“Sinau ngarosake lan nyumerepi tunggalipun manungsa, tunggalipun rasa, tunggalipun asal lan maksudipun agesang.”

Belajar merasakan dan memahami bahwa manusia itu satu, rasa itu satu, berasal dari sumber yang sama, dan tujuan hidupnya pun satu.

Di sini, active learning melampaui batas kognitif. Ia menjadi laku empati. Kelas yang sesungguhnya bukan di antara empat dinding, melainkan di tengah kerumunan — di warung, di sawah, di lorong rumah sakit, di hadapan orang yang sedang susah. Penderitaan sesama bukan objek belas kasihan; ia adalah materi ajar yang paling jujur.

Dunia modern menyebutnya experiential learning atau social-emotional learning. Sosrokartono menyebutnya hidup.

Murid Seumur Hidup

Puncak dari seluruh bangunan pemikiran ini terangkum dalam satu kalimat pendek: “Tansah anglampahi dados muriding agesang” — selalu menjalani sebagai murid kehidupan.

Bukan murid sekolah. Murid kehidupan.

Konsekuensinya tidak kecil. Ia berarti tidak ada momen di mana seseorang boleh merasa sudah selesai belajar. Tidak ada titik di mana pengalaman berhenti mengajar. Setiap percakapan, setiap kehilangan, setiap keberhasilan orang lain — semuanya adalah teks yang menunggu dibaca.

Inilah yang membedakan Sosrokartono dari sekadar penyair kebatinan. Ia tidak menawarkan eskapisme spiritual. Ia menawarkan keterlibatan penuh dengan dunia sebagai jalan menuju kebijaksanaan.

Relevansi yang Tak Usang

Di era ketika informasi tersedia dalam hitungan detik namun kebijaksanaan terasa makin langka, wejangan Sosrokartono muncul kembali seperti pertanyaan yang belum terjawab. Apakah kita sudah benar-benar belajar, atau hanya mengonsumsi?

Orang tua yang mendorong anak berdialog — bukan sekadar menyerap ceramah — sedang menjalankan prinsip ini. Guru yang mengajak murid mengamati dunia di luar buku teks sedang berjalan di arah yang sama. Bahkan pemimpin yang mau turun dan mendengar keluhan warganya, tanpa agenda, sedang belajar dalam pengertian yang paling murni menurut Sosrokartono.

Balasannya, kata wejangan itu, adalah ayu lan arum — kebaikan dan keharuman. Bukan prestasi akademik, bukan pangkat, bukan rekognisi. Hanya kebaikan yang dirasakan orang di sekitar kita, dan nama yang harum karena cara kita hidup.