Sufi identik dengan menjauhi duniawi. Namun pada 1974, Gus Dur muda menemukan anomali di Jombang: pengikut Tarekat Shiddiqiyyah justru sibuk memutar roda ekonomi desa lewat “Zikir Kerja” dan mewajibkan anggotanya mencintai keutuhan NKRI.
KOSONGSATU.ID – Debu kemarau Jombang pada 1974 menjadi saksi bisu langkah KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur muda yang tengah menelusuri geliat gerakan tasawuf pedesaan. Alih-alih menemukan jamaah yang mengurung diri dalam khalwat menjauhi hiruk-pikuk dunia, cendekiawan muda itu justru dihadapkan pada pemandangan tak lazim.
Ia melihat para pengikut thoriqoh atau tarekat yang tangannya berpeluh menganyam pandan, memutar roda ekonomi desa demi merawat napas republik. Di bawah komando Kiai Mochammad Mukhtar Mu’thi, tasawuf rupanya tidak sekadar wiridan pasif di atas sajadah, melainkan tentang palu, peluh, dan kemandirian.
Lahir dari Rahim Nusantara
Thoriqoh Shiddiqiyyah bukanlah aliran tasawuf “impor” yang sanadnya terbentang jauh dari padang pasir Timur Tengah. Gerakan ini murni mekar dari rahim Nusantara pada tahun 1958.
Pendirinya, Kiai Mochammad Mukhtar Mu’thi, atau karib disapa Kiai Tar, mewarisi urat nadi intelektual yang teramat kuat di tanah Jombang.
Jejak sejarah mencatat, sang ayah, Kiai Abdul Mu’thi, adalah guru mengaji masa muda bagi dua pilar utama pendiri Nahdlatul Ulama: KH Wahab Chasbullah dan KH Bisri Syansuri.
Pertalian masa silam ini menjadikan Shiddiqiyyah—sekalipun kelak secara kelembagaan diklasifikasikan sebagai ghairu mu’tabarah (tidak mu’tabar) oleh NU—tetap dihormati secara kultural sebagai bagian dari pewaris sanad spiritual di Jawa Timur.
Syarat Mutlak Bernama Nasionalisme
Di tengah berbagai gerakan keagamaan yang kerap gamang memosisikan diri di hadapan negara, Kiai Tar mengambil langkah radikal.
Bagi sang kiai, dogma Hubbul Wathon Minal Iman (Cinta Tanah Air adalah Bagian dari Iman) bukan sebatas kembang gula retorika. Ia menetapkan nasionalisme dan kesetiaan pada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai prasyarat mutlak menjadi pengikut.
Siapa yang tak sudi memeluk identitas kebangsaan, dipersilakan angkat kaki dari thoriqoh. Syarat tak tertulis namun mengikat inilah yang membuat Gus Dur terkesima.
Dalam laporan risetnya untuk Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Gus Dur mencatat bahwa gerakan spiritual pedesaan semacam ini sejatinya adalah stabilisator sosial dan jangkar kebangsaan kokoh yang kerap luput dari radar para elite politik di ibu kota.
”Zikir Kerja” dan Keringat Kemandirian
Mendobrak stigma asketis-fatalistik—di mana sufi acap kali dipandang pasrah dan abai pada urusan perut—Shiddiqiyyah menawarkan teologi progresif yang mereka sebut “Zikir Kerja”.
Jargon Manunggale Keimanan lan Kemanusiaan (Kesatuan Iman dan Kemanusiaan) diterjemahkan secara nyata lewat kapalan tangan para warga di Desa Kauman, Kecamatan Kabuh.
Melalui Yayasan Sanusiyah, thoriqoh mendirikan koperasi yang melatih warga mengolah bambu dan pandan menjadi tas serta tikar bernilai ekonomi tinggi. Menariknya, mereka meruntuhkan sentimen identitas rasial dengan menggandeng Ko Seng, seorang tenaga ahli profesional keturunan Tionghoa, untuk memastikan roda bisnis berjalan modern.
Bagi pengikut ajaran Shiddiqiyyah di era itu, bekerja dengan kreatif dan mandiri bukanlah urusan duniawi an sich, melainkan bentuk tertinggi dari taqarrub (pendekatan diri) kepada Tuhan—Sang Maha Pekerja.
Jejak langkah Thoriqoh Shiddiqiyyah di masa silam adalah cermin dua sisi yang memantulkan rupa dinamika sejarah sosial kita. Di satu sisi, ia membuktikan bahwa teologi yang membumi mampu menjadi mesin penggerak kemandirian ekonomi umat yang luar biasa; di sisi lain, sejarah juga mengingatkan bahwa kebesaran sebuah gerakan amat rentan tergelincir manakala batasan hukum positif bernegara diabaikan.
Terlepas dari segala dinamika kontemporernya, warisan “Zikir Kerja” dan dedikasi kebangsaan Kiai Tar yang pernah dibela oleh visi inklusif Gus Dur, akan selalu terekam sebagai cetak biru penting tentang bagaimana spiritualitas pedesaan pernah begitu lantang merawat denyut ekonomi Indonesia.***
Daftar Pustaka:
- Wahid, Abdurrahman. (1974). Laporan Riset Pesantren dan Tarekat. Jakarta: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).
- Zulkifli. (2002). Sufism in Java: The Role of the Islamic Mystics in Contemporary Indonesian Society. Leiden/Jakarta: INIS.
- Turmudi, Endang. (2006). Struggling for the Umma: Changing Leadership Roles of Kiai in Jombang, East Java. ANU Press.
- Arsip Sejarah Desa Kauman dan Yayasan Sanusiyah, Kabuh, Jombang.





Tinggalkan Balasan