Filosofi Gundul-Gundul Pacul menggambarkan kekuasaan yang kehilangan kerendahan hati. Ketika pejabat bermain-main dengan amanah, kesejahteraan rakyat menjadi isi bakul yang pertama kali tumpah.

KOSONGSATU.ID – Tembang Gundul-Gundul Pacul menyimpan peringatan tentang kekuasaan. Seorang pemimpin digambarkan sedang memikul wakul atau bakul nasi di atas kepala, tetapi amanah itu akhirnya jatuh karena ia bersikap sombong dan ceroboh.

Wakul tersebut melambangkan kesejahteraan rakyat. Kepala menjadi lambang kehormatan, sedangkan pacul menggambarkan alat kerja yang harus digunakan untuk mengabdi. Saat kekuasaan dijalankan tanpa kerendahan hati, kepentingan masyarakat ikut tercecer.

Peringatan itu masih relevan ketika jabatan publik berubah menjadi jalan mengumpulkan kekayaan. Korupsi bukan hanya perkara mengambil uang negara, melainkan juga kegagalan seorang pemimpin menjaga amanah yang ditempatkan di atas kepalanya.

Budayawan Emha Ainun Najib atau Cak Nun pernah menyinggung hilangnya rasa malu para pelaku korupsi saat berbicara di hadapan mahasiswa Universitas Jember pada Selasa malam, 5 November 2013.

Menurut dia, pergeseran nilai sosial membuat kekayaan lebih dihormati dibandingkan kesalehan dan integritas seseorang.

“Kalau dulu orang yang dihormati itu orang yang alim, tetapi kalau sekarang orang yang kaya,” kata Cak Nun.

Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun. – Ilustrasi AI Generate

Ketika Kekayaan Mengalahkan Kehormatan

Perubahan ukuran penghormatan tersebut memberi ruang bagi pelaku korupsi untuk memamerkan kekayaan tanpa merasa perlu menjelaskan asal-usulnya. Rasa bersalah baru muncul setelah penegak hukum melakukan penangkapan.

“Koruptor itu akan menyesal karena satu hal, yakni ketika tertangkap. Bukan karena korupsi,” ujarnya.

Dalam filosofi Gundul-Gundul Pacul, keadaan itu menyerupai penggalan “gembelengan” atau sikap besar kepala. Pemimpin yang seharusnya berhati-hati membawa kebutuhan rakyat justru berjalan dengan pongah sambil mempermainkan tanggung jawabnya.