan aksen. Ini lebih luas daripada keterangan dua bulan untuk latihan rencong dan koreografi.
Kedua keterangan tersebut tidak perlu dipaksa menjadi satu durasi yang seragam. Bagian latihan dan waktu penyampaian informasinya berbeda.
Sejarah Memasuki Ruang Fantasi
Archie Hekagery menulis sekaligus menyutradarai film produksi Manara Films ini. Ia memilih fantasi untuk membawa fragmen perjuangan Malahayati kepada penonton muda.
Dalam konferensi pers pada 30 September 2026, menurut Antara, Archie menjelaskan bahwa ia mengambil sebagian fragmen sejarah lalu mengembangkannya menjadi film fantasi.
Pilihan itu perlu disebut sejak awal. Penonton berhak mengetahui kapan mereka sedang mengikuti cerita rekaan yang memakai tokoh sejarah sebagai sumber inspirasi.
Sinopsis Lembaga Sensor Film (LSF) menempatkan cerita di Selat Malaka pada 1599. Malahayati digambarkan telah meninggalkan jabatan militernya dan tinggal di perkampungan nelayan.
Serangan pasukan Belanda kemudian membuatnya kembali memimpin perlawanan. Para perempuan yang kehilangan suami berkumpul dan berlatih untuk mempertahankan keluarga serta kampung mereka.
Rangkaian tersebut merupakan cerita film. Pembakaran kampung, percakapan tokoh, dan susunan pertempurannya perlu diperiksa tersendiri sebelum disebut sebagai peristiwa sejarah.
LSF mencantumkan tokoh lawan bernama Cornelis van De Kraker, diperankan Ron Smoorenburg. Nama dalam sinopsis ini juga perlu dibedakan dari Cornelis de Houtman dalam literatur sejarah.
Pembedaan itu membantu pembaca menikmati fantasi tanpa membawa pulang seluruh adegan sebagai catatan masa lalu. Tiket bioskop memang tidak dilengkapi catatan kaki.
Atiqah tampil bersama Cut Mini, Muzakki Ramdhan, Emil Kusumo, Fergie Brittany, dan Ully Triani. Kehadiran para pemain menopang cerita kelompok perempuan yang dibangun film ini.
Angka Seribu dan Ingatan Sejarah
Inong Balee memiliki pijakan dalam penulisan sejarah Aceh. Namun, angka pada judul film tidak dengan sendirinya menetapkan jumlah anggota pasukan yang sebenarnya.
Publikasi Balai Pelestarian Nilai Budaya Banda Aceh tahun 2014 menyebut armada itu awalnya berkekuatan 1.000 janda, kemudian bertambah dengan bergabungnya perempuan muda.
Sementara itu, rilis Pemerintah Aceh pada 23 November 2021 menyebut Malahayati memimpin 2.000 anggota Inong Balee. Angka yang beredar dalam sumber resmi pun berbeda.
Kedua publikasi tersebut bukan daftar personel sezaman. Perbedaan itu membuat jumlah pasukan perlu disertai atribusi, bukan diperlakukan sebagai hitungan yang sudah selesai.
Pembacaan arkeologis juga menyediakan rem bagi cerita yang terlalu lancar. Ery Soedewo membahas pasukan perempuan dalam Berkala Arkeologi Sangkhakala edisi Juni 2001.
Tulisan terbitan Balai Arkeologi Medan itu menguraikan keberadaan Inong Balee melalui literatur. Ia juga mencatat sisa benteng yang oleh masyarakat disebut Benteng Inong Balee.
Namun, hubungan benteng tersebut dengan Malahayati dan pasukannya belum dapat dipastikan dalam kajian itu. Nama yang diwariskan masyarakat belum otomatis menjawab semua pertanyaan arkeologis.
Catatan tersebut tidak menghapus peran perempuan Aceh. Ia menunjukkan bahwa ingatan lokal, tulisan sejarah, dan bukti material dapat memiliki tingkat kepastian berbeda.
Di sinilah film dapat membuka pintu rasa ingin tahu. Sesudah mengenal tokohnya, penonton masih mempunyai alasan untuk mencari buku, mengunjungi situs, dan memeriksa sumber lain.
Pahlawannya dari Aceh, Layarnya Menyusul
Rencana pemutaran di Aceh disampaikan Archie dalam konferensi pers pada 2 November 2026. Persoalannya konkret: penonton setempat belum memiliki akses bioskop komersial.
“Insya Allah, akan ada pemutaran di Aceh, supaya masyarakat Aceh bisa menonton filmnya.”
Pernyataan sutradara itu dimuat Pojok Sinema pada 3 November 2026. Produser Yuda Wirafianto juga menyebut pihaknya telah berkomunikasi dengan pemerintah setempat.
Menurut Yuda, pemerintah lokal sudah menyiapkan tempat. Namun, keterangan produser tersebut belum disertai rincian lokasi, jadwal, kapasitas, dan mekanisme masuk dalam laporan itu.
Karena itu, pemutaran khusus masih perlu ditulis sebagai rencana. Pernyataan tentang tempat yang disiapkan belum cukup untuk memastikan seluruh warga yang berminat dapat menonton.
Bagi calon penonton, rincian tersebut menentukan urusan sehari-hari: perjalanan ke lokasi, waktu yang harus disisihkan, dan kemungkinan mengajak anggota keluarga.
LSF menggolongkan film ini untuk usia 13 tahun ke atas. Informasi itu juga perlu menyertai pengumuman pemutaran agar keluarga dapat merencanakan kunjungannya.
Pemerintah pusat menyambut film ini sebagai bagian dari pengembangan ekonomi kreatif. Kementerian Ekonomi Kreatif menerbitkan pernyataan dukungan pada 2 November 2026.
“Film bukan hanya medium hiburan, melainkan juga sarana pewarisan nilai, diplomasi budaya, dan penguatan identitas bangsa,”
Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menyampaikan pernyataan tersebut di XXI Epicentrum, Jakarta Selatan, sebagaimana tercantum dalam rilis kementeriannya.
Harapan tentang pewarisan nilai itu kini berhadapan dengan kebutuhan yang sederhana: tempat menonton dan jadwal yang bisa dipegang warga.
Di ruang latihan, Atiqah sudah mempelajari cara menggenggam rencong. Di Aceh, calon penonton masih menunggu kepastian kapan dapat menyaksikan hasilnya.***




Tinggalkan Balasan