Tapi rekayasa bisa diurai. Lupa bisa dibalik. Ingatan bisa direbut kembali.
Ketika ingatan itu pulih — ketika kamu benar-benar menyadari bahwa nenek moyangmu pernah mengarungi tiga samudra, membangun candi tanpa semen, meracik obat yang kini dibuktikan laboratorium, dan memimpin peradaban bahari yang menghubungkan dunia — maka rasa minder itu akan kehilangan pijakan.
Tan Malaka benar: kita mesti belajar. Tapi kita belajar sebagai murid Timur yang cerdas — yang tahu dari mana ia berasal, dan tahu ke mana ia harus pergi.
Kebesaran bangsa ini tidak hilang. Ia hanya sedang menunggu untuk diingat kembali.
Maka, ikuti terus serial artikel kolaborasi KosongSatu dan Samudrafakta dalam merebut kembali ingatan bangsa. Artikel demi artikel, data demi data, fakta demi fakta — karena bangsa yang kembali mengenal dirinya adalah bangsa yang tidak bisa lagi dikalahkan dari dalam.
Dan perebutan itu dimulai hari ini — dari sini.***



Tinggalkan Balasan