Di balik kerasnya kehidupan sebagai kuli bangunan, Supriyanto memilih jalan sunyi untuk merawat peradaban. Tangannya mahir mengaduk semen sekaligus menyunting ratusan naskah kuno Nusantara.


KOSONGSATU.ID – ​Supriyanto (40), ulama pengkaji naskah klasik atau muhaqqiq, memilih mendedikasikan hidupnya sebagai pekerja serabutan di Desa Wates, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Ia menolak hadir menerima penghargaan Majelis Ulama Indonesia demi menjaga ketenangan batinnya.

​Sosok yang lebih akrab disapa Mbah Riyan ini menyembunyikan kepakarannya di balik rutinitas desa. “Saya tidak mengharapkan viral atau bagaimana,” kata Supriyanto,  keterkejutan publik saat identitasnya terungkap.

​”Yang penting karya-karya saya saja yang diketahui masyarakat, diri saya tidak perlu,” ujar Supriyanto. Pria bernama pena Ibnu Harjo Al-Jawi ini mulai mendalami ilmu ushul fiqh sejak menempuh pendidikan di LIPIA Jakarta pada awal era 2000-an.

​Merawat Literatur Klasik

​Kiprah Supriyanto dalam dunia keilmuan Islam sangat masif dan diakui hingga ke mancanegara. Sepanjang dedikasinya, ia telah melahirkan sedikitnya 12 jilid kitab monumental serta menyunting lebih dari seratus naskah referensi global.

​Karya suntingannya menyentuh berbagai disiplin ilmu yang luas, mulai dari ushul fiqh, akidah, hingga tasawuf. Beberapa mahakaryanya yang menjadi rujukan internasional adalah Al-Istihsan dan Dilalah Qorinah Al-Muwadlobah ‘Inda Al-Ushuliyyin.

​Ia juga mengkaji secara mendalam pemikiran teologis ulama Nusantara, seperti Is’af Al-Mutholi’ karya Syaikh Mahfudz Al-Tarmasy. Karya menonjol lainnya adalah Al-Taufiq Al-Jaliy susunan Syaikh Abdul Ghoni Al-Nabulisy yang diterbitkan di Mesir bersama Fathul Majid.

​Naskah Perdana Nusantara

​Jejak literasi Supriyanto mulai merambah ranah publik secara fisik pada 2016 saat ia menetap di Sukabumi, Jawa Barat. Saat itu, ia meneliti naskah kuno karya Syaikh Abdul Haqq bin Abdul Hannan al-Bantani, cucu sekaligus murid Syaikh Nawawi Banten.

​Kitab berjudul Al-Aqwal al-Mulhaqat Syarh Mukhtashar al-Waraqat tersebut menjadi naskah suntingan pertamanya yang diterbitkan secara cetak. “Di sana ada sekitar 18 ribu jilid kitab. Pagi saya mengajar, malam menulis,” tuturnya.