Jauh sebelum dunia pendidikan menemukan istilah active learning, seorang polyglot Jawa kelahiran 1877 telah merumuskannya dalam sebait wejangan yang hingga kini belum usang.
KOSONGSATU.ID — Raden Mas Panji Sosrokartono bukan nama yang akrab di telinga generasi sekarang. Padahal kakak kandung R.A. Kartini ini menguasai puluhan bahasa, meliput Perang Dunia I sebagai koresponden The New York Herald Tribune, dan menjabat kepala juru bahasa Liga Bangsa-Bangsa. Ia adalah intelektual Jawa yang hidup di antara dua dunia: kemewahan intelektual Eropa dan kedalaman batin Nusantara. Dan dari persilangan itulah lahir sebuah aforisme yang terasa semakin relevan di zaman ini:
“Murid, gurune pribadi. Guru, muride pribadi. Pamulangane, sengsarane sesami. Ganjarane, ayu lan arume sesami.”
Murid, gurunya diri sendiri. Guru, muridnya diri sendiri. Tempat belajarnya adalah penderitaan sesama. Dan balasannya: kebaikan serta keharuman di tengah masyarakat.
Guru yang Tak Perlu Papan Tulis
Sosrokartono hidup di ujung abad ke-19 hingga pertengahan abad ke-20, ketika sistem kolonial mendidik pribumi seperti mengisi bejana kosong — menuang, bukan menumbuhkan. Di tengah iklim itu, pemikirannya justru bergerak ke arah yang berlawanan.
Baginya, setiap manusia membawa seorang guru di dalam dirinya. Bukan metafora semata, melainkan keyakinan spiritual yang berakar pada pandangan bahwa ilmu sejati bersumber dari Yang Maha Tahu. Guru di ruang kelas hanyalah perantara. Yang menentukan adalah kemampuan murid untuk mendengar ke dalam — menyalakan pertanyaan, bukan menunggu jawaban.
Inilah yang dalam diskursus pendidikan modern disebut active learning: belajar yang didorong oleh rasa ingin tahu, bukan kepatuhan. Sosrokartono merumuskannya bukan dalam bahasa pedagogi, melainkan dalam wejangan yang bisa dinyanyikan.
Sekolah di Luar Tembok
Filosofi Sosrokartono tidak berhenti pada relasi batin antara diri dan pengetahuan. Ia memperluas ruang belajar ke seluruh jagat sosial. Dalam ajaran lainnya ia menyebut:




Tinggalkan Balasan