PANDI ingin memperluas penggunaan aksara Nusantara sebagai nama domain. Aksara Bali sudah memiliki layanan domain di bawah .id.

KOSONGSATU.ID – Pengelola Nama Domain Internet Indonesia atau PANDI mendorong pengembangan nama domain berbasis aksara Nusantara agar warisan tulisan daerah tetap digunakan di ruang digital.

Ketua PANDI Isnawan Aslan menyampaikan gagasan itu dalam diskusi Kedaulatan Digital Indonesia, Realistis atau Utopis? di Jakarta, Jumat, 30 Oktober 2026.

Ia menyoroti perlunya memperluas penggunaan 26 aksara Nusantara dalam ekosistem internet, termasuk sebagai bagian dari alamat situs web.

“Ada 26 aksara Nusantara yang sekarang belum masuk, satu pun belum masuk ke dalam,” kata Isnawan, sebagaimana diberitakan pada 1 November.

Pernyataan tersebut memerlukan konteks. Kehadiran aksara dalam teks digital berbeda dari penggunaannya sebagai nama domain. PANDI sendiri telah meluncurkan domain beraksara Bali.

Apa yang sudah tersedia?

Dalam publikasi resminya, PANDI menjelaskan bahwa domain tingkat kedua Bali, .ᬩᬮᬶ.id, telah diluncurkan di bawah domain nasional .id.

Pendaftaran dilakukan bertahap sejak Desember 2025. Menurut jadwal PANDI, pendaftaran untuk masyarakat umum dibuka mulai 15 Februari 2026.

Layanan tersebut dikembangkan melalui kerja sama PANDI, Universitas Udayana, dan Internet Corporation for Assigned Names and Numbers atau ICANN.

Karena itu, klaim bahwa belum ada satu pun aksara Nusantara dalam sistem nama domain tidak dapat diterapkan secara menyeluruh.

Domain tingkat kedua beraksara Bali tetap menggunakan akhiran .id. Hal ini berbeda dari nama domain tingkat atas yang seluruh akhirannya menggunakan aksara daerah. PANDI.id

Dalam diskusi Oktober, Isnawan menyebut pengembangan juga mencakup aksara Jawa dan Sunda. Ia membandingkannya dengan penggunaan aksara Jawi untuk domain di Malaysia.

“Jadi nanti akan muncul nama domain menggunakan aksara Jawa, aksara Bali, dengan huruf Pananjara,” ujarnya dalam laporan mengenai diskusi tersebut.

Istilah “Pananjara” muncul dalam kutipan pemberitaan. Naskah sumber yang diperiksa tidak memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai istilah itu.

Mengapa pengembangannya memerlukan aturan teknis?

Nama domain beraksara lokal memerlukan aturan karakter agar alamat dapat dibentuk dan diproses secara konsisten.

ICANN telah menerbitkan aturan pembentukan label domain tingkat kedua untuk aksara Bali pada 2024.

Aturan yang disebut Label Generation Rules itu menentukan susunan karakter yang sah serta membantu mengidentifikasi bentuk karakter yang memiliki variasi. icann.org

PANDI juga menekankan pentingnya kesiapan situs web, aplikasi, dan layanan surel untuk menerima domain non-Latin. Dukungan tersebut dikenal sebagai Universal Acceptance.

Dengan demikian, pengembangan tidak berhenti pada pendaftaran nama. Alamat beraksara daerah perlu dapat digunakan dalam layanan digital sehari-hari.

Bagi Isnawan, upaya tersebut berkaitan dengan keberlanjutan identitas budaya. Ia mengajak berbagai pihak bekerja sama memperluas ruang penggunaan aksara Nusantara.

“Kalau tidak, ya hilang,” katanya.

Pernyataan itu merupakan peringatan Isnawan mengenai pelestarian aksara. Angka 26 yang disebutkannya bukan dengan sendirinya data bahwa seluruh aksara tersebut terancam punah.

Pengembangan domain memberikan fungsi tambahan bagi aksara daerah. Keberlanjutan penggunaannya juga membutuhkan pendidikan, konten, dan komunitas yang terus memakainya. ***