Alumnus Universitas Leiden ini punya keyakinan yang kuat: peradaban Barat sekuler adalah puncak dari segala peradaban. Segala yang lain harus tunduk. Cara menundukkannya bukan hanya lewat kekerasan, melainkan lewat pendidikan — membentuk anak-anak pribumi agar cara berpikirnya mengarah sepenuhnya ke Barat.
Ia menyebut proyek itu bukan penjajahan, melainkan “pemberadaban”.
Kata yang berbeda. Tujuan yang sama: mencabut akar.
View this post on Instagram
Dengan menyamar sebagai Muslim beridentitas Abdul Ghaffar, Snouck masuk ke jantung komunitas Islam di Mekah dan Nusantara. Ia mempelajari Islam dari dalam — bukan untuk mengimaninya, melainkan untuk memahami dari mana kekuatan perlawanan rakyat bersumber, lalu menyusun cara melumpuhkannya.
Strateginya terhadap Aceh sudah tercatat dalam sejarah: biarkan ibadah berjalan, tekan ulama penggerak perlawanan, dekati bangsawan uleebalang, belah masyarakat dari dalam. Perlawanan Aceh yang selama puluhan tahun tak bisa dipatahkan akhirnya melemah — bukan karena kalah di medan perang, tetapi karena kehilangan kohesi dari dalam.
Tapi, yang jarang disadari adalah, Snouck tidak hanya melemahkan perlawanan fisik. Ia merancang kerusakan yang jauh lebih dalam — kerusakan pada cara sebuah bangsa memandang dirinya sendiri.
Pengetahuan akademis tentang Islam, budaya lokal, dan struktur sosial Nusantara tidak dikumpulkan untuk dihormati — melainkan untuk dieksploitasi demi kepentingan penjajah. Dalam kajian pascapenjajahan atau poskolonial, ini disebut “pengetahuan sebagai kekuasaan”: ilmu yang tampak netral, sesungguhnya bekerja mengabdi pada agenda penundukan.
Visi akhir Snouck tidak tanggung-tanggung: Indonesia masa depan sebagai bagian dari “Belanda Raya” — bangsa yang tidak lagi ingat bahwa ia pernah besar dan berdiri sendiri.
Sejarah Palsu yang Masih Kamu Percayai
Proyek penghapusan ingatan itu tidak berhenti pada kebijakan pendidikan atau strategi militer. Ia menyusup ke dalam buku-buku sejarah — dan sebagian masih diajarkan hingga hari ini.





Tinggalkan Balasan