Sempat di-DO dan jadi marbot masjid demi membeli buku, Willy Aditya kini menjabat Ketua Komisi XIII DPR RI. Mantan aktivis ’98 ini membuktikan jalan pergerakan dan literasi mampu menempa seseorang menjadi arsitek peradaban bangsa.

KOSONGSATU.ID-Jalan hidup Willy Aditya adalah jalinan antara peluh pergerakan dan lembaran buku yang tak terpisahkan.

Jauh sebelum memegang kendali sebagai Ketua Komisi XIII DPR RI dan arsitek di balik gagasan “Restorasi Indonesia”, pria kelahiran Solok ini pernah menelan pahitnya kehidupan sebagai marbot masjid, mahasiswa yang di-DO, hingga aktivis jalanan yang lantang menentang ketidakadilan.

Namun, kecintaannya yang radikal terhadap literasi dan gagasan tidak sekadar mengubah nasibnya, melainkan memandunya bermetamorfosis menjadi wakil rakyat yang gigih memperjuangkan kebijakan humanis dan membangun peradaban bangsa lewat budaya membaca.

Masa Kecil dan Kawah Candradimuka INS Kayutanam

Lahir di Solok, Sumatera Barat, pada 12 April 1978, Willy Aditya merepresentasikan wajah keindonesiaan yang sesungguhnya. Di dalam darahnya mengalir perpaduan etnisitas yang kaya; sang ayah, Syamsudin Lubis, adalah seorang Mandailing, sementara ibunya, Asna Hasan, memiliki garis keturunan Jawa.

Tumbuh sebagai anak cerdas dengan nilai nyaris sempurna, masa remaja Willy tak lepas dari kenakalan khas anak laki-laki. Ambisinya untuk masuk SMA Taruna Nusantara kandas seketika akibat insiden ditabrak pemabuk. Namun, siapa sangka, kegagalan itu justru menjadi awal pembentukan karakter intelektualnya yang tajam.

Langkah hidup membawanya ke SMA Plus INS Kayutanam di Padang Pariaman. Di bawah gemblengan sastrawan terkemuka A.A. Navis, sekolah yang menitikberatkan pada kedisiplinan dan karakter itu mengubah Willy menjadi pemuda yang “gila” baca. Satu pesan gurunya yang sangat membekas dan kelak menjadi prinsip hidupnya adalah: merelakan separuh uang jajan demi lembaran-lembaran buku yang mencerahkan.

Jatuh Bangun di Kampus Biru: Dari Marbot hingga Mahasiswa DO

Merantau ke Yogyakarta, Willy masuk ke Jurusan Manajemen Hutan Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 1997. Kehidupan mahasiswanya jauh dari kemewahan. Demi memuaskan dahaganya akan ilmu, ia rela menghabiskan uang bulanannya untuk membeli buku—salah satunya buku legendaris Di Bawah Bendera Revolusi—sementara urusan perut ia siasati dengan menjadi marbot masjid dan “berburu” konsumsi seminar. Dari seminar-seminar itulah insting menulisnya terasah untuk mendapatkan honorarium.

Akan tetapi, totalitasnya di dunia pergerakan dan Pers Mahasiswa Lumut membuat kuliahnya terbengkalai hingga Indeks Prestasinya menyentuh angka nol koma. Ia pun harus menelan pil pahit pemecatan langsung dari Rektor UGM. Meski terpuruk, nyala api intelektual Willy tak padam.

Pada 2001, ia kembali merajut asa di Jurusan Filsafat UGM, lulus dengan IPK memuaskan 3,8, lalu meraih gelar ganda (double degree) magister dari kolaborasi ITB dan Cranfield University, Inggris. Di masa-masa inilah sang istri, Yemmi Livenda, yang juga teman masa kecilnya, hadir menjadi jangkar penyeimbang hidupnya.

Gelora Aktivis ’98 dan Panggilan Jalanan

Willy bukan sekadar pemikir di balik meja, melainkan singa podium yang lahir dari jalanan. Semasa di UGM, ia aktif di Jama’ah Shalahuddin dan memimpin Dewan Mahasiswa (DEMA) UGM pada 1999.

Pemikirannya yang orisinil dan independen membuahkan sejarah ketika ia berhasil menyatukan simpul-simpul gerakan dari berbagai wilayah Nusantara dan didapuk sebagai Ketua Front Mahasiswa Nasional (FMN) yang pertama pada 2003.

Tak puas hanya di ranah kampus, Willy sempat membumikan perjuangannya dengan hidup di tengah kaum buruh kota lewat Perhimpunan Rakyat Pekerja (PRP). Ia mengalami pahit getirnya represi dan kemiskinan struktural.

Beragam demonstrasi, mulai dari isu komersialisasi pendidikan hingga penolakan liberalisasi, pernah ia pimpin. Ia membuktikan bahwa idealisme tak bisa dibeli dan keberanian adalah harga mati bagi sebuah perubahan.

Meracik Restorasi: Perjumpaan yang Mengubah Arah

Selepas era jalanan, Willy memasuki dunia profesional dengan bergabung bersama lembaga donor asing, GTZ, serta mendirikan Populis Institute pada 2007 untuk mengawal proses demokrasi.

Persimpangan takdir mempertemukannya dengan tokoh pers dan politik, Surya Paloh. Dari dialektika pemikiran keduanya, lahirlah ormas Nasional Demokrat yang kemudian bermetamorfosis menjadi Partai NasDem.

Willy adalah arsitek di balik slogan yang kini bergema di seantero negeri: Gerakan Perubahan Restorasi Indonesia. Kecakapannya meramu strategi serta intelektualitasnya dalam menulis—dibuktikan melalui buku-buku karyanya—mengantarkannya terpilih sebagai Anggota DPR RI Dapil Jatim XI pada 2019.

Kini, pria yang dulu nyaris tak bisa makan di Jogja itu memegang kendali sebagai Ketua Komisi XIII DPR RI.

Konsistensi Perjuangan: Memanusiakan Sistem Pendidikan Kedokteran

Duduk di kursi dewan tidak melunturkan nurani kerakyatannya. Kepekaan Willy tergambar jelas ketika ia berada di garda terdepan membela nasib ribuan mahasiswa kedokteran (retaker) yang terganjal Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD).

Ia menentang keras sistem yang terjangkiti feodalisme dan liberalisme, yang membuat biaya pendidikan dokter melambung tinggi dan menghalangi putra-putri terbaik daerah untuk mengabdi.

Baginya, merevisi UU Pendidikan Kedokteran bukan sekadar urusan regulasi, melainkan upaya mengembalikan nilai humanisme.

Ia terus meneriakkan bahwa seorang dokter harus dilahirkan dari rahim kemanusiaan, berpraktik untuk rakyat, dan sistem pendidikan harus mampu memberikan kesempatan yang berkeadilan, tanpa memandang tebal-tipisnya kantong mahasiswa.

Bakti untuk Peradaban: Membumikan Literasi dari Kaliurang hingga Bui

“Banyak orang membuat sejarah, tapi tak banyak yang membuat peradaban.” Pepatah itulah yang memandu Willy untuk terus menghidupkan budaya membaca. Puncak dedikasinya terwujud melalui Ruang Literasi Kaliurang, sebuah hunian pribadinya yang ia dedikasikan sebagai ruang publik gratis dengan koleksi lebih dari 25.000 buku berharga.

Gebrakan literasinya tak mengenal batas kasta. Di gedung megah DPR RI, ia membagikan buku diari dan menciptakan pojok baca bagi para office boy dan Pamdal—mengajarkan bahwa menulis adalah merawat kewarasan.

Di balik jeruji besi Lapas Cipinang, ia memimpin gotong royong menyumbangkan ribuan buku untuk memerdekakan pikiran para warga binaan. Bagi Willy, literasi adalah kunci pembuka pintu peradaban.

Willy Aditya telah melampaui fase dari sekadar demonstran jalanan menjadi arsitek kebijakan negara. Perjalanannya dari seorang remaja di Solok, marbot masjid yang terasingkan dari kampus, hingga menjelma menjadi politisi ulung dan pegiat literasi adalah bukti nyata bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah pembatas bagi ide-ide besar.

Melalui setiap lembar buku yang ia bagikan dan setiap kebijakan yang ia perjuangkan, Willy tidak sekadar sedang menulis riwayat hidupnya sendiri; ia sedang menyusun bata demi bata untuk membangun peradaban Indonesia yang lebih bermartabat, adil, dan berpengetahuan.***