Indonesia berduka. Guruh Soekarnoputra, maestro seni dan putra bungsu Sang Proklamator, berpulang di usia 73 tahun. Simak jejak panjangnya merawat keanggunan budaya Nusantara, kesetiaan pada ajaran ayahanda, hingga romansa di ujung benua.
KOSONGSATU.ID-Awan mendung memayungi langit Jakarta pada Sabtu pagi. Di saat denyut ibu kota baru saja terjaga, sebuah kabar duka datang membawa keheningan yang menyesakkan.
Muhammad Guruh Irianto Soekarnoputra, putra bungsu Presiden pertama RI Soekarno dan Fatmawati, telah mengembuskan napas terakhirnya.
Panggung seni dan lanskap politik Tanah Air pun kehilangan salah satu lakon terhebatnya, menyisakan ruang kosong yang sulit untuk tergantikan.
Langkah Terakhir di Pagi Buta
Sang seniman kawakan itu tutup usia pada pukul 04.16 WIB di Rumah Sakit MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, Jakarta, Sabtu (26/9/2026).
Pada usia 73 tahun, Guruh yang sebelumnya dikabarkan kritis dan harus menjalani perawatan intensif, akhirnya berpulang menemui Sang Khalik.
Kabar duka ini bergerak amat cepat, diiringi untaian doa dari berbagai kalangan, termasuk dari pihak keluarga dan jajaran petinggi PDI Perjuangan yang merasa kehilangan sosok pejuang partai sekaligus seniman besar.
Kesaksian Hati: Saf Shalat Jumat dan Runtuhnya Sang Raksasa
Di balik bayang-bayang kebesaran sang ayah, Guruh merekam memori personal yang tak terhapuskan sejarah. Ia dengan tegas menepis stigma era Orde Baru yang kerap menuding Bung Karno jauh dari nilai agama.
Kenangan spiritual itu terpatri kuat saat Guruh masih duduk di bangku kelas satu sekolah dasar; dengan tangan besarnya, Soekarno menuntun sang putra untuk menunaikan shalat Jumat pertamanya di masjid istana.
Kedekatan batin itu kian mengharu biru menjelang detik-detik lengser dan wafatnya sang proklamator. Di suatu subuh yang kelabu, Fatmawati membangunkannya di kediaman Jalan Sriwijaya, mengabarkan dengan pasrah bahwa kondisi Bung Karno amat kritis.
Sementara sang ibunda bertahan di rumah sambil khusyuk berzikir tanpa henti, Guruh bergegas ke rumah sakit. Di sana, ia mematung menatap ayahnya yang perlahan kehilangan kesadaran—sebuah kesaksian perih dari seorang anak yang melihat langsung runtuhnya pilar sejarah bangsa.
Gemuruh Karya Swara Mahardhika
Beranjak dewasa, Guruh merawat kepedihannya dengan mendedikasikan diri pada seni. Salah satu tonggak emas kariernya terukir pada 1977 melalui proyek “Guruh Gipsy”, sebuah eksperimen musikal berani yang meleburkan progresif rock dengan keanggunan gamelan Bali, berkolaborasi bersama mendiang Chrisye.
Di bidang seni tari, ia mendirikan Swara Mahardhika dan GSP Production sejak 1979. Melalui tarian kolosal, harmoni nada, dan tata panggung yang megah, ia menyuntikkan rasa bangga pada identitas keindonesiaan di dada kaum muda dari generasi ke generasi.
Sabina dan Mas Kawin Sang Proklamator
Kisah hidup seniman pelintas zaman ini juga diwarnai kepingan romansa yang sempat mengejutkan publik. Setelah puluhan tahun melajang, hatinya berlabuh pada Sabina Guyesnova, seorang penari tradisional asal Uzbekistan yang usianya terpaut 27 tahun lebih muda. Pernikahan beda bangsa itu digelar bersahaja di Tashkent pada 20 September 2002.
Menariknya, alih-alih setumpuk perhiasan mewah, mas kawin yang dipersembahkan Guruh amat sarat makna ideologis: sekeping Al-Quran, buku monumental Di Bawah Bendera Revolusi, dan Otobiografi Presiden Soekarno. Momen sakral tersebut menjadi bukti bahwa di ruang personalnya yang paling intim sekalipun, darah nasionalisme dan ajaran sang ayah tetap mengalir deras.
Marhaenis Sejati yang Pulang ke Sriwijaya
Di luar gemerlap lampu sorot panggung kesenian, Guruh tak pernah benar-benar meninggalkan akar ideologisnya. Ia melangkah pasti di kancah politik, menjadi benteng kultural PDI Perjuangan dan konsisten menyuarakan napas kerakyatan ala Marhaenisme. Bagi rekan-rekannya, ia adalah representasi utuh dari seni yang membumi dan politik yang berbudaya.
Kini, sang pangeran seni telah purnatugas. Rumah duka di Jalan Sriwijaya Raya, Jakarta Selatan—tempat yang menyimpan riwayat zikir sang ibunda saat melepas kepergian Bung Karno—kini menjadi titik perhentian terakhirnya sebelum raga disemayamkan.
Pihak keluarga memohonkan pintu maaf yang sebesar-besarnya atas segala kekhilafan almarhum. Tirai panggung mungkin telah tertutup rapat, namun gemuruh karya dan kesaksian sejarah seorang Guruh Soekarnoputra akan senantiasa abadi. Selamat jalan, Mas Guruh.***




Tinggalkan Balasan