K.H. Hasan Abdullah Sahal menegaskan Gontor memilih jalur pendidikan, bukan kekuasaan. Keteladanan kepemimpinannya menampar pragmatisme elite: berani diprotes jika hidup mewah. Sebuah seruan nurani bahwa Indonesia harus diselamatkan!
KOSONGSATU.ID-Ribuan pasang mata menatap lekat ke arah panggung utama Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo, pada Sabtu, 19 September 2026.
Di hadapan Presiden Prabowo Subianto dan jajaran petinggi negara, seorang pria sepuh bersahaja berdiri tegap. Ia tidak membuai penguasa dengan deretan puja-puji.
Dengan nada yang tenang namun menghentak, ia justru melontarkan sebuah prinsip yang tak bisa ditawar: lembaganya memilih jalan sunyi pendidikan, bukan pusaran kekuasaan.
Ketegasan Ulama di Hadapan Penguasa
“Kami tetap memilih pendidikan. Bapak Presiden, saya… Saya tak (mau) ngomong agak ndak enak ya, Pak. Sorry yee,” ucap K.H. Hasan Abdullah Sahal, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), memecah keheningan panggung kenegaraan dengan gaya khasnya.
Pernyataannya tegas, lugas, namun tetap mengundang simpul senyum. Di balik kelakarnya malam itu, tersimpan wibawa seorang ulama sejati yang senantiasa menjaga jarak aman dengan hiruk-pikuk politik praktis.
Baginya, membina umat melalui pendidikan adalah tugas abadi, tak peduli di institusi mana pun para alumninya kelak berkiprah.
Jejak Panjang Sang Pendidik: Dari Gontor hingga Al-Azhar
Lahir pada 24 Mei 1947 di Desa Gontor, Kiai Hasan seolah memang ditakdirkan untuk menghibahkan napasnya bagi pendidikan umat. Sebagai putra keenam dari K.H. Ahmad Sahal—satu dari tiga Trimurti pendiri Gontor—darah pendidik mengalir deras dalam nadinya.
Rekam jejak keilmuannya merentang jauh dari tanah kelahirannya. Setelah lulus dari Gontor pada 1965, ia menimba ilmu di Fakultas Dakwah dan Ushuluddin Universitas Islam Madinah pada 1967, hingga memperdalam keilmuan hadis di Universitas Al-Azhar, Mesir, pada 1992. Amanah sebagai pimpinan Gontor mulai diembannya sejak 1985.
Bersama pimpinan lainnya, Kiai Hasan merawat “wakaf cinta” peninggalan para pendiri, hingga Gontor yang dulunya dijuluki nggon kotor (tempat kotor) bertransformasi menjadi nggon inspirator dengan lahan mencapai 1.200 hektare.
Tantangan Kepemimpinan dan Jaminan “Boleh Diprotes”
Bagi Kiai Hasan, kebesaran fisik bukanlah capaian utama yang patut dibanggakan. Tantangan terberatnya adalah menjaga marwah dan integritas lembaga di tengah gempuran pragmatisme zaman. Kiai Hasan menetapkan standar moral yang luar biasa tinggi bagi kepemimpinannya.
Di hadapan ribuan santri dan tamu kenegaraan, ia melempar garansi integritas yang mungkin membuat merah telinga siapa pun yang gila takhta. “Kalau apa yang saya makan, apa yang saya pakai, apa yang saya tempati, apa yang saya kerjakan lebih daripada santri, boleh diprotes,” tegasnya lantang. Ia mempersilakan para santri untuk berdemonstrasi jika pemimpin mereka hidup bermewah-mewahan melebihi anak didiknya. Sebuah keteladanan tentang kepemimpinan yang melayani, bukan minta dilayani.
Menyentil Lewat Kelakar “Cari Muka”
Selain memegang teguh prinsip keadilan, Kiai Hasan juga mahir meramu ketegasan dengan humor satir. Saat menyinggung relasinya dengan penguasa, ia memilih diksi husnuzan (berprasangka baik). Selama presiden berprasangka baik pada pesantren, pesantren pun akan membalasnya dengan hal serupa.
Ia bahkan menyentil fenomena elite yang rela menggadaikan harga diri lewat kelakar jenaka tentang kekhawatirannya jika Presiden batal hadir. “Kalau itu terjadi, saya tidak tahu harus menaruh muka di mana. Akhirnya saya harus cari muka,” ujarnya yang disambut derai tawa. Sindiran tajam yang dibalut canda ini secara tersirat menohok mereka yang kerap mencari nama, jabatan, harta, hingga ijazah tanpa memiliki kapasitas jati diri yang pantas.
Warisan Pemikiran: “Indonesia Harus Diselamatkan”
Di usianya yang kian senja, dedikasi Kiai Hasan tak pernah luntur. Dampak dari perjuangannya terlihat dari ratusan ribu alumni Gontor yang kini tersebar di berbagai sektor pemerintahan dan akar rumput. Kendati demikian, kegelisahannya terhadap arah moral bangsa tak pernah padam. Baginya, sehebat apa pun sistem politik dan ekonomi sebuah negara, semuanya akan runtuh jika tidak dilandasi oleh akhlak manusia yang utuh.
Perjuangannya dalam merawat nalar dan moral bangsa terangkum padat dalam pandangannya akan masa depan negeri ini. Ia menolak masyarakat sekadar bernostalgia dengan sejarah kejayaan masa lalu, melainkan menuntut umat untuk cerdas membangun peradaban baru. Baginya, di tengah karut-marut tantangan zaman, ada satu urgensi mutlak yang harus diperjuangkan oleh setiap elemen bangsa.
Sebuah seruan pengingat yang amat relevan dan akan terus bergema sebagai warisan pemikirannya: “Pokoknya, Indonesia harus diselamatkan.”
Pada akhirnya, seruan Kiai Hasan bukan sekadar pidato seremonial yang menguap seiring selesainya acara kenegaraan. Di tengah bisingnya panggung elite tempat sebagian manusia sibuk “mencari muka” demi melanggengkan takhta dan menumpuk harta, pendirian teguhnya menjadi oase yang menampar nurani kita bersama.
Ia membuktikan bahwa kehormatan sejati seorang pemimpin tak diukur dari deretan fasilitas mewah yang dinikmati, melainkan dari seberapa lapang dadanya menerima protes saat hidupnya berjarak dari rakyatnya.
Pesan pamungkas Kiai Hasan melampaui batas tembok pesantren: menyelamatkan Indonesia tidak bisa diraih sekadar dengan janji manis politik atau infrastruktur yang menjulang tinggi. Bangsa ini hanya akan benar-benar selamat jika kita mulai menyelamatkan kewarasan, harga diri, dan akhlak manusianya terlebih dahulu.***





Tinggalkan Balasan