Otobiografi sang Proklamator menceritakan fajar abad ke-20 dan letusan Gunung Kelud sebagai saksi kelahirannya. Dokumen-dokumen Belanda yang kusam mencatat sesuatu yang berbeda.

KOSONGSATU.ID — Ada yang selalu menggoda dari cara Soekarno menuturkan kisah hidupnya sendiri. Dalam otobiografi yang ia tuturkan kepada jurnalis Amerika Cindy Adams, ia menempatkan kelahirannya tepat di ambang abad baru—6 Juni 1901—bersamaan dengan erupsi dahsyat Gunung Kelud.

Sebuah pembukaan yang sempurna untuk seorang pembebas bangsa. Terlalu sempurna, kata sebagian sejarawan.

Dari sanalah julukan itu lahir: “Putra Sang Fajar.” Puitis, dramatis, dan dalam kosmologi mistik Jawa, sarat makna—sebab gejolak alam kerap dibaca sebagai pertanda munculnya seorang Ratu Adil.

Namun arsip tidak mengenal dramatisasi.

Ketika Dokumen Sekolah Bicara

Sejarawan Belanda Lambert Giebels adalah salah satu yang pertama mempertanyakan narasi itu secara terbuka. Menurut Giebels, Soekarno kemungkinan besar sengaja menggeser tahun kelahirannya agar selaras dengan momen Kelud meletus—Mei 1901. Otobiografi itu, simpulnya, lebih berfungsi sebagai manifesto politik ketimbang catatan biografis yang jujur.

Pandangan serupa datang dari peneliti Jerman Bernhard Dahm, yang mencatat kecenderungan Soekarno untuk menyatukan takdir pribadinya dengan roda revolusi Indonesia. Menjadi pembuka abad ke-20 menyempurnakan citra sang pemimpin—dan Soekarno tahu betul kekuatan citra.

Penelusuran yang paling telak dilakukan oleh Profesor Bob Hering. Ia menelusuri rekam jejak akademis Soekarno dari bangku Hogere Burgerschool (HBS) Surabaya hingga Technische Hoogeschool (THS) Bandung. Sistem administrasi sekolah kolonial Belanda dikenal berlapis dan sulit dimanipulasi—usia siswa bukan sekadar formalitas, melainkan syarat administratif yang diperiksa ketat.

Seluruh dokumen resmi itu konsisten pada satu angka: 6 Juni 1902.

Ayahnya, Raden Soekeni, mengisi formulir pendaftaran itu dengan jujur—untuk keperluan administratif, tanpa pretensi politik apa pun. Temuan Hering akhirnya melahirkan konsensus baru di kalangan akademisi internasional. The Cambridge Biographical Encyclopedia (1998) dan Who’s Who in the Twentieth Century terbitan Universitas Oxford (1999) sama-sama mencantumkan 1902 sebagai tahun kelahiran Soekarno. Berbagai proyek riset di Universitas George Washington pun mengikuti arus yang sama.

Ploso, Jombang—atau Surabaya?

Perdebatan tidak berhenti pada soal tahun. Lokasi kelahiran Bung Karno pun menyimpan kerumitan tersendiri.