Jauh sebelum istilah globalisasi lahir, leluhur Nusantara telah menghubungkan benua-benua melalui pelayaran, perdagangan, dan pertukaran teknologi yang menjangkau samudra luas.
KOSONGSATU.ID — Globalisasi sering dipandang sebagai produk dunia modern, lahir bersama internet, kapal kontainer, dan pasar bebas. Namun, temuan-temuan terbaru para peneliti menunjukkan bahwa jaringan dunia telah terhubung jauh sebelum era modern muncul. Di tengah jalur laut yang membentang dari Asia hingga Mediterania, Nusantara ternyata telah memainkan peran penting sebagai salah satu simpul utama peradaban manusia.
Gambaran itu mengemuka dalam Webinar Internasional Connecting Continents and Oceans yang digelar Pusat Riset Arkeometri Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada 30 Maret 2026. Forum yang mempertemukan para peneliti dari berbagai negara tersebut menelusuri jejak migrasi manusia, perkembangan teknologi, hingga perdagangan lintas kawasan sejak masa prasejarah.
Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra BRIN, Heri Yogaswara, menilai perkembangan ilmu arkeologi saat ini memungkinkan para ilmuwan membaca masa lalu dengan cara yang jauh lebih komprehensif. Menurutnya, arkeologi tidak lagi berdiri sendiri, melainkan berkolaborasi dengan berbagai disiplin ilmu untuk menjelaskan mobilitas manusia dan pertukaran budaya yang membentuk dunia hingga hari ini.

Jawa dan Jejak Awal Evolusi Manusia
Salah satu temuan yang mendapat perhatian besar datang dari Pulau Jawa. Pakar paleoantropologi Prof. Harry Widianto mengungkapkan bahwa penelitian di Situs Bumiayu menunjukkan keberadaan Homo erectus sekitar 1,8 juta tahun lalu, lebih tua dibandingkan sejumlah perkiraan sebelumnya.
Temuan tersebut menempatkan Jawa sebagai salah satu kawasan penting dalam peta evolusi manusia di Asia. Jika selama ini perhatian dunia banyak tertuju pada Afrika sebagai tempat lahir manusia modern, maka Jawa memberikan petunjuk penting tentang perjalanan panjang penyebaran manusia purba ke berbagai wilayah dunia.
Kemajuan metode penelitian juga terlihat dalam studi-studi di Eropa. Prof. Tamás Hajdu dan timnya menggunakan analisis isotop strontium untuk melacak perpindahan manusia pada Zaman Perunggu sekitar 1500 SM. Teknologi ini memungkinkan ilmuwan membaca asal-usul individu melalui jejak kimia yang tersimpan di tulang mereka, membuka pemahaman baru tentang migrasi besar yang pernah membentuk peradaban manusia.



Tinggalkan Balasan