Duka merundung dunia akademik saat ilmuwan politik Airlangga Pribadi Kusman berpulang di tengah risetnya. Menyelami rajutan pemikiran Soekarno hingga Ayatollah Ali Khamenei, ia meninggalkan warisan intelektual tentang perlawanan terhadap imperialisme global.
KOSONGSATU.ID – Laptop itu masih menyala di meja kedai kopi Atjeh Connection, Jalan Sabang, Jakarta. Layar birunya memantulkan draf riset yang belum sempat tuntas.
Di situlah, pada Rabu pagi yang lengang, 9 September 2026, jantung Airlangga Pribadi Kusman berhenti berdetak.
Kepergian sang ilmuwan politik Universitas Airlangga bukan hanya merontokkan salah satu pilar intelektual progresif Indonesia, tetapi juga menghentikan denyut pengembaraan panjang seorang pemikir yang mendedikasikan hidupnya untuk merajut benang merah perlawanan global—dari api Marhaenisme Bung Karno hingga teologi pembebasan Ayatollah Ali Khamenei.
Panggung Kekuasaan dan Titik Kulminasi
Kematian Airlangga di tengah kesibukan menulis—tepat sebelum ia meluncurkan buku kolaborasiannya dengan Rocky Gerung, Marhaenisme: Dalil Baru untuk Gen Z— di Syahida Inn Ciputat, Tangerang Selatan, menjadi sebuah metafora sunyi tentang dedikasi tanpa batas.
Di ruang publik, namanya melekat sebagai benteng pertahanan ideologis yang gigih membongkar dekadensi kekuasaan. Bagi sekjen PDIP Hasto Kristiyanto hingga Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria, Airlangga adalah langgam langka: akademisi Murdoch University yang tidak terjebak di menara gading, melainkan turun ke lumpur persoalan rakyat.
Namun, di luar diskursus domestik mengenai nasib wong cilik dan marhaen digital, cakrawala berpikir Airlangga menjangkau bentang geopolitik yang lebih luas.
Pada bulan-bulan terakhir sebelum wafatnya, ia tampil sebagai salah satu suara paling artikulatif yang menjembatani universalitas gagasan anti-imperialisme Sukarno dengan spiritualisme revolusioner dunia Islam kontemporer, termanifestasikan secara tajam dalam ulasannya terhadap sosok Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Rekam Jejak dan Anatomi Jejaring
Lahir di Jombang, 23 November 1976, Airlangga ditempa dalam tradisi intelektual kritis mazhab ekonomi politik. Disertasinya di Murdoch University, The Vortex of Power (2019), membedah anatomi oligarki pasca-otoritarian.
Dari fondasi strukturalis inilah ia membaca ulang sejarah. Ia menolak memperlakukan Soekarno sebagai pajangan museum; bagi Airlangga, Sukarno adalah pisau bedah analitis untuk membongkar kolonialisme baru.
Jejaring pemikirannya tidak pernah mengenal batas sekat sektarian maupun ideologis. Mantan aktivis HMI ini mampu menyelami kedalaman Marhaenisme dengan kejernihan jernih, sembari di sisi lain merespons panggilan solidaritas kemanusiaan lintas batas.
Ketika dunia Islam berduka atas syahidnya Ayatollah Ali Khamenei akibat gempuran agresi global, Airlangga berdiri di garis depan untuk membaca fenomena tersebut bukan sebagai tragedi teologis semata, melainkan sebagai babak baru perlawanan terhadap hegemonisme imperialis.
Sisi Gelap, Titik Balik, dan Sintesis Pemikiran
Titik paling radikal dalam pergulatan intelektual Airlangga terletak pada kemampuannya menarik garis paralel antara Karbala, Konferensi Asia-Afrika Bandung, dan penderitaan tertindas hari ini.
Dalam pengantarnya untuk buku Ayatollah Ali Khamenei: Dari Haribaan Hingga Keabadian (April 2026), Airlangga menemukan titik temu yang mengejutkan sekaligus mencerahkan: semangat anti-imperialisme melintasi sekat teologi.
Ia mengangkat kembali memoar Cell No. 14, di mana Khamenei muda di dalam penjara Shah Pahlevi menyuapkan makanan kepada tahanan komunis, seraya mengenang Tuan Ahmad Sukarno dan gaung Konferensi Bandung.
Bagi Airlangga, kisah ini bukan retorika kosong. Ia melihat bagaimana spiritualisme Islam yang dipraktikkan Khamenei bukanlah candu, melainkan teologi pembebasan yang berbuah nyata pada emansipasi sosial, kemandirian sains, dan perlawanan tanpa kompromi terhadap tirani global.
Cangkok pemikiran ini menegaskan posisi Airlangga: seorang penjahit gagasan yang merajut nasionalisme kiri Soekarno dengan teologi perlawanan Islam revolusioner.
Ia melihat bahwa Kang Marhaen yang membawa cangkul di abad ke-19 dan Gen Z yang memegang gawai di era digital menghadapi musuh struktural yang sama: cengkeraman akumulasi modal kapitalisme global yang merampas kedaulatan manusia.
Kritik dan Pertanggungjawaban Intelektual
Upaya menyandingkan nasionalisme sekuler-progresif ala Sukarno dengan teologi politik Islam garis keras ala Khamenei tentu bukan tanpa risiko diskursif. Sebagian kalangan sekuler kerap mempertanyakan kompatibilitas antara demokrasi kerakyatan dan teokrasi revolusioner.
Namun, dalam koridor verifikasi ilmiah, pembelaan Airlangga tidak pernah bersifat apologetis buta. Ia menempatkan kedua figur tersebut dalam kerangka sosiologis yang sama: respons atas ketertindasan struktural.
Kritis, tajam, namun berakar pada empati kemanusiaan yang utuh, Airlangga menguji gagasan-gagasan tersebut melalui kacamata praksis—sejauh mana sebuah ideologi mampu membebaskan manusia dari rantai eksploitasi.
Airlangga Pribadi Kusman telah menutup laptopnya untuk selamanya di sudut Jalan Sabang. Namun, gema dari kata-kata yang ia rajut—tentang api Marhaenisme, keteguhan Karbala, dan perlawanan abadi terhadap ketidakadilan—kini tinggal di ruang-ruang diskusi publik sebagai warisan intelektual yang menolak padam.
Di atas lantai dingin RSPAD, jasadnya boleh terbujur tenang, tetapi api perlawanan yang ia nyalakan lewat deretan kalimatnya akan terus menantang zaman.***





Tinggalkan Balasan