Peran Letkol KH Abdul Choliq Hasyim memimpin Laskar Hizbullah terungkap di tengah misteri tewasnya Jenderal Mallaby, kedekatannya dengan Jenderal Sudirman, hingga amanat enam pasal perjuangan.
KOSONGSATU.ID – Perwira militer Inggris, Kapten RC Smith, menyatakan penembak Brigadir Jenderal AWS Mallaby adalah pemuda Indonesia berusia 16 tahun. Pemuda itu muncul di jendela mobil membawa pistol otomatis. Insiden tragis ini meletus pada 30 Oktober 1945 di Surabaya.
Kematian Mallaby menjadi titik didih perlawanan yang diorkestrasi oleh sejumlah perwira, termasuk Letnan Kolonel KH Abdul Choliq Hasyim. Pria sapaan Gus Choliq ini merupakan tokoh kunci mobilisasi santri. Ia memadukan nilai pesantren dan disiplin militer.
Putra keenam Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari tersebut memulai karier militer pada 1944. Ia menjabat Daiyon Daidan dalam Pembela Tanah Air (PETA) bentukan Jepang. Setelahnya, ia terus mengabdi melalui BKR, TKR, TRI, hingga akhirnya bergabung di TNI.
Komando dan Amanat Enam Pasal
Pasukan Laskar Hizbullah bergerak masif akibat dorongan Resolusi Jihad 22 Oktober 1945. Kesatuan Hizbullah Surabaya Timur pimpinan Mustakim Zain bertugas di garis depan. Pasukan inilah yang mengepung pertahanan tentara Inggris di Gedung Internatio.
Dalam perlawanan, Gus Choliq menjalin hubungan sangat dekat dengan Panglima Besar Jenderal Sudirman. Ia kerap berkeliling mengendarai Jeep Wilis untuk mengoordinasikan kekuatan. Di tangannya selalu ada surat sakti berisi mandat sang panglima besar.
Kedekatan ini diperkuat oleh amanat enam pasal Jenderal Sudirman kepada Laskar Hizbullah. Pasal pertama dan kedua menekankan kepercayaan pada kekuatan diri serta keadilan Tuhan. Pasukan juga diwajibkan meneruskan perjuangan demi membela kebenaran.
Selain itu, pasal ketiga dan keempat menginstruksikan laskar agar pantang menyerah demi menjaga kemerdekaan nusa dan agama. Mereka harus mempertahankan proklamasi dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pembelaan ini wajib dilakukan dengan segenap jiwa.




Tinggalkan Balasan