Indonesia merdeka sejak 1945. Tapi sudahkah cara pandang kita ikut merdeka dari yang ditanamkan selama tiga setengah abad itu?
Tan Malaka Sudah Meninggalkan Petanya
Di tengah semua ini, seorang putra Minangkabau yang menjadi buronan tiga pemerintah sekaligus sudah meninggalkan jawaban yang tepat jauh sebelum pertanyaan ini populer.
Tan Malaka, dalam Aksi Massa (1926), menulis dengan terang benderang: “Akuilah dengan yang putih bersih, bahwa kamu sanggup dan mesti belajar dari orang Barat. Tapi kamu jangan jadi peniru orang Barat, melainkan seorang murid dari Timur yang cerdas, suka memenuhi kemauan alam dan seterusnya dapat melebihi kepintaran guru-gurunya di Barat.”
Kalimat itu bukan ajakan untuk menutup diri dari dunia. Tan tahu betul bahwa ilmu pengetahuan harus diserap dari mana pun asalnya.
Tapi ia juga tahu sesuatu yang lebih dalam: belajar dari Barat tidak berarti menjadi Barat. Menyerap ilmu tidak berarti menelan cara pandang yang merendahkan diri sendiri.
Murid yang cerdas belajar dari gurunya — lalu suatu saat melampaui gurunya. Bukan menjadi bayangannya.
Dan itulah yang kini harus kita lakukan: belajar dengan mata terbuka, tetapi berdiri di atas akar yang tidak dicabut.

Leluhur Kita Sudah Terbukti Jenius
Akar itu bukan mitos. Akar itu adalah fakta yang kini mulai dibuktikan oleh ilmu pengetahuan modern sendiri.
Ambil contoh jamu. Selama berabad-abad dipandang sebelah mata sebagai pengobatan primitif. Kini sains membuktikan sebaliknya: kunyit mengandung kurkumin yang terbukti bersifat antiradang, jahe terbukti melancarkan pencernaan, temulawak terbukti meningkatkan fungsi hati dan daya tahan tubuh.
Komisi Saintifikasi Jamu Nasional, lewat riset Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT), telah memvalidasi 12 ramuan jamu secara klinis. Apa yang ratusan tahun disebut “takhayul” kini berdiri di atas data uji laboratorium.
Kemudian ada teknologi bahari leluhur. Relief pada dinding Candi Borobudur — dibangun pada abad ke-8 hingga ke-9 Masehi — menampilkan lima gambar kapal cadik samudra yang secara teknologi melampaui zamannya. Dengan teknologi perahu cadik itulah Sriwijaya dan Majapahit menjadi kekuatan maritim yang tidak hanya menguasai Asia Tenggara, tetapi dikenal di seluruh Asia.





Tinggalkan Balasan